[FF] Supervisor

Sosok itu berjalan memasuki ruangan tempatku bekerja selama beberapa bulan terakhir. Jangkung, kurus, dengan bahu sedikit membungkuk yang membuatnya terkesan ringkih. Usianya kutebak sekitar akhir tiga puluhan, dengan bibir menghitam akibat puluhan batang rokok yang diisapnya selama bertahun-tahun. Aku tak pernah menyukai pria perokok. Namun untuk sosok yang satu ini, sepertinya akan ada pengecualian.

Masih dengan gaya santainya sosok itu kini berjalan mendekati mejaku. Dari tempatku duduk bisa kulihat bagian depan rambutnya yang masih basah usai mengambil wudhu dan menunaikan salat (hal yang menurutku membuatnya terlihat dua kali lebih menarik). Meski begitu tetap saja kurasakan ketegangan yang meningkat seiring semakin dekatnya jaraknya dengan meja kerja yang kutempati. Kuperbaiki posisi dudukku agar terlihat lebih formal dan sopan di hadapannya.

“Gimana gambar dan perhitungan RAB-nya? Sudah selesai, belum?” tanyanya tanpa basa-basi begitu berdiri di sampingku.

Baca lebih lanjut

Menjadi Perencana

“Kamu nanti rencanakan pondasi buat instalasinya ya,” begitu kata seorang senior saya di kantor setelah kali pertama kami mengunjungi lokasi pertama pemasangan instalasi. Kala itu, karena masih bingung dengan instuksi yang diberikan, saya pun tak kunjung mengerjakan desain gambar yang diminta. Bahkan meski desain gambar instalasi yang akan dipasang sudah diberikan oleh sang senior, saya tetap kebingungan dengan desain pondasi yang harus saya rencanakan tersebut. Sampai kemudian, setelah lewat satu minggu, sang senior bertanya lagi, “Gimana rencana pondasinya? Ditanyain bos tuh. Jangan lupa peresmiannya bulan Februari.”

Mendengar kata “Bos” dan “peresmian” disebut oleh sang senior, saya langsung kelabakan. Segera saya berdiskusi dengan dua teman seangkatan di kantor soal pondasi yang akan digunakan. Saya juga meminta saran mereka dalam penggambaran pondasi bangunan serta titian yang akan dibangun. Untuk lebih memantapkan perencanaan, saya juga beberapa kali diikutkan dalam survey lokasi baru dari instalasi tersebut.

Sayangnya, begitu dilakukan peninjauan bersama kontraktor, diyakini kalau desain yang saya buat kala itu tidak akan sempat dikerjakan. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, dilakukan perubahan desain. Pondasi yang awalnya merupakan bangunan baru yang terbuat dari beton dialihkan dengan melakukan rehabilitasi pada rumah yang ada di lokasi instalasi. Dinding yang terbuat dari kayu akan dilapis gypsum, plafond gypsum juga akan ditambah, dan dinding rumah akan dilapis cat baru. Adapun untuk bangunan instalasi, nantinya akan ditempatkan di ruangan tengah, tentunya setelah dilakukan beberapa penambahan kayu pada pondasi rumah tersebut.

Baca lebih lanjut

Rezeki Jalan Santai

Beberapa waktu lalu, perusahaan tempat saya bekerja sekarang mengadakan acara Jalan Santai yang diikuti oleh seluruh karyawan perusahaan berikut anggota keluarganya. Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut ulang tahun perusahaan ke- 41, yang puncaknya Insya Allah akan dilangsungkan besok. Acara Jalan Santai sendiri dimulai sekitar pukul setengah delapan pagi, dengan rute memutari jalan Kolonel Sugiono berbelok ke arah pasar Jalan Jati, dan berakhir kembali di halaman kantor.

Ada cukup banyak hadiah yang diundi dalam acara Jalan Santai hari itu. Mulai dari hadiah hiburan berupa handuk, setrika, Rice Cooker, dispenser, kompor gas, ponsel, tablet,  kulkas, hingga sepeda motor.  Saya sendiri cukup beruntung hari itu karena berhasil membawa pulang sebuah dispenser berukuran cukup besar. Selain pengundian hadiah, acara hari itu juga diramaikan tembang Madihin yang dibawakan Jon Tralala (seniman tersohor Banjarmasin) bersama para kru-nya.

image

Proses Adaptasi dan Pencitraan Diri

Sudah hampir empat bulan sejak saya dan teman-teman yang lain bergabung di perusahaan yang sekarang. Seperti diketahui, hi hari kedua kami bekerja, pihak perusahaan langsung mengirim kami ke departemen-departemen tempat ilmu dan kemampuan kami diperlukan. Saya dan dua orang lain di departemen Aset, beberapa di Transmisi, beberapa di Produksi, dan satu orang di Keuangan.

Untuk mempererat hubungan antara kami semua, seorang teman kemudian membuat grup di Whatsapp khusus untuk angkatan kami. Sayangnya tidak semua teman satu angkatan bergabung di grup ini. Beberapa teman tidak memiliki akun whatsapp, sementara yang lain mungkin terlalu sibuk dengan tugasnya sebagai operator sehingga memilih tak bergabung.

Saya sendiri, hingga bulan ke empat bekerja, masih berusaha beradaptasi dengan orang-orang dan ritme kerja di divisi tempat saya ditempatkan. Alhamdulillah hingga hari ini mereka semua memperlakukan saya dan teman-teman dengan cukup baik, sehingga kami merasa cukup nyaman dalam bekerja. Saya sendiri merasa cukup beruntung karena berada satu departemen dengan salah satu teman SMA, yang tentunya sangat membantu saya dalam proses adaptasi ini. Untuk saat ini, proses adaptasi ini juga masih terus berjalan mengingat adanya penambahan pegawai baru dan pergantian supervisor serta manajer.

Baca lebih lanjut

Berguru pada Senior

Adzan magrib bergema saat kami masih menanti menu yang sudah dipesan beberapa menit sebelumnya. Seorang anggota rombongan bertanya pada pemilik rumah makan di mana mereka bisa menunaikan shalat. “Di kamar belakang bisa, Pak. Tapi dekat sini juga ada musholla,” begitu jawab pemilik runah makan.

Mendengar jawaban tersebut, kami para anggota rombongan perempuan pun langsung berjalan menuju kamar yang ditunjukkan pemilik rumah makan. Kamar tersebut cukup luas, namun hanya memiliki satu mukena. Karena itu kami berempat pun bergantian mengenakan mukena tersebut.

Begitu saya memasuki kamar usai berwudhu, saya dapati dua ibu sedang bercakap sementara yang satu lagi menunaikan shalat. Sambil menunggu giliran, saya pun ikut bergabung dengan dua ibu tersebut.

Baca lebih lanjut