Pilihan

Hari Sabtu lalu saya menghadiri acara Daurah Pernikahan yang diadakan oleh sebuah lembaga pernikahan di kota saya. Dihadiri oleh beberapa belas ihwan dan puluhan akhwat, acara ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama membahas tentang dasar-dasar pernikahan. Sedangkan sesi kedua diisi dengan materi tentang hal-hal yang kekuatan yang harus disiapkan sebelum menjalani pernikahan.

Tentang kekuatan yang harus disiapkan dalam menjalani pernikahan, pemateri membaginya menjadi enam macam. Mereka adalah kekuatan ruhiyah, kekuatan pikiran/wawasan, kekuatan emosi, kekuatan fisik, kekuatan ekonomi, dan kekuatan interaksi sosial.

Selain tentang enam kekuatan tersebut, pemateri juga membagi rahasia mengetahui keseimbangan hormon seseorang yang bisa dilihat dari kuku. Jadi, jika kita perhatikan kadang pada bagian dasar kuku terdapat bayangan putih berbentuk bulan sabit terbalik. Nah, jika pada kedua jempol kita terdapat bulan sabit terbalik tersebut, maka insya Allah hormon kita seimbang. Namun jika di semua kuku terdapat bulan sabit tersebut, maka katanya hormonnya tidak seimbang.

Pada sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan muncul berkaitan tentang bagaimana harus memilih jodoh yang baik. Ada juga yang curhat tentang usahanya yang belum membuahkan hasil, juga ada yang mengajukan kasus tentang seorang yang belum menikah karena harus menghidupi keluarganya.

Saya sendiri memberanikan bertanya tentang bagaimana jika seseorang yang ingin menikah namun terkendala kontrak kerja yang melarangnya untuk menikah sekian tahun (seperti saya). Untuk pertanyaan saya, pemateri memberikan jawaban yang cukup lugas dan menohok. “Itu semua masalah pilihan. Apakah seseorang memutuskan untuk menunda menikah karena harus menghidupi keluarganya atau karena (kontrak) pekerjaannya, itu berarti dia sendiri yang menunda rezeki dari Allah,” begitu kira-kira jawaban pemateri.

Jujur saya sedikit merasa tertohok dengan jawaban tersebut. Namun jika dipikir lagi, bukankah sebenarnya saya juga memang sudah siap dengan konsekuensi tersebut saat tahu diterima di kantor yang sekarang? Saya ingin menikah secepatnya, namun di lain pihak saya juga berat melepas pekerjaan yang baru saya dapatkan. Dan sebagai konsekuensinya, saya harus rela menunggu hingga diangkat menjadi pegawai (tapi kalau misalnya memang ketemu jodoh juga sebelum diangkat bisa jadi akan dicari jalan keluar lain :D)

“Kadang setan menggoda kita dengan kebaikan,” begitu tambah pemateri terkait jawabannya atas pertanyaan saya. Seseorang yang tidak jadi shalat dhuha karena takut dibilang riya. Seseorang yang menunda menikah karena harus menafkahi keluarganya. Dua hal di atas bisa menjadi contoh dari kalimat yang disebutkan pemateri tersebut. Riya memang salah satu penyakit hati yang harus dihindari. Namun jika karena masalah takut dibilang riya seseorang tidak menjalankan ibadah sunah, maka jelas juga bukan hal yang baik. Begitu juga dengan menafkahi keluarga. Hal tersebut baik dilakukan. Namun jika itu membuat seseorang untuk menikah, bukankah itu berarti menghalangi kebaikan yang lain?

Kembali lagi ke masalah pilihan, bisa dibilang hidup ini sendiri pada dasarnya melulu masalah pilihan. Bahkan saat kita tidak memilih pun, kita sudah memilih, begitu kata ustad Felix. Saya kadang membayangkan bagaimana Allah mengatur jalan hidup kita melalui pilihan-pilihan yang kita ambil. Setiap pilihan memiliki skenarionya sendiri. Apakah pilihan A akan mendekatkan kita kepada kebaikan, atau malah sebaliknya menjauhkan kita dari kebaikan itu dan mengharuskan kita berjalan lebih jauh lagi untuk bisa mencapainya. Pilihan-pilihan yang kita ambil semasa hidup bisa jadi akan menentukan bagaimana warna dari perjalanan hidup kita. Namun satu hal yang saya yakini, Allah pasti sudah menyiapkan sebuah akhir bagi kita.

36 pemikiran pada “Pilihan

  1. semoga pilihan yang sudah diputuskan membawa mbak Yana pada kebaikan yang terindah sesuai denga yang diharapkan ya, aamiin 🙂

  2. ” Namun satu hal yang saya yakini, Allah pasti sudah menyiapkan sebuah akhir bagi kita.” –> dan kita yang memilihnya untuk menjadi seperti apa.

    cemungudh 😀

  3. “Nah, jika pada kedua jempol kita terdapat bulan sabit terbalik tersebut, maka insya Allah hormon kita seimbang. Namun jika di semua kuku terdapat bulan sabit tersebut, maka katanya hormonnya tidak seimbang.” Wah, kalo gitu, pas saya lihat jari saya-saya gak seimbang dunk, Ukhti..he.

    Kalo yakin, bahwa rezeki itu bukan datang dari tempat kerja ukhti sekarang saja, maka cepatlah menikah dan gak kerja lagi dsana…(kdang setan menggoda dengan kebaikan..)

  4. pensaran ama kuku haha. Ehhh Yan, aku pernah punya temen yang nikah pas masa tugasnya loh 🙂 jadi gak dirame2in gitu sampe kontraknya kelar cuman masalahnya dia jadi harus nunda hamil hehe

  5. tentang kekuatan finansial sebelum menikah..
    hanya berpegang pada perkataan Nabi, “pilihlah agamanya maka kau akan selamat”
    alhamdulillah setelah menikah ada aja rejeki yang masuk

    oiya ada saudara yg juga gitu,terikat kontrak kerja dan ga boleh nikah dulu selama 2 tahun, akhirnya nikah siri, setelah kontraknya berakhir baru nikah resmi

    wondering, siapa yang awalnya bikin peraturan kalau terikat kontrak kerja di perusahaan tertentu ga boleh nikah selama beberapa waktu ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s