Tentang Ta’aruf

“Siapa yang sudah memasukkan proposal?”

Pertanyaan tersebut menjadi pembuka dari pertemuan saya dan kawan-kawan pengajian kemarin. Pertanyaan singkat namun langsung berkembang menjadi diskusi menarik dan sukses membuat kami semua lupa waktu. Wajar saja tentunya. Mengingat hampir semua dari kami berada pada usia pertengahan dua puluhan dan sudah sepantasnya menikah.

Proposal yang dimaksud sendiri adalah lembaran kertas berisi biodata yang dikirimkan pada sebuah lembaga pernikahan di perkumpulan yang saya ikuti tersebut. Proposal yang dikirim tersebut nantinya akan diproses oleh para pengurus lembaga dan jika mereka menemukan calon yang cocok bagi pengirim proposal, maka akan dilanjutkan dengan proses ta’aruf yang jika cocok akan naik lagi ke jenjang pernikahan.

Nah, yang menarik dari pertemuan kemarin adalah adanya pembahasan tentang proses dari ta’aruf lewat lembaga pernikahan ini. Saya secara pribadi memang selalu penasaran dengan yang namanya ta’aruf ini. Mulai dari bagaimana teknisnya pertemuannya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, hingga bagaimana akhirnya proses tersebut berakhir dengan diucapkannya akad nikah. Yah, intinya, dalam pertemuan kemarin akhirnya saya mendapatkan pandangan lebih jelas soal ta’aruf ini.

Jauh sebelumnya, seorang teman yang saya kenal di dunia maya juga pernah berbaik hati menceritakan proses perkenalannya dengan pria yang saat ini sudah menjadi suaminya. Jadi ceritanya, si pria ini dikenalkan padanya lewat perantara seorang teman. Awal pertemuan, teman saya ini merasa tidak ada yang menarik dari si pria. “Item dan dekil,” begitu katanya menjelaskan kesan pertamanya. Meski begitu, rupanya si pria tertarik pada teman saya ini dan berniat menemui teman saya itu lagi. Apa jawab teman saya kemudian? “Datang ke rumah aja kalau mau ketemu lagi, Mas.”

Siapa sangka, ternyata si pria menyanggupi permintaan teman saya ini. Datanglah ia bersama keponakan ke rumah teman saya. Lucunya, teman saya tersebut malah menolak menemui pria itu dan membiarkan orang tuanya yang menghadapi si pria. Apakah si pria kemudian berhenti datang ke rumah? Tidak. Dia tetap datang ke rumah, berbicara dan berdiskusi dengan orang tua teman saya, sementara teman saya menunggu di kamarnya. Sesekali teman saya mengajukan beberapa pertanyaan yang dirasa perlu melalui orang tuanya. Jawaban dari pertanyaan tersebut kemudian disampaikan kembali pada teman saya tersebut.

Setelah beberapa bulan menjalani proses, akhirnya si pria melamar teman saya ini. Saya sempat bertanya apakah selama proses dia pernah berkomunikasi langsung dengan calon suaminya? “Pernah. Buat urusan acara,” jawab teman saya. Dan begitulah, saat ini teman saya sedang menikmati masa-masa menjadi seorang istri dan ibu dari putranya yang baru berusia beberapa bulan.

Sampai hari ini, jika mengingat cerita teman saya tersebut, rasa kagum masih terlintas di kepala saya untuknya. Bahkan saya sempat berniat membuat cerpen dari cerita teman saya itu (yang sayangnya belum selesai sampai hari ini). Harapan saya tentunya semoga saya nantinya juga bisa bertemu jodoh dengan cara yang baik sepertinya.

60 pemikiran pada “Tentang Ta’aruf

  1. proses ta’aruf itu nggak harus selalu berujung dengan pernikahan. itu cuma sarana aja. bukan berarti karena A berta’aruf dengan B lalu keduanya pasti menikah. banyak yang berlanjut, tapi ada juga yang gagal. yang jelas… patut dicoba πŸ˜€

    saya mau bikin postingan berupa surat buat serang perempuan… saya kasih bocoran awalnya deh… sebab kelanjutannya juga pasti udah baca di serial samara.

    Assalaamu β€˜alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh.

    Apa kabar, Dinda?

    Ah, maaf jika aku menyapamu dengan panggilan itu. Sejujurnya, aku belum tahu namamu. Tak apa. Mungkin kamu masih malu untuk mengatakannya kepadaku. Jika boleh aku menerka, pasti namamu indah dan penuh makna serta terselip doa dan harapan di dalamnya. Karenanya, aku meminta izin untuk menyapamu dengan panggilan Dinda. Semoga kam tidak keberatan.

    Karena kita belum saling mengenal atau bahkan mungkin belum pernah bertemu, maka di dalam surat ini aku menyertakan beberapa hal tentang diriku. Jika berkenan, kamu bisa membacanya nanti di lampiran terakhir suratku.

      • saya jadi ingat pas menjadi narasumber dalam sebuah talkshow tentang pemberdayaan wanita. Seorang peserta menceritakan nasib tragis beberapa kawannya yang pacaran. Ada yang ditipu pacarnya, ada yang diperkosa, ada yang diculik, dll….dll. “Bagaimana pendapat ibu?” demikian ia bertanya. Saya jawab singkat saja,”Jangan pacaran!”. Kontan para hadirin – yang keseluruhannya gadis dan lebih dari setengahnya berhijab – tampak terperangah. Mungkin tidak yakin, bisakah dapat jodoh tanpa pacaran? Kenyataannya, jaman sekarang, berhijab ternyata tidak menghalangi mereka berpacaran. Bergandengan, berboncengam, berduaan di depan umum dengan si gadis berhijab sudah bukan hal yang aneh.

  2. Ta’aruf artinya kenalan dalam rangka ingin mengetahui lebih jauh. Jadi memang sudah ada tujuannya, yaitu khitbah (melamar). Meskipun, seperti kata bang Jampang, bisa saja tahap selanjutnya tersebut tidak terlaksana. Yang perlu ingat, ta’aruf tidak berarti berdua-duaan. Saya dulu juga ta’aruf kok, meski dengan teman sendiri *nostalgia seperempat abad yl*
    Semoga Allah memudahkanNya, mbak Yana…..

  3. Saya mengalaminya Yana. Dan Subhanallah, it’s amazing!
    Semuanya mengalir cepat dan lancar. Alhamdulillah, Allah memberikan saya jodoh dengan cara seperti ini.

    Ga ada salahnya dicoba. Tokh ta’aruf bukan berarti harus jadi dan menikah kan? Yang penting memang niatnya lillahi ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s