Selina Story : Midnight Talk

Cerita sebelumnya di sini.

Tak terasa sudah tinggal menghitung hari dari rencana pernikahan Adam dengan Tiara. Di luar dugaan Selina, tak ada masalah yang cukup berarti dalam mempersiapkan pernikahan ini. Administrasi pernikahan selesai hanya dalam waktu tiga hari. Undangan, catering dan salon juga tak sulit untuk didapat. Bahkan untuk gedung yang diperkirakan paling sulit didapat, ternyata berhasil disewa satu minggu sebelum acara. Bisa jadi ini karena kedua pihak orang tua merupakan para pegawai pemerintah yang memiliki banyak koneksi dan relasi.

Selina sendiri dalam beberapa hari terakhir juga turut disibukkan dengan segala persiapan akhir dari rencana pernikahan tersebut. Membantu Adam menyebar undangan (entah itu untuk kawan sekolah atau kawan kuliah), menyiapkan souvenir pernikahan, hingga bersama-sama dengan Vania membantu Tiara memilih salon dan gaun yang akan ia kenakan di hari pernikahan nanti

Tentang pertemuannya dengan Vania dan Tiara sendiri, semuanya berjalan cukup lancar. Ponselnya berbunyi tepat saat Selina sudah berada di luar kafe, sehingga kecil kemungkinan Tiara dan Vania mengetahui kehadirannya. Selina juga cukup berhasil menampilkan ekspresi terkejut saat ia berhadapan dengan Vania. Dan layaknya sahabat yang lama tak bersua, ketiganya kemudian terlibat percakapan yang cukup akrab hingga senja menjelang.

Meski begitu harus diakui setelah pertemuan tersebut, sebuah penilaian baru muncul di kepala Selina akan sosok Tiara. Ini tentu saja berkaitan dengan terbongkarnya bagaimana pendapat Tiara yang sebenarnya terhadapnya. Selina kini merasa ia lebih menghormati dan menyukai Tiara. Dia bukan hanya gadis yang baik, namun juga sangat menjaga perasaannya sebagai sahabat Adam. Selina kini akhirnya mengerti mengapa selama keberadaan mereka di kota ini, Tiara seolah tak mau terlalu memperlihatkan kebersamaannya dengan Adam. Selina juga mendadak sadar dalam beberapa kali pertemuan mereka, Tiara tak bercerita banyak tentang dirinya dan Adam pada Selina. Yang ada, dirinyalah yang terus-menerus menceritakan Adam dan segala kelakuannya anehnya. Tiara seolah membiarkan Selina melepaskan segala perasaannya pada Adam di hadapannya.

Berbeda dengan dirinya, sang ibu tampaknya masih belum bisa menerima dengan ikhlas rencana pernikahan Adam dengan Tiara. Sejak dulu ibunya memang sangat menyukai Adam. Bahkan selama beberapa tahun terakhir ibunya dengan terang-terangan menginginkan Adam bisa menjadi menantunya (tentunya itu hanya disampaikan di depan Selina). Dan bayangkan bagaimana kecewanya sang ibu ketika Selina datang membawa kabar pernikahan Adam dengan Tiara. “Kamu sih nggak suka dandan. Jadinya Adam kecantol sama Tiara, deh,” begitu kata ibunya kala itu, yang sukses membuat Selina memanyunkan bibirnya.

Perihal dirinya yang tak suka berdandan, rasanya memang sudah bukan hal baru lagi. Bukan hanya ibunya sebenarnya yang mempermasalahkan gaya Selina yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu. Rambut merahnya yang selalu dipotong sebatas kuping dengan model yang nyaris menyerupai model rambut pria kerap menjadi bahan candaan Adam saat mereka kuliah. “Orang yang tidak mengenalku pastilah mengira aku ini gay. Lihat! Bahkan rambutku lebih panjang dari rambutmu,” begitu katanya.

Kalau dipikir-pikir, mungkin kata-katanya ibunya benar. Meski sebenarnya Selina merasa Tiara juga bukan gadis yang suka berdandan, namun jelas sekali terlihat kalau gadis itu pandai merawat diri. Rambut coklatnya selalu terlihat rapi, entah itu dibiarkan tergerai atau dikuncir seadanya. Kulitnya meski tak seputih Selina terlihat sangat sehat dan halus. Belum lagi pilihan pakaian yang dikenakannya. Benar-benar berbanding terbalik dengan pilihan pakaian Selina yang selalu bergaya maskulin dan seadanya.

Kalau sudah begini, ingin rasanya Selina memutar waktu dan berharap Adam pulang lebih cepat (setidaknya sebelum ia bertemu dengan Tiara). Dengan begitu dia akan menemukan Selina yang sekarang tak secuek Selina yang dulu. Gayanya memang masih maskulin. Tapi setidaknya untuk saat ini Selina sudah bisa sedikit berdandan. Sayangnya, sekarang semua sudah terlambat. Adam telah menjatuhkan pilihannya. Dan Selina bukanlah gadis menyebalkan yang berusaha merebut cinta sahabatnya di detik-detik pernikahannya.

***

Jam di kamarnya sudah menunjukkan angka sepuluh saat ponsel Selina tiba-tiba berbunyi. Selina yang sedang sibuk dengan blog toko bayinya segera meraih ponsel yang terletak di sampingnya. Adam, begitu nama yang tertera pada layar ponselnya.

“Ada apa, Adam?” tanya Selina sambil matanya tetap sibuk menatap layar di hadapannya.

“Aku ada di depan. Kau bisa turun sebentar dan membukakan pintu untukku?” jawab Adam di ujung telepon.

“Depan? Depan mana maksudnya?”

