Saat Cinta Menjadi Pahit

Beberapa hari yang lalu, saya menonton Amour, sebuah film Austria yang juga mendapat nominasi film terbaik dalam ajang Academy Award tahun ini. Jadi ceritanya ada sepasang suami istri lanjut usia yang tinggal hanya berdua. Satu hari sang istri divonis lumpuh pada tubuh bagian kanannya. Karena sang istri menolak dirawat di rumah sakit, maka sang suami memutuskan untuk merawat istrinya sendirian.

Mulanya semuanya terlihat baik-baik saja. Sang suami dengan telaten merawat istrinya. Namun mungkin karena semakin frustasi dengan kondisi sang istri yang semakin memburuk, atau juga tak tahan merawat sang istri, sang suami pada akhirnya menyerah. Ketika saya tanyakan pada Yas, yang kebetulan juga sudah menonton film ini, dia berkata, “Absurditasnya hidup. Betapa cinta bisa manis juga sakit.” Kalau kata saya, “Ada saatnya cinta menjadi pahit.”

Saya sendiri ketika menonton film tersebut langsung teringat pada ayah saya yang juga sedang sakit. Memang sih kondisi beliau tidak separah dalam film tersebut. Beliau tidak lumpuh dan masih bisa berjalan dan makan sendiri. Namun tetap saja untuk beberapa hal beliau harus dilayani. Susahnya, beliau ini termasuk keras kepala dan susah sekali dibilangi. Akhirnya kadang tanpa sadar kami, termasuk ibu saya yang merawat menjadi frustasi dan bisa marah-marah tak keruan.

Cinta yang pahit juga mungkin dirasakan oleh salah satu OB di kantor. Sebut saja namanya, Jun. Dia menikah sekitar dua tahun yang lalu. Awalnya, istrinya ikut bersamanya tinggal di Banjarmasin. Namun, setelah melahirkan putri pertama mereka, sang istri tak ikut lagi dengan suaminya dan tinggal di kampung halaman mereka di Madura.

Jun pun kembali ke kantor setelah cuti 3 bulan. Selama setahun berikutnya, ia menjalani kehidupan tanpa istri dan anaknya. Dari yang pernah saya dengar, godaan mereka yang sudah pernah menikah itu lebih berat ketimbang yang belum menikah. Maka pastilah berat bagi Jun menjalani masa kerjanya di tempat kami hingga waktunya ia bisa pulang kembali menemui sang istri di hari lebaran.

Saya juga teringat pada Pepeng dan wawancara beliau dalam acara ustad Yusuf Mansur. Dalam wawancara yang sangat inspiratif tersebut, selain bercerita tentang sakit, beliau juga berbagi tentang pernikahan beliau. Bagaimana istri beliau dengan telatennya merawat beliau. Dalam wawancara tersebut, beliau memberitahukan kunci dari pernikahan mereka. Dan, ya, komitmenlah yang jawabannya.

Jadi, saat cinta menjadi pahit, mungkin itu saatnya bagi kita untuk mengingat kembali komitmen yang kita buat saat mengikat cinta tersebut.

39 pemikiran pada “Saat Cinta Menjadi Pahit

  1. komitmen. kalau dalam rumah tangga, posisinya komitmen mungkin di atas cinta jika ingin rumah tangga langgeng.

    tadinya mau ngasih link tulisan saya yang diilhami wawanacara mas pepeng… tapi nggak ada keimport ke WP 😦

  2. Sip. Cinta itu kaya coklat, pasti ada rasa pahitnya, karena emang awalnya dari buah kakao yg pait. Sesuatu yg terlalu manis itu ga ada gregetnya.

    Eh nonton dmn tuh filmnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s