Selina Story : Another Bestfriend

Cerita sebelumnya di sini

Ada tiga hal yang mungkin kau rasakan saat sahabat yang kau cintai memperkenalkan dirimu dengan kekasihnya. Pertama, kau akan membenci kekasihnya setengah mati dan bersikap tak baik padanya. Kedua, kau membenci kekasihnya  namun berusaha menutupinya dengan bersikap baik pada kekasih sahabatmu. Atau bisa juga kau akan memilih yang terakhir, kau menyukai kekasihnya tersebut dan menjadikannya sahabatmu yang baru.

Bagi Selina sendiri, kemungkinan pertama jelas tak mungkin terjadi. Tiara adalah gadis yang cukup menarik. Dia manis dan pintar. Bahkan saat pertama kali bertemu, Selina langsung tahu bahwa dialah pasangan yang paling cocok untuk Adam. Seolah ada aura tersendiri saat melihat mereka bersama, yang membuat Selina mau tak mau harus setuju dengan pilihan sahabatnya itu.

Meski begitu, bukan berarti juga Selina bisa benar-benar menjadikan Tiara sebagai sahabat barunya. Biar bagaimanapun ada rasa tak nyaman dalam diri Selina jika harus berakrab ria dengan gadis mungil bermata sipit tersebut. Rasa cemburu dan kemungkinan Tiara mengetahui perasaannya pada Adam menjadi alasan mengapa Selina merasa perlu menjaga jarak dengan Tiara.

Anehnya, berbeda dengan dirinya yang merasa perlu berhati-hati, Tiara malah menunjukkan sikap yang jauh berbeda. Gadis itu seolah benar-benar ingin menjadikannya sebagai sahabat. Dia memberikan sambutan yang sangat hangat di pertemuan pertama mereka, bahkan tak sungkan bercerita beberapa hal pribadi pada Selina. Seolah-olah Selina adalah sahabat lama yang lama tak ditemuinya.

Contoh lainnya hari ini, saat Tiara tiba-tiba mampir ke toko bayi milik Selina. Dari blouse putih gading dan celana kain yang digunakannya, Selina berani menebak kalau gadis itu sebelumnya berada di salah satu instansi pemerintah untuk mengurus berkas pernikahannya. “Aku dan Adam baru selesai mengurus administrasi pernikahan kami. Saat akan pulang, langsung terpikir olehku untuk mampir ke tempatmu. Kau tidak keberatan, bukan kalau aku ada di sini?” ujar Tiara ketika Selina bertanya padanya.

“Tentu saja tidak. Aku malah senang kau mau mampir ke tokoku, Tiara” jawab Selina sambil tersenyum. “Kau mau melihat-lihat dulu atau kita langsung ke kamarku di atas?” tanya Selina lagi.

“Kalau boleh aku ingin melihat-lihat dulu. Barang-barang di sini terlihat sangat lucu. Kalau aku hamil pasti aku akan membeli banyak barang di tokomu,” ujar Tiara, yang sukses membuat Selina tersenyum lebar.

“Baiklah. Sambil kau melihat-lihat aku buatkan minum dulu, ya.”

“Sip.”

***

Ada cukup banyak pembicaraan tercipta dalam pertemuan mereka hari itu. Tentang gedung yang masih sulit didapat, daftar salon yang ingin dipilih, jumlah undangan yang ternyata cukup banyak, hingga kekhawatiran Tiara akan biaya pernikahan yang melebihi dari anggaran yang disiapkan. Sesekali nama Adam juga hadir dalam pembicaraan mereka.

Tiara bercerita tentang bagaimana Adam melamar dirinya dengan cara yang menurutnya jauh dari romantis. Sedangkan Selina bercerita tentang kegilaan-kegilaan yang ia lakukan bersama Adam. Gelak tawa memenuhi pantry kecil di sudut toko. Dua porsi mi goreng yang mereka buat pun tandas tak bersisa. Sungguh sebuah keakraban telah terjalin antara Selina dan Tiara.

Anehnya, dengan keakraban terjalin begitu cepat, sebuah tanda tanya besar semakin menguasai hati Selina. Bagaimana sebenarnya perasaan Tiara padanya? Masa iya, sih, gadis itu tidak menyimpan kecurigaan sama sekali padanya? Atau jangan-jangan keramahan yang diperlihatkannya ini sebenarnya untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya?

Usai menghabiskan siang di tokonya, jelang pulang, Tiara menyampaikan keinginannya untuk memperkenalkan Selina dengan seorang sahabatnya. “Kami sudah bersahabat sejak sekolah menengah. Persis seperti dirimu dengan Adam,” kata Tiara sore itu.

Merasa penasaran dengan sosok sahabat yang ingin dikenalkan tersebut, Selina pun berusaha menggoda Tiara. “Oya? Apakah dia seorang laki-laki?” Tanyanya kemudian.

Sayangnya jawaban yang diberikan Tiara malah sukses membuat senyum jahil Selina membeku.

“Dia perempuan, kok. Aku tak pernah punya teman pria, Selina. Entah mengapa aku selalu berpikir tak pernah ada persahabatan yang benar-benar murni dari laki-laki dan perempuan.”

“Baiklah kalau begitu. Jam berapa kalian akan bertemu?” tanya Selina kemudian.

Cerita selanjutnya : Another Bestfriend 2

 

14 pemikiran pada “Selina Story : Another Bestfriend

  1. Selina kaget pas tiara bilang tidak ada persahabatan laki2 dan perempuan yang murni. Jadi dia makin curiga gitu —> karena bisa jadi di sela-sela tali persahabatan akan muncul benih-benih cinta…

    uhuyyyyy

    udah mulai seru nih

  2. Ping balik: Selina Story : Another Bestfriend [part 2] | SAVING MY MEMORIES

  3. Ping balik: Selina’s Diary | SAVING MY MEMORIES

  4. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s