Selina Story : Another Bestfriend [part 2]

Cerita sebelumnya di sini.

Selina menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu keluar kafe Aroma. Sejak beberapa menit yang lalu, beberapa orang tampak mulai memasuki kafe tersebut. Rata-rata dari mereka adalah para pekerja kantoran dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuh mereka. Maklumlah, kafe ini memang berada di sebuah komplek perkantoran. Selina kemudian nelirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Pukul empat dua lima, masih lima menit jelang pertemuannya dengan Tiara dan sudah tiga puluh menit berlalu setelah ia meninggalkan toko.

Saat setuju untuk bertemu dengan sahabat yang ingin diperkenalkan Tiara padanya, sebenarnya belum terpikir di benak Selina untuk melakukan hal yang dilakukannya sekarang. Dalam pikirannya pertemuan ini takkan berbeda dengan pertemuan para perempuan pada umumya. Mereka berkenalan sebentar, merasa canggung di awal, untuk kemudian ikut tertawa dalam obrolan yang tercipta.

Kemudian, entah dari mana pemikiran itu muncul. Tidakkah ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan rasa penasarannya? Tiara akan bertemu sahabat dekatnya. Pasti ada banyak hal yang akan mereka ceritakan. Tentang kabar terbaru, tentang rencana pernikahan, dan bukan tidak mungkin bukan akan ada nama Selina di dalam percakapan mereka nanti?

Baca lebih lanjut

Pulau Bromo

Pulau Bromo, itulah nama lokasi yang kami kunjungi hari itu. Entah dari mana nama tersebut berasal. Daerah ini terletak di kelurahan Mantuil, sebuah kawasan yang dulunya merupakan salah satu pusat pengolahan kayu di Banjarmasin. Saya sendiri mengenang Mantuil sebagai tempat persinggahan saat akan berkunjung ke rumah nenek beberapa tahun lalu. Entah itu untuk membeli bensin dari klotok yang kami gunakan, atau untuk membeli keperluan lainnya.

Meski saat ini sudah tak terlihat lagi rumah-rumah lanting, namun di sepanjang pesisir sungai masih bisa kita temukan rumah-rumah yang berdiri dengan tiangnya yang menancap di sungai. “Jika angin ribut menyerang, maka rumah ini akan bergoyang,” begitu kata salah satu pemilik rumah yang kami singgahi hari itu. Sebuah titian panjang juga dibangun sebagai sarana penghubung daerah ini dengan dunia luar. Jujur saya sulit membayangkan motor bisa melewati titian kayu tersebut. Namun nyatanya, hari itu saya melihat sendiri bagaimana sebuah motor dengan santainya berlari di atas titian. Yang lebih mengejutkan lagi, ibu di rumah tersebut juga mengatakan kalau hingga tengah malam titian tersebut tak pernah sepi dilewati kendaraan bermotor. “Biasanya sih mereka yang baru pulang dari jalan-jalan di kota,” begitu kata ibu tersebut.

Kedatangan kami ke Pulau Bromo sendiri dalam rangka survey lokasi untuk sebuah proyek di kantor. Meski terletak di dekat sungai, daerah Pulau Bromo ini termasuk wilayah yang masih mengalami kesulitan dalam pengadaan air bersih. Sulit di sini dalam artian tak ada sambungan langsung ke rumah-rumah yang ada di wilayah tersebut. Untuk mendapatkan air bersih, mereka biasanya membeli dari rumah-rumah di seberang yang sudah memiliki sambungan air bersih. Dengan adanya proyek ini, diharapkan tahun 2014 nanti warga Pulau Bromo sudah tak lagi kesulitan dalam mendapatkan air bersih.

Mencoba Beras Merah di Rumah Makan Lauku

Usai menyetorkan hafalan di ma’had Umar bin Khattab, saya dan dua orang teman kerap berkumpul kembali untuk saling bercerita sekaligus makan malam. Biasanya tempat makan yang kami pilih tak jauh-jauh dari lokasi ma’had yang terletak di jalan Gatot Subroto. Entah itu Ayam Wong Solo atau Ayam Goreng Kudus, yang kebetulan menyediakan tempat untuk shalat di dalamnya.

