Mencoba Beras Merah di Rumah Makan Lauku

Usai menyetorkan hafalan di ma’had Umar bin Khattab, saya dan dua orang teman kerap berkumpul kembali untuk saling bercerita sekaligus makan malam. Biasanya tempat makan yang kami pilih tak jauh-jauh dari lokasi ma’had yang terletak di jalan Gatot Subroto. Entah itu Ayam Wong Solo atau Ayam Goreng Kudus, yang kebetulan menyediakan tempat untuk shalat di dalamnya.

Namun untuk minggu kemarin, saya dan Nisa memutuskan mencoba suasana baru. Rumah makan Lauku menjadi pilihan kami hari itu. Kebetulan saya juga sudah cukup lama penasaran dengan rumah makan yang menyediakan beras merah ini. Tambahan lagi, letaknya juga sejalur dengan arah rumah kami.

Usai melaksanakan shalat magrib di mesjid raya Sabilal Muhtadin, saya dan Nisa langsung melajukan motor kami menuju rumah makan yang letaknya tak jauh dari mesjid raya tersebut. Beberapa anak muda tampak sudah mengisi kursi-kursi kayu bersandaran tinggi yang ada di rumah nakan tersebut. Kami pun mulai memesan. Ayam ras untuk saya dan ayam kampung untuk Nisa, keduanya dengan beras merah. Dua menu ini merupakan menu paketan dengan harga Rp. 25.000,00 per porsinya.

Tak lama, pesanan kami tiba. Pelayan meletakkan piring dengan nasi merah, ayam, plus tiga jenis sambal (sambal biasa, sambal penyet dan sambal bawang) di hadapan kami. Segera kami mencoba menu tersebut. Beras merah, yang menjadi bahan andalan rumah makan ini ternyata sangat hambar dan kering. Jauh berbeda dengan nasi putih yang biasa kami makan. Untungnya, untuk menetralisir rasa yang hambar, menu ayam dan sambal yang disajikan lumayan enak. Untuk sambal, saya suka sambal penyetnya yang ekstra pedas (lidah saya).

Rumah makan Lauku terletak di jalan Sutoyo S no. 2 Banjarmasin. Selain beras merah, rumah makan ini juga menyediakan nasi putih organik sebagai bahan utamanya. Saya belum tahu apakah akan ke sana lagi, mengingat beras merah sepertinya belum cocok untuk lidah saya 😀

DSC_0268

DSC_0274

29 pemikiran pada “Mencoba Beras Merah di Rumah Makan Lauku

  1. Beras merah memang biasanya lebih kering dari beras putih.

    Beras merah baik untuk pencernaan karena kandungan seratnya yang lebih banyak dari beras putih. Beras merah juga baik untuk penderita diabetes karena kandungan seratnya yg tinggi jadinya pencernaan lebih lambat sehingga tidak terlalu meningkatkan kadar gula darah secara drastis

    Bagus buat diet karena seratnya itu baik untuk pencernaan juga lebih lambat dicerna jadinya kenyang lebih lama.

    saya malah suka, mbak beras merah 😀

  2. Iya, memang beras merah itu lebih pera daripada beras putih. Tapi lebih sehat karena indeks glikemiknya lebih rendah. Cara masaknya, harus direndam dulu semalaman baru diaron dan dikukus. Biasanya rumah makan sunda menyediakan menu nasi merah. Kalau mau yang agak soft, coba beras coklat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s