Sasirangan

image

Ada empat macam seragam kantor yang dikenakan para karyawan di kantor tempat saya sekarang bekerja. Seragam dengan logo perusahaan di hari Senin, blazer biru tua di hari Selasa, blazer hijau toska untuk Rabu, dan sasirangan untuk hari Kamis. Khusus untuk Jum’at, karena paginya diisi dengan senam bersama, maka para karyawan dibolehkan mengenakan pakaian olahraga untuk bekerja.

Saya sendiri (bersama dua teman perempun lain) baru bisa mengenakan blazer biru tua untuk hari Selasa. Seragam untuk hari Senin masih dijahit, dan untuk blazer hijau toska, kabarnya akan dihapuskan dan diganti dengan seragam Senin. Jadilah selain hari Selasa, Kamis dan Jum’at, saya dan teman-teman kembali mengenakan seragam putih hitam yang warnanya sudah mulai berubah itu.

Untuk sasirangan sendiri, karena tidak ditetapkan motif khusus, maka kami pun berinisiatif membelinya di salah satu pusat penjualan kain sasirangan yang terletak di km 3 jalan A. Yani. Kami memilih membeli di toko tersebut karena koleksi pakaian jadinya yang cukup lengkap. Sebenarnya cukup banyak gerai penjual sasirangan di kota Banjarmasin. Namun rata-rata gerai tersebut hanya menjual kain sasirangan dan sedikit sekali yang menyediakan pakaian jadi untuk wanita. Entah jika kami mencari di kampung sasirangan yang ada di Kampung Melayu. Bisa jadi koleksinya lebih lengkap.

Dalam pembuatannya sendiri, kain sasirangan mungkin memiliki proses yang cukup mudah jika dibanding pembuatan kain khas daerah yang lain. Saya ingat semasa SMP pernah ada pelajaran khusus untuk membuat kain sasirangan khas banjar.

Jadi pertama-tama disiapkan satu lembar kain putih, yang kemudian digambar dengan pola-pola khas sasirangan. Ada beberapa macam pola kain sasirangan. Yang paling saya ingat adalah Naga Balimbur, Bayam Raja, Iris Pudak, Bintang Bahambur dan Daun Jaruju. Setelah selesai digambar, pola-pola tersebut kemudian dijahit jelujur sambil ditarik hingga kainnya mengerut dan sangat rapat. Hal ini bertujuan agar pola tidak tewarnai saat proses pewarnaan dilakukan.

Setelah semua pola dijahit dan dikerut, maka kain tersebut kemudian dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Saya lupa berapa lama merendam kain tersebut. Yang jelas, setelah warna cukup meresap, kain kemudian dijemur hingga kering. Setelah kainnya mengering, jahitan kemudian dibuka dan dicuci. Nah bagian yang mengerut karena benangnya ditarik inilah yang kemudian akan membentuk pola-pola seperti yang saya sebutkan di atas.

Sekarang ini, saya lihat para pengrajin sasirangan di Banjarmasin sudah semakin kreatif dalam mengolah sasirangan. Tak melulu dibuat baju, sasirangan kini juga menjelma dalam bentuk aneka macam tas tangan. Bahkan kalau tidak salah Sasirangan juga sudah mulai sering dilirik para desainer kondang. Yah, semoga saja ke depannya kain khas Banjarmasin ini bisa semakin dikenal luas dan menjadi kebanggaan daerah Kalimantan Selatan.

Posted from WordPress for Android

33 pemikiran pada “Sasirangan

  1. Aku waktu sd jg pernah belajar bikin motif kain kayak gini, tapi disini namanya kain jumput. Kalo di Kalimantan namanya jadi Sasaringan yaa… Namanya bikin ingat salah satu jurus di Naruto “saringgan”, hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s