Selina Story : Another Bestfriend [part 2]

Cerita sebelumnya di sini.

Selina menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu keluar kafe Aroma. Sejak beberapa menit yang lalu, beberapa orang tampak mulai memasuki kafe tersebut. Rata-rata dari mereka adalah para pekerja kantoran dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuh mereka. Maklumlah, kafe ini memang berada di sebuah komplek perkantoran. Selina kemudian nelirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Pukul empat dua lima, masih lima menit jelang pertemuannya dengan Tiara dan sudah tiga puluh menit berlalu setelah ia meninggalkan toko.

Saat setuju untuk bertemu dengan sahabat yang ingin diperkenalkan Tiara padanya, sebenarnya belum terpikir di benak Selina untuk melakukan hal yang dilakukannya sekarang. Dalam pikirannya pertemuan ini takkan berbeda dengan pertemuan para perempuan pada umumya. Mereka berkenalan sebentar, merasa canggung di awal, untuk kemudian ikut tertawa dalam obrolan yang tercipta.

Kemudian, entah dari mana pemikiran itu muncul. Tidakkah ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan rasa penasarannya? Tiara akan bertemu sahabat dekatnya. Pasti ada banyak hal yang akan mereka ceritakan. Tentang kabar terbaru, tentang rencana pernikahan, dan bukan tidak mungkin bukan akan ada nama Selina di dalam percakapan mereka nanti?

Karena itulah beberapa puluh menit lalu, Selina mengirimkan pesan pada Tiara yang mengabarkan kalau ia mungkin akan datang terlambat karena ada yang harus diselesaikan di toko. Ia kemudian berangkat menuju kafe Aroma setengah jam sebelum pertemuan. Menunggu Tiara dengan sabar di depan pintu masuk tanpa ada yang bisa melihat sosoknya. Ya, hari ini dia akan menguping pembicaraan Tiara dan sahabatnya.

Selina sendiri sebenarnya tak suka pekerjaan menguping. Tak pernah suka. Bahkan meski jasa pengintai yang dijalankannya mengharuskan dirinya mendengarkan pembicaran objek yang diintai, Selina selalu melakukanya dengan setengah hati. Baginya menguping itu tak jauh berbeda dengan pekerjaan para pencuri. Mengendap-endap agar tak ketahuan, dan berusaha mendapatkan hal yang berharga. Karena itulah selama ini ia nyaris tak pernah menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi. Yah kecuali saat dirinya terlambat masuk kelas dan harus menghilang agar tak terkena hukuman.

Tepat pukul empat tiga puluh sosok itu kemudian muncul. Kulitnya putih langsat, dengan mata besar dan hidung yang mungil. Rambut hitam kecoklatannya kini sudah melewati bahunya. Masih dengan pakaian kerjanya, gadis itu berjalan memasuki kafe Aroma.

Vania, sejak berhasil mempertemukan gadis itu dengan pria yang disukainya, Selina sudah tak pernah bertemu lagi dengannya. Meski begitu, dia cukup tahu kabar-kabar terbaru gadis itu. Baik dirinya dan Vania masih cukup sering berkomunikasi melalui pesan pendek di ponsel mereka. Selina memang selalu berusaha tetap berhubungan dengan orang-orang yang pernah menggunakan jasa pengintai miliknya. Kau tidak tahu kan jika satu saat nanti kau yang perlu bantuan mereka? Begitu prinsipnya.

Sambil masih berdiri di dekat pintu masuk, mata Selina mengekori sosok Vania yang kini sudah memilih salah satu tempat duduk di dalam kafe. Ia memilih sebuah meja dengan empat kursi, dan duduk menghadap pintu masuk. Berarti saat ini Vania sedang ada janji dengan seseorang. Kekasihnyakah? Tanya Selina dalam hati.

Belum lagi pertanyaannya terjawab, sosok Tiara muncul. Kali ini gadis itu terlihat segar dengan terusan selutut motif bunga-bunga. Rambut coklatnya diikat ekor kuda. Sesaat, pandangan Tiara menyusuri sudut-sudut kafe. Dia kemudian tersemyum dan berjalan menuju sebuah meja. Tanpa menunggu lagi, Selina segera mengikuti sosok Tiara. Dan kali ini lagi-lagi ia dibuat terkejut ketika menyadari dirinya sedang berjalan ke meja Vania.

***

Saat pertama kali dikenalkan dengan Tiara, Selina sempat penasaran mengapa sepertinya Tiara sangat senang bertemu dirinya. Kala itu Selina berpikir Adam-lah yang banyak bercerita tentang dirinya pada Tiara. Namun kini, setelah tahu kalau Tiara bersahabat dengan Vania, Selina yakin bukan hanya Adam yang membuat Tiara begitu antusias saat bertemu dengannya.

Dalam pikirannya, Selina mulai menyusun dua skenario tentang bagaimana namanya bisa muncul dalam percakapan Tiara dengan dua orang yang dikenalnya tersebut. Kemungkinan pertama, bisa jadi Adam-lah yang pertama kali bercerita tentang adanya sosok sahabat perempuan dalam hidupnya. Lalu Tiara yang merasa sedikit cemburu akan bercerita pada Vania, dan ternyata setelah mengetahui nama sang sahabat, Vania malah bercerita balik tentang dirinya.

