[BeraniCerita #40] Amplop Putih

Sandra tertegun. Matanya menatap benda yang kini ada di hadapannya. Sebuah amplop putih berada di tumpukan paling atas berkas yang baru saja diserahkan padanya lewat sebuah map. Sandra kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok di hadapannya. Aini, gadis awal dua puluhan itu tersenyum canggung padanya.

“Apa ini?” Tanya Sandra kemudian.

“Itu titipan dari pak Dody, Bu,” jawab Aini.

“Dalam rangka apa?”

“Katanya sebagai ucapan terima kasih.”

Sandra terdiam sejenak. Terbayang olehnya bagaimana dulunya ia hanya bisa menatap dari balik kubikelnya dengan prihatin setiap kali salah satu rekannya yang lain menerima amplop putih tersebut. Dan kini, setelah tiga tahun bekerja di kantor ini, akhirnya tiba juga dirinya pada fase tersebut. Sandra menghela nafas. Diraihnya amplop putih tersebut.

“Ini berkasnya saya terima. Tapi untuk amplopnya tidak bisa saya terima. Kamu kembalikan saja, ya?” kata Sandra sembari menyerahkan amplop putih tersebut pada Aini.

“Tapi kata pak Dody amplop itu harus diserahkan pada ibu.”

“Bilang saja sama pak Dody ucapan terima kasihnya sudah saya terima. Tapi saya tetap nggak bisa mengambilnya.”

Akhirnya Aini tak bisa berkata apa-apa lagi. Diambilnya amplop putih tersebut dari tangan Sandra, dan langsung dimasukkannya ke saku bajunya.

“Kalau kamu tidak ada urusan lagi, kamu boleh pergi. Saya masih ada yang dikerjakan,” ujar Sandra kemudian.

***

Jarum jam di tangan kiri Sandra sudah menunjukkan waktu pukul lima kurang seperempat. Diperhatikannya di sekelilingnya beberapa rekannya sudah tak ada lagi di kursi mereka masing-masing. Merasa tak ada yang perlu dikerjakan lagi, Sandra pun mulai membereskan mejanya. Tepat ketika ia akan akan meninggalkan mejanya, sesosok pria tampak mendekati kubikelnya.

“Boleh saya bicara sebentar, San?” Malik, salah satu rekan kerja yang duduk tak jauh darinya itu bertanya.

“Oh, tentu saja. Ada apa, ya Lik?” tanya Sandra sembari mempersilakan Malik duduk di kursi di hadapannya.

“Dengar. Aku melihat apa yang terjadi di kubikel kamu pagi tadi,” Malik membuka pembicaraan.

“Yang mana, ya?”

“Aini, Sandra. Aku melihat apa yang dia serahkan padamu dalam map tersebut.”

Sandra menghela nafas. Entah apa yang diinginkan Malik dengan mengatakan hal ini padanya. Selama tiga tahun bekerja di kantor ini, ia tak pernah suka dengan pria tersebut. Mungkin karena wajah masamnya dan sifatnya yang suka mencampuri urusan orang lain.

“Aku tahu apa yang harus kulakukan, Malik,” kata Sandra kemudian.

“Ya. Aku tahu. Aku cuma mau bilang sebaiknya kau berhati-hati. Karirmu bisa terancam jika kau terus-terusan melakukan hal seperti tadi.”

Sandra hanya tersenyum mendengar kata-kata Malik tersebut.

“Baiklah. Sebaiknya aku pergi dulu. Sudah waktunya pulang.”

Sandra duduk di kubikelnya. Masih terngiang ancaman Malik tadi.

***

Sandra duduk dengan gelisah di kursinya. Di hadapannya duduk empat orang pria berpakaian perlente dan berwajah masam. Semuanya menatap Sandra dengan tatapan seperti akan memangsa gadis tersebut.

“Jadi, Anda tetap bersikeras tidak pernah mengambil uang apapun dari proyek pak Dody?”

“Tidak pernah, Pak.”

“Lalu bisakah Anda menjelaskan rekaman video yang memperlihatkan Anda mengambil amplop yang diserahkan Aini pada Anda?”

Sandra terdiam. Masih terngiang jelas di kepalanya ucapan Malik hari itu. Rasanya ia tak perlu mencari tahu lagi siapa gerangan yang sudah memanipulasi video tersebut untuk menjatuhkannya.

***

Total : 497 kata

22 pemikiran pada “[BeraniCerita #40] Amplop Putih

  1. Jaman sekarang kayaknya yang nyogok lebih pintar deh ga pakai amplop putih*liat di TV yang ketangkep.
    Dan pemeriksa pun udah pinter ga cuma berdasarkan bukti video.

  2. Tapi semoga yg begini ini cuma fiksi aja ya mbak, maksudku, orang jujur seperti Sandra di luar sana semoga terlindungi *terlalu serius* hihihihi

    Nice writing mbak 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s