Berguru pada Senior

Adzan magrib bergema saat kami masih menanti menu yang sudah dipesan beberapa menit sebelumnya. Seorang anggota rombongan bertanya pada pemilik rumah makan di mana mereka bisa menunaikan shalat. “Di kamar belakang bisa, Pak. Tapi dekat sini juga ada musholla,” begitu jawab pemilik runah makan.

Mendengar jawaban tersebut, kami para anggota rombongan perempuan pun langsung berjalan menuju kamar yang ditunjukkan pemilik rumah makan. Kamar tersebut cukup luas, namun hanya memiliki satu mukena. Karena itu kami berempat pun bergantian mengenakan mukena tersebut.

Begitu saya memasuki kamar usai berwudhu, saya dapati dua ibu sedang bercakap sementara yang satu lagi menunaikan shalat. Sambil menunggu giliran, saya pun ikut bergabung dengan dua ibu tersebut.

“Saya pakai make up ini buat menutupi kekurangan, Dik,” kata ibu tersebut saat saya duduk di dekatnya. Saat saya bergabung, ibu tersebut sedang mengulaskan bedak pada wajahnya.

“Waktu saya masih seumuran kamu, saya juga nggak suka pakai make up. Sekarang karena sudah tua mau nggak mau pakai make up biar kerutnya nggak kelihatan,” sambung beliau lagi.

Saya sendiri hanya manggut-manggut mendengar penjelasan ibu itu. Memang di antara kami berempat, saya adalah yang paling muda, baik dari segi umur maupun masa kerja. Jika ditaksir, kemungkinan usia ketiga ibu tersebut tak jauh berbeda dengan ibu saya.

“Kalau saya mukanya cepat banget berkeringat, Bu. Jadi kalau pakai bedak cepat banget lunturnya. Bagusnya gimana, ya?” Tanya saya kemudian, berusaha mengimbangi pembicaraan ibu tersebut.

“Kalau begitu kamu pakai bedak tabur aja dulu, Dik. Makainya pakai kuas, terus dikasih es batu, baru pakai bedak padat,” saran ibu itu pada saya.

Saya lagi-lagi hanya manggut-manggut sambil membayangkan bagaimana ribetnya jika tiap hari saya harus berdandan seperti itu.

***

Beberapa hari kemudian, saat akan bersiap-siap ke kantor, mendadak saya teringat akan saran yang diberikan ibu tersebut. Usai mengenakan pelembab wajah, saya pun mengambil bedak tabur yang ada di atas lemari, lalu mengoleskannya ke wajah saya dengan kuas yang dulunya adalah milik adik saya. Karena tak ada waktu untuk mengoleskan es batu, langsung saja saya oleskan bedak padat di atas bedak tabur tadi.

Saya tak tahu apakah saran ibu tersebut manjur untuk wajah saya yang sering berkeringat. Namun sepertinya, saya mulai menyukai gaya mengenakan bedak yang baru saya ketahui ini.

Posted from WordPress for Android

38 pemikiran pada “Berguru pada Senior

  1. Coba pakai bedak translucen, wajah kelihatan alami, teteh kadang cukup pakai itu saja setelah pakai pelembab.

    Teteh jg gampang keringetan, netes2 malahan selama di Indo dan pas musim panas, ya pake itu saja jadinya 🙂

  2. aku pake gaya bedak kayak gitu setahun yg lalu, pake bedak tabur terus pake bedak padat, tapi nggak pakai acara es batuan,hehe..dan emank lumayan awet bedaknya dimuka dan tahunya juga dari adikku pas ngeliat dia make up, so iseng2 ngikutin eehh sampai sekarang deh 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s