Selina Story : Her Best Friend’s Wedding (part 4)

Cerita sebelumnya di sini.

Sulit untuk tidak menyukai Tiara. Hanya itulah yang bisa Selina ucapkan dalam hati ketika akhirnya siang itu Adam mempertemukan dirinya dengan calon istrinya tersebut. Rambutnya coklat menyentuh bahu, kulit kuning langsat, wajah bulat telur tanpa noda, hidung mungil yang sedikit mencuat pada ujungnya, dan mata sedikit sipit berbentuk bulan sabit saat ia tersenyum. Sebuah penampilan oriental yang cukup menarik perhatian. Belum lagi ukuran tubuhnya yang mungil membuat Tiara terlihat sangat “adorable”.

Sewaktu Adam memperkenalkan mereka berdua, jelas sekali terlihat Tiara sangat bersemangat dengan pertemuan tersebut. Mata bulan sabitnya tampak berbinar-binar (bisa juga ini karena ia bertemu dengan Adam) dan saat Selina mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Tiara membalasnya dengan memberikan pelukan hangat pada Selina. “Ah, akhirnya kita bisa bertemu, Selina,” ucapnya kemudian.

Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Tiara tersebut, rasa khawatir tiba-tiba menyergap Selina. Adam sepertinya sudah bercerita banyak tentang dirinya pada Tiara. Yah, meski mungkin Adam menceritakan dirinya sebagai sosok sahabat dekat, bisa jadi kan Tiara membaca rasa suka yang ia simpan pada Adam? Bukankah katanya perempuan bisa membaca isi hati perempuan lain? Dan siapa tahu sikap ramah yang saat ini diperlihatkan Tiara hanya sekadar basa-basi? Ah, Selina langsung dibuat gugup dengan pikirannya sendiri.
Adam sendiri setelah memperkenalkan Selina dengan Tiara langsung pamit pulang. “Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan,” begitu katanya. Meski begitu ia berjanji akan kembali beberapa jam lagi untuk menjemput Selina kembali. Tiara kemudian mengantarkan Adam menuju mobilnya sementara Selina menunggu di ruang tamu.

Rumah orang tua Tiara berada bagian barat kota mereka. Ukurannya mungil dengan sebuah halaman dan kebun kecil di bagian depannya. Bagian luar rumah diberi cat warna putih sementara dinding bagian dalamnya diberi warna coklat muda. Pada bagian dinding rumah tampak beberapa foto anggota keluarga dan beberapa ornamen kayu terpajang untuk menghilangkan kesan kosong pada dinding.

Selina kemudian memandangi foto-foto yang menempel di dinding tersebut. Sebuah foto keluarga yang cukup besar terpampang tepat di dinding ruang tamu. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan tampak menampilkan pose terbaik mereka di foto tersebut. Tiara berdiri di samping ayahnya, sementara saudara laki-lakinya di samping ibunya. Kedua saudara tersebut berdiri mengapit kedua orang tua mereka. Tak seperti foto keluarga yang biasanya bernuansa formal, maka dalam foto yang ada di hadapannya tampak senyum lepas dari seluruh anggota keluarga. Seolah-olah ingin memperlihatkan betapa bahagianya keluarga tersebut.

Selain foto keluarga tersebut, terdapat pula beberapa foto lainnya yang tak kalah menarik untuk dilihat. Foto pernikahan kedua orang Tiara. Foto Tiara bersama saudara laki-lakinya. Foto Tiara saat wisuda. Dan yang paling menarik perhatian Selina adalah sebuah foto yang menampilkan Tiara kecil dengan mengenakan pakaian ala putri Cina dan tertawa lepas. Matanya yang berbentuk bulan sabit tampak benar-benar menghilang dalam foto tersebut. Terlihat sangat cantik kalau boleh Selina bilang.

Saat masih sibuk mengamati foto tersebut, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

“Foto itu diambil saat aku masih masih berumur empat tahun. Culun sekali, bukan?”

Selina menoleh dan menemukan Tiara kini sudah berdiri di sampingnya.

“Tidak. Menurutku kau terlihat sangat cantik di foto itu.”

Tiara hanya tersenyum mendengar jawaban Selina.

“Kau tidak keberatan, kan, menunggu lagi? Aku akan membuatkan minuman untukmu,” katanya lagi.

***
Tak lama, Tiara kembali lagi ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman. Dari warnanya, Selina bisa menebak kalau minuman tersebut adalah sirup rasa melon. Entah ini benar atau tidak, namun Selina merasa Tiara sengaja membuatkan minuman kesukaannya itu untuknya.

“Ayah dan ibuku masih berada di kantor mereka masing-masing. Dan adik laki-lakiku masih berada di kampusnya,” ujar Tiara membuka pembicaraan kembali setelah meletakkan gelas-gelas tersebut ke atas meja.

“Ayah sangat terkejut ketika mendengar Adam berniat menikahiku. ‘Ah, siapa gerangan pemuda kurang ajar yang ingin mengambil putri kesayanganku?’ begitu katanya. Ayahku itu,” tambahnya, lagi-lagi sambil memamerkan senyum khasnya. Gadis itu tampak sangat antusias dengan rencana pernikahannya. Bahkan pada Selina yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu, tak tampak kecanggungan pada Tiara untuk berbagi cerita. Apa mungkin cerita-cerita Adam tentang diriku membuat Tiara secara tidak sadar juga menganggapku sebagai sahabat? Tanya Selina dalam hati.

Sama seperti Adam, Tiara juga dengan menceritakan pertemuan pertamanya dengan Adam, lengkap dengan kesan pertamanya terhadap sahabatnya itu. “Pemuda yang sangat sok tahu. Tapi untungnya dia cukup menyenangkan untuk diajak bicara,” begitu kata Tiara tentang Adam. Ada juga cerita tentang bagaimana Adam mengungkapkan perasaannya pada Tiara -yang sejujurnya cukup membuat Selina cemburu-, bahkan cerita bagaimana Adam meyakinkan orang tuanya untuk bersedia menikahkan mereka secepatnya.

Namun di atas semua itu, ada satu pertanyaan besar yang sejak awal hadir di kepala Selina.

“Bagaimana kau bisa yakin untuk menerima lamaran Adam, Tiara? Bukankah kalian baru kenal beberapa bulan?” tanya Selina akhirnya setelah Tiara selesai dengan cerita-ceritanya.

Mendengar pertanyaan tersebut, Selina terdiam sejenak. Ia kemudian menyesap minumannya sebelum akhirnya mulai berbicara kembali.

“Kau tahu, Selina? Dulu aku juga sering mempertanyakan hal tersebut. Bagaimana caranya seseorang bisa yakin pada pilihan hatinya? Terutama pada mereka yang menikah tanpa menjalani proses yang panjang. Dan kau tahu apa jawaban dari orang-orang saat aku bertanya pada mereka?”

Selina menggelengkan kepalanya.

“Hatimu yang akan mengetahui dengan sendirinya.”
***

 Cerita selanjutnya : Selina’s Diary

13 pemikiran pada “Selina Story : Her Best Friend’s Wedding (part 4)

  1. Ping balik: Selina Diary | SAVING MY MEMORIES

  2. Ping balik: Selina Story : Her Bestfriend’s Wedding (part 3) | SAVING MY MEMORIES

  3. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s