Namun untuk minggu kemarin, saya dan Nisa memutuskan mencoba suasana baru. Rumah makan Lauku menjadi pilihan kami hari itu. Kebetulan saya juga sudah cukup lama penasaran dengan rumah makan yang menyediakan beras merah ini. Tambahan lagi, letaknya juga sejalur dengan arah rumah kami.

Usai melaksanakan shalat magrib di mesjid raya Sabilal Muhtadin, saya dan Nisa langsung melajukan motor kami menuju rumah makan yang letaknya tak jauh dari mesjid raya tersebut. Beberapa anak muda tampak sudah mengisi kursi-kursi kayu bersandaran tinggi yang ada di rumah nakan tersebut. Kami pun mulai memesan. Ayam ras untuk saya dan ayam kampung untuk Nisa, keduanya dengan beras merah. Dua menu ini merupakan menu paketan dengan harga Rp. 25.000,00 per porsinya.

Baca lebih lanjut

[BeraniCerita #40] Amplop Putih

Sandra tertegun. Matanya menatap benda yang kini ada di hadapannya. Sebuah amplop putih berada di tumpukan paling atas berkas yang baru saja diserahkan padanya lewat sebuah map. Sandra kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok di hadapannya. Aini, gadis awal dua puluhan itu tersenyum canggung padanya.

“Apa ini?” Tanya Sandra kemudian.

“Itu titipan dari pak Dody, Bu,” jawab Aini.

“Dalam rangka apa?”

“Katanya sebagai ucapan terima kasih.”

Sandra terdiam sejenak. Terbayang olehnya bagaimana dulunya ia hanya bisa menatap dari balik kubikelnya dengan prihatin setiap kali salah satu rekannya yang lain menerima amplop putih tersebut. Dan kini, setelah tiga tahun bekerja di kantor ini, akhirnya tiba juga dirinya pada fase tersebut. Sandra menghela nafas. Diraihnya amplop putih tersebut.

“Ini berkasnya saya terima. Tapi untuk amplopnya tidak bisa saya terima. Kamu kembalikan saja, ya?” kata Sandra sembari menyerahkan amplop putih tersebut pada Aini.

“Tapi kata pak Dody amplop itu harus diserahkan pada ibu.”

“Bilang saja sama pak Dody ucapan terima kasihnya sudah saya terima. Tapi saya tetap nggak bisa mengambilnya.”

Akhirnya Aini tak bisa berkata apa-apa lagi. Diambilnya amplop putih tersebut dari tangan Sandra, dan langsung dimasukkannya ke saku bajunya.

“Kalau kamu tidak ada urusan lagi, kamu boleh pergi. Saya masih ada yang dikerjakan,” ujar Sandra kemudian.

***

Baca lebih lanjut

Selina Story : Another Bestfriend

Cerita sebelumnya di sini

Ada tiga hal yang mungkin kau rasakan saat sahabat yang kau cintai memperkenalkan dirimu dengan kekasihnya. Pertama, kau akan membenci kekasihnya setengah mati dan bersikap tak baik padanya. Kedua, kau membenci kekasihnya  namun berusaha menutupinya dengan bersikap baik pada kekasih sahabatmu. Atau bisa juga kau akan memilih yang terakhir, kau menyukai kekasihnya tersebut dan menjadikannya sahabatmu yang baru.

Bagi Selina sendiri, kemungkinan pertama jelas tak mungkin terjadi. Tiara adalah gadis yang cukup menarik. Dia manis dan pintar. Bahkan saat pertama kali bertemu, Selina langsung tahu bahwa dialah pasangan yang paling cocok untuk Adam. Seolah ada aura tersendiri saat melihat mereka bersama, yang membuat Selina mau tak mau harus setuju dengan pilihan sahabatnya itu.

Meski begitu, bukan berarti juga Selina bisa benar-benar menjadikan Tiara sebagai sahabat barunya. Biar bagaimanapun ada rasa tak nyaman dalam diri Selina jika harus berakrab ria dengan gadis mungil bermata sipit tersebut. Rasa cemburu dan kemungkinan Tiara mengetahui perasaannya pada Adam menjadi alasan mengapa Selina merasa perlu menjaga jarak dengan Tiara.

Baca lebih lanjut