“Di depan tokomu Selina.”

Masih dengan ponsel yang menempel di telinganya, Selina berjalan mendekati jendela kamarnya. Dari situ dilihatnya sosok Adam berdiri tepat di depan jendela. Badan jangkungnya hanya berbalut celana jeans belel dan kaos oblong berlapis jaket. Segera saja Selina turun ke lantai bawah untuk menemui sahabatnya itu.

“Kamu ngapain ke sini malam-malam begini?”

Adam tidak memberikan jawaban. Ia kini malah dengan santainya masuk ke toko dan langsung menuju pantry yang terletak di belakang. Tanpa minta persetujuan Selina, Adam kemudian menyeduh minumannya sendiri.

“Jangan bilang kalau saat ini kau kena sindrom pria yang akan menikah, Adam,” Selina berkata lagi. Ia kini menarik kursi di hadapan Adam dan mendudukinya. Adam masih tak mau bersuara. Teh yang diseduhnya kini sudah tandas. Dan kini ia mulai mengetukkan jari-jarinya ke pinggiran cangkir, tanda kalau ia sedang gelisah.

“Aku tak pernah berpikir akan menikah di usia dua puluh lima tahun,” akhirnya Adam mulai berbicara.

Selina menghela nafas. Tepat seperti dugaannya, Adam kini dilanda keraguan akan keputusannya menikah. Hal yang sering disebut Selina sebagai sindrom pra-nikah. Dalam film-film sudah cukup sering ia menemukan tokoh utama pria yang mendadak diserang sindrom seperti ini. Selina sendiri tak pernah menyukai para tokoh pria tersebut. Dan kini, sindrom yang sama tiba-tiba menyerang sahabatnya.

“Bukannya kau sendiri yang mengatakan saat melihat Tiara kau sudah yakin dialah yang akan menjadi pendamping hidupmu?”

“Aku tahu. Tapi entahlah. Aku mendadak takut. Bagaimana jika pernikahan ini tidak berjalan lancar. Bagaimana jika kami ternyata bukan pasangan yang cocok? Kau tahu, kan? Kami baru bersama selama tiga bulan.”

Selina terdiam sesaat. Untuk sesaat hati kecilnya berkata, ini sebenarnya saat yang sangat tepat untuk bisa membuat Adam memikirkan kembali keputusannya. Dia bisa mulai dengan berkata kalau ia setuju hubungan Adam dan Tiara memang terlalu singkat untuk bisa langsung naik ke jenjang pernikahan. Kalau mereka berdua perlu mengenal lebih lama lagi. Bahkan bisa juga Selina menyebutkan beberapa kekurangan Tiara yang berhasil ia ketahui selama beberapa hari menemani gadis itu memilih gaun pengantinnya.

Namun kemudian ia teringat pada Tiara, calon istri sahabatnya. Gadis itu, dan segala pengertian yang diberikannya pada Selina sejak mereka berkenalan telah membuat Selina jatuh simpati. Ya, hingga saat ini dia memang masih merasa berat melepaskan Adam. Namun jelas bukan hal yang baik merusak pernikahan sahabatmu sendiri. Alih-alih mendapatkan hatinya, bisa-bisa Selina malah kehilangan sahabatnya.

“Tiara gadis yang baik. Aku tidak melihat ada yang salah dengannya,” kata Selina akhirnya.

“Hmm… jadi kau benar-benar setuju dengan pilihanku?”

“Tentu saja.”

“Yah, padahal aku tadi mengharapkan kau memberikan jawaban sebaliknya.”

Selina mengerutkan keningnya. Perlu waktu beberapa detik baginya untuk menyerap maksud kalimat yang diucapkan Adam padanya. Bertahun-tahun menjalin persahabatan, dia tentu hafal sekali dengan kebiasaan Adam yang kerap mengungkapkan kalimat dengan arti yang tersirat.

“Ah, Sial! Jadi kau sedang mengerjaiku? Kupikir kau tadi benar-benar ragu dengan pernikahanmu. Dasar kau, Adam!” akhirnya Selina hanya bisa bersungut-sungut sendiri saat sadar dirinya telah dikerjai Adam. Bahkan di saat akan menghadapi hari penting dalam hidupnya, sahabatnya itu masih sempat menggodanya. Sial! Umpat Selina dalam hati.

Adam sendiri langsung tertawa lepas ketika melihat Selina yang merengut di hadapannya. “Ah, aku pasti akan sangat merindukan saat seperti ini, Selina,” katanya kemudian.

“Yah, biar bagaimanapun waktunya pasti akan tiba, bukan? Kita akan menemukan jodoh kita masing-masing.”

“Iya. Walaupun aneh rasanya mendahuluimu seperti ini. Kau tahu, aku selalu membayangkan dirimu yang menikah lebih dulu dari aku.”

“Kurasa itu karena aku selalu bersamamu, akhirnya tak ada pria yang mau mendekatiku.”

“Ah, jadi ini salahku, ya?”

Selina tersenyum.

“Jangan khawatir. Setelah ini kau pasti akan segera menemukan jodohmu.”

“Ya, semoga saja.”

Keduanya kini terdiam. Malam semakin larut, namun Adam tak menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak dari kursinya. Selina pun memilih untuk tetap dia di kursinya. Mungkin ini adalah terakhir kalinya ia bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Adam. Dan Selina ingin menikmati setiap detik berharga ini.

26 pemikiran pada “Selina Story : Midnight Talk

  1. Ping balik: Selina Story : Another Bestfriend [part 2] | SAVING MY MEMORIES

  2. Ping balik: Selina: Midnight Talk | New-Rule

  3. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s