Kemungkinan kedua, Vania yang pertama kali memunculkan nama Selina lewat ceritanya tentang bagaimana ia bertemu dengan Irwan, kekasihnya saat ini. Kemudian tak lama, Adam juga bercerita memiliki sahabat yang bisa menghilang. Dan Tiara, dengan otak cemerlangnya tentu tak kan kesulitan mengambil kesimpulan bahwa orang yang diceritakan Vania dan Adam adam orang yang sama. Dan dengan kenyataan dua orang yanh terdekat dengannya sama-sama memiliki hubungan dengan Selina, tentulah hadir rasa penasaran yang begitu besar dalam diri Tiara.

Masih dengan sosoknya yang tak kasat mata, Selina memperhatikan dua perempuan di hadapannya. Keduanya baru saja memesan menu mereka masing-masing. Capoucino dan pancake untuk Vania, sedang Tiara memilih hot chocolate dan french fries untuk dirinya sendiri. Sambil menunggu pesanan mereka diantar, dua sahabat ini mulai mengobrol.

“Bagaimana persiapan pernikahanmu, Tiara? Semua lancar?” tanya Vania.

“Kami baru selesai mengurus administrasi kemarin. Orang tuaku masih mencari gedung untuk resepsi. Yah semoga saja dalam beberapa hari kami bisa mendapatkannya. Untuk salon dan catering kurasa takkan ada masalah.”

Seorang pramusaji kemudian tiba di meja mereka, dan mengansurkan pesanan kedua perempuan tersebut. Selina menggeser sedikit tubuhnya agar tak tersenggol si pramusaji.

“Oh ya. Kau sudah bertemu dengan Selina?” tanya Vania lagi. Tangannya mengaduk-aduk cappucino di hadapannya.

Tiara menganggukkan kepalanya. “Beberapa hari yang lalu Adam mengajaknya ke rumah orang tuaku.”

“Lalu, apakah kau menyukainya?”

Tiara menyesap coklat panasnya, kemudian berkata, “Dia gadis yang baik. Tapi aku merasa sedikit tak enak padanya.”

Mendengar jawaban Tiara tersebut, sontak Selina merasa degup jantungnya meningkat. Tiara merasa tak enak padanya? Kenapa?

“Kenapa kau berkata begitu?” tanya Vania lagi, seolah-olah menyuarakan isi hati Selina

“Dia mencintai Adam, Vania.”

Deg! Degup jantung Selina terasa semakin cepat.

“Kau yakin?”

“Sangat yakin, Vania. Entah bagaimana bisa Adam tak menyadari hal ini selama bertahun-tahun. Namun di mataku jelas sekali terlihat kalau Selina mencintainya. Cara dia bercerita tentang Adam. Caranya menatapnya. Kadang aku merasa seperti seorang perempuan yang telah merebut kekasihnya.”

Tiara terdiam sejenak. Begitu juga Vania. Keduanya seolah mencerna pembicaraan yang sedang mereka lakukan. Sementara di antara mereka, sosok Selina yang tak kasat mata merasa dirinya ingin meledak.

“Dia mengenal Adam lebih lama dariku. Pasti berat untuknya. Aku bahkan tak tahu harus bersikap bagaimana padanya,” Tiara berkata lagi.

“Yah, kurasa itu wajar. Tapi kurasa kau juga tidak boleh merasa bersalah seperti itu, Tiara. Bukankah katamu Adam menganggap Selina seperti adiknya sendiri? Jadi kurasa wajar saja kalau dia tidak sadar kalau Selina mencintainya.”

Seperti adik. Selama bertahun-tahun bersahabat dengan Adam, baru kali ini Selina tahu kalau Adam menganggapnya seperti adiknya sendiri. Baik dirinya dan Adam memang sama-sama terlahir sebagai anak tunggal. Apa itu yang membuat Adam lantas menganggapnya seperti adiknya? Mendadak Selina teringat bagaimana Adam memiliki kebiasaan menjitak kepalanya saat telminya sedang kumat sambil berkata, “Hey little girl! Jangan kelamaan mikirnya.”

“Yah, aku hanya bisa berharap Selina tidak terlalu sakit hati dengan pernikahan kami.”

“Kurasa tidak. Selina yang kukenal adalah gadis yang periang.”

“Iya. Dan sangat baik. Oh ya, kemarin aku mengajaknya datang ke sini. Semoga beberapa menit lagi dia sudah tiba. Tadi dia mengabariku akan datang terlambat,” kata Tiara sambil mengecek ponselnya.

Mendengar ucapan Tiara, Selina seolah tersadar. Dia berjanji akan datang ke pertemuan ini! Segera ia melangkahkan kaki menjauh dari dua perempuan tersebut. Dikeluarkannya ponsel dari saku celananya. Dan tepat saat dirinya sudah berada di luar kafe, ponsel itu berbunyi dengan nama Tiara di layarnya.

Cerita selanjutnya di sini.

29 pemikiran pada “Selina Story : Another Bestfriend [part 2]

  1. Ping balik: Selina Story : Another Bestfriend | SAVING MY MEMORIES

  2. Ping balik: [Fan art] Selina: Gadis Pengintai | New-Rule

  3. Ping balik: Selina Story : Midnight Talking | SAVING MY MEMORIES

  4. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s