Selina’s Diary

Cerita sebelumnya di sini.

Aku ingin pernikahanku nanti akan diadakan di tepi danau, dengan dihadiri keluarga dan sahabat dekatku. Gaun pengantinku nanti akan berwarna kuning pucat, dan rambutku merahku akan dijepit sederhana dengan hiasan bunga di atasnya. Calon suamiku nanti akan mengenakan tuksedo berwarna putih. Ia akan menungguku di pelaminan dengan tatapan penuh cinta padaku. Dan saat waktunya janji pernikahan diucapkan, dia akan melafalkannya dengan penuh keyakinan tanpa ada kesalahan sedikitpun.

Hingga dirinya duduk di bangku sekolah menengah, Selina masih cukup rajin mengisi buku hariannya. Saat itu, ia memiliki dua buah buku harian, keduanya bersampul merah bata. Ada banyak cerita ia tuliskan dalam buku harian tersebut. Cerita tentang haid pertamanya, momen di saat ini mendapatkan kekuatan menghilangnya, pertemuannya dengan Adam (ini paling banyak porsinya), juga beberapa catatan tentang keinginan dan mimpi-mimpinya.

Setelah memasuki bangku kuliah, kebiasaan menulis buku harian tersebut semakin lama semakin jarang dilakukannya. Perubahan media tulis dari buku tulis ke komputer membuat Selina merasa tulisannya semakin jelek saja. Karena itulah selama kuliah Selina memilih menuliskan berbagai rahasia hatinya dalam file berekstensi word di komputer tua miliknya. Sayangnya kebiasaan itu juga tak bertahan lama. Dan untuk sekarang, Selina sudah tak pernah lagi menulis di buku harian kecuali surel-surel yang dikirimkannya pada Adam.

Tulisan yang sedang ia baca saat ini sendiri seingat Selina ditulisnya setelah menghadiri pernikahan salah satu kakak sepupunya, yang diadakan di sebuah gedung di kota mereka. Meski resepsi pernikahan terkesan sangat meriah, namun entah mengapa Selina merasa ini bukanlah pesta pernikahan yang ideal untuknya. Sulit bagi dirinya membayangkan harus berdiri berjam-jam sambil tersenyum menyalami para tamu yang datang. Tambahan lagi, Selina berani bertaruh lebih dari separuh tamu yang datang tersebut tidak dikenali oleh pasangan pengantin yang sedang bersanding di pelaminan. Ia bisa membayangkan ia akan bertanya-tanya dalam hati sepanjang acara pernikahan. Ini keluarga siapa? Ini teman siapa? Pertanyaan yang pastinya akan bisa dijawab dengan mudah oleh para orang tua dari pasangan pengantin.

Meski begitu, Selina juga mengerti kecil kemungkinan baginya untuk bisa memiliki pesta pernikahan seperti yang ia tuliskan di buku hariannya tersebut. Setidaknya pembicaraannya dengan Tiara hari ini sudah cukup memberikannya bayangan. Karena sama seperti dirinya, Tiara juga menginginkan resepsi pernikahan yang sederhana dan tidak terlalu ramai.

“Sebenarnya aku ingin pernikahan kami dirayakan di rumah saja. Di kebun mungil milik ibuku. Tapi jelas itu tidak bisa. Ayah dan ibuku memiliki cukup banyak rekan kerja. Rasanya tidak sopan jika orang tuaku tidak mengundang mereka dalam pernikahan putri mereka satu-satunya.”

Selina manggut-manggut mendengar penjelasan Tiara. Gadis itu ada benarnya. Orang tua Tiara sama-sama bekerja sebagai pegawai pemerintah di dua instansi yang berbeda. Satu instansi saja sudah cukup banyak yang diundang. Apalagi dua! Dan untuk Adam, kedua orang tuanya adalah dosen di salah satu universitas di kota mereka. Jelas tidak mungkin mengabaikan para atasan dan rekan kantor dari kedua belah pihak.

Yang menjadi masalah sekarang adalah, waktu persiapan pernikahan yang cukup mepet. Dua minggu! Sepengetahuan Selina, ada banyak hal yang harus disiapkan dalam penyelenggaraan acara pernikahan. Mulai dari administrasi nikah, tempat pernikahan, undangan, gaun pernikahan, hingga makanan yang harus dihidangkan. Selina sungguh tak habis pikir mengapa baik Adam maupun Tiara bisa berpikir mereka akan bisa menyiapkan semua hal tersebut hanya dalam waktu dua minggu liburan mereka.

“Kau yakin akan bisa menyelenggarakan pernikahan ini dalam waktu sesingkat ini, Tiara? Kenapa tidak diundur saja tanggal pernikahannya?” tanya Selina kemudian.

“Kami tidak mungkin mengundur tanggal pernikahannya, Selina. Baik aku dan Adam sepakat untuk tidak menunda pernikahan ini. Karena itulah kami sengaja mengambil liburan ini.”

“Tapi waktunya hanya dua minggu, Tiara! Harusnya kalian mengambil libur satu bulan untuk acara sepenting ini. Atau kalau tidak bisa, kalian harusnya menghubungi orang tua kalian terlebih dahulu agar mereka dapat mempersiapkan segala sesuatunya.”

Sebenarnya Selina merasa sedikit tidak enak karena terlalu banyak protes dengan rencana pernikahan Adam dan Tiara. Tidak masalah sebenarnya jika dia menyuarakan kekhawatirannya di hadapan Adam. Toh ia dan Adam sudah bersahabat selama bertahun-tahun. Tapi Tiara? Gadis itu baru dikenalnya beberapa jam sebelumnya, dan Selina sudah berbicara padanya seolah-olah mereka adalah sahabat lama.

“Yah, kuakui memang kami sedikit ceroboh soal ini. Tapi aku tetap yakin semuanya akan berjalan sesuai rencana. Kami semua sudah berbagi tugas. Orang tuaku akan mengurus tempat pernikahan berikut cateringnya. Adam dan keluarganya akan mengurus administrasi pernikahan dan undangan. Untuk urusan salon dan dekorasi pernikahan aku sendiri yang akan mengurusnya.”

Meski terdengar masuk akal, tetap saja ada sedikit rasa ragu di hati Selina setelah mendengar penjelasan Tiara. Soal catering, gaun pengantin, maupun undangan mungkin bisa didapatkan dalam waktu sesingkat ini. Tapi bagaimana dengan gedung dan administrasi pernikahan? Biasanya gedung-gedung acara pernikahan sudah disewa enam bulan sebelum acara. Yah, kecuali jika Tiara mau acara pernikahannya diadakan di hari yang tak lazim. Lalu soal administrasi, sudah bukan rahasia lagi jika birokrasi di kota mereka termasuk yang paling rumit. Jangankan urusan pernikahan, untuk mendapatkan surat ketengan sehat saja bisa berhari-hari baru selesai.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kenapa juga Selina harus repot-repot memikirkan hal tersebut? Bukankah yang akan menikah adalah Adam dengan Tiara? Seharusnya saat ini Selina sibuk menata perasaannya agar tak cemburu menghadapi kebersamaan Adam dan Tiara nanti. Tak mengerti dengan isi kepalanya sendiri, Selina akhirnya memutuskan untuk tidur dan menutup buku harian usang miliknya.

Cerita selanjutnya : Another Bestfriend

36 pemikiran pada “Selina’s Diary

  1. Ping balik: Selina Story : Another Bestfriend | SAVING MY MEMORIES

  2. Ping balik: Selina Story : Her Best Friend’s Wedding (part 4) | SAVING MY MEMORIES

  3. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s