Selina Case 2 : Finding Mr. Mechanic

Cerita Selina sebelumnya ada di sini.

“Dear, Selina. Namaku Vania. Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan seorang pria. Sayangnya pertemuan itu begitu singkat hingga aku tak sempat mengetahui identitas pria itu. Satu hal yang bisa kupastikan dia bekerja di tempat kami bertemu hari itu. Aku sangat berharap kau bisa membantuku mengetahui nama pria tersebut. Sejak pertemuan itu aku tak bisa melupakannya dan entah mengapa aku punya firasat kalau pria itu adalah jodohku.”

Selina membaca kembali surat di hadapannya. Surat itu, bersama dengan beberapa surat lainnya yang masuk ke kotak surelnya pagi ini. Layaknya surat-surat lain yang telah ia baca, surat tersebut juga berisi permohonan untuk jasa pengintaian seperti yang telah ia lakukan beberapa bulan terakhir.

Usai membaca kembali surat tersebut, Selina kemudian memindahkannya ke sebuah folder yang diberi nama ”Menarik” pada sisi kiri kotak surelnya. Surat-surat yang masuk ke folder tersebut biasanya memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk diterima. Biasanya Selina terlebih dahulu akan mengatur janji pertemuan dengan pengirim surat, membahas beberapa detail, dan jika memang benar-benar menarik maka Selina akan menyusun perjanjian atas pekerjaan tersebut.

Selina sendiri awalnya tak pernah berpikir bahwa layanan jasa yang dimilikinya itu akan cukup sukses. Saat ia menjalankan misi untuk Miranda beberapa bulan yang lalu, hal itu dilakukannya karena ia sangat memerlukan uang setelah usahanya mengalami kebangkrutan. Dan berhubung ia dikaruniai bakat yang tak biasa, maka ia pun memutuskan untuk memanfaatkan bakatnya tersebut.

Pekerjaan mengintai sendiri juga sebenarnya bukan hal yang disenanginya. Siapa coba yang senang jika harus mengendap-endap di tempat orang lain? Namun setelah ia berhasil menyelesaikan misi mengintai Evan, terlebih bagaimana Miranda memberikannya bonus usai pengintaian tersebut (Miranda sendiri saat ini sedang menyiapkan pernikahannya dengan Evan), Selina merasa tidak ada salahnya jika ia meneruskan usahanya.

Sampai hari ini, di bulan ke enam usahanya, Selina sudah menjalankan tujuh misi. Ia memang sengaja membatasi misi yang dijalankan meski kenyataannya surat yang masuk tiap bulannya bisa mencapai belasan. Selain karena alasan profesionalisme, Selina juga masih berharap ia bisa membangun lagi usahanya yang dulu hancur karena dikhianati sang partner. Jadi sembari ia menjalankan misi-misi pengintaian, Selina juga sudah mulai mengumpulkan lagi berbagai hal yang ia perlukan untuk membuka usaha baru.

***

Pertemuannya dengan Vania dilakukan di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kantor Vania. Saat ia tiba di kafe tersebut, tampak Vania sudah duduk dengan santai di salah satu kursi, membuat Selina sedikit tak nyaman. Meski begitu, melihat meja yang masih kosong dan ekapresi Vania menyambutnya dengan ceria, setidaknya Selina bisa yakin kalau gadis itu tak terlalu lama menunggu.

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Selina,” ujarnya sembari menjabat tangan Selina. Vania berperawakan mungil dengan kulit berwarna putih langsat. Matanya besar dan hidungnya mungil. Rambut pendeknya diwarnai sedikit kecoklatan, memberikan kesan modern pada gadis tersebut.

“Senang juga berkenalan denganmu, Vania. Maaf karena sudah membuatmu menunggu,” balas Selina sambil tak lupa menyunggingkan senyumnya.

“Ah, tidak masalah. Kebetulan kantorku dekat sini, jadi bisa datang tepat waktu. Oya, silakan pesan dulu. Aku kebetulan sudah pesan makan tadi,” kata Vania sambil memanggil seorang pramusaji dengan isyarat tangannya.

***

Sembari menunggu pesanan mereka tiba, Vania kemudian mulai menceritakan awal pertemuannya dengan laki-laki yang diceritakannya. Menurut cerita Vania, ia dan lelaki itu bertemu di sebuah dealer mobil di perbatasan kota. Saat itu Vania dan dua orang rekannya sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota dalam rangka dinas. Saat akan memasuki pintu gerbang kota mereka, tiba-tiba saja mobil yang ia tumpangi mogok. Mau tak mau mobil tersebut harus masuk bengkel. Untungnya saat itu mobil berada tak jauh dari dealer resminya, jadi tanpa pikir panjang Vania dan temannya langsung menuju bengkel tersebut.

“Mari kuulangi lagi. Pria ini tinggi, kulitnya putih, matanya sedikit sipit dan sedikit janggut pada dagunya.”

“Benar.”

“Kau yakin tidak ada tambahan lain? Suaranya misalnya.”

“Tidak. Kami tidak sempat berbicara.”

“Tapi kau yakin bukan dia bekerja di tempat itu?”

“Waktu kami bertemu dia mengenakan seragam yang sama dengan pegawai yang lain. Jadi kurasa jawabannya ya.”

“Baiklah kalau begitu, Vania. Besok aku akan mulai bekerja Nanti kukabari jika ada kemajuan.”

“Oke. Kutunggu kabar baik darimu.”

***

Usai pertemuannya dengan Vania, Selina segera menyusun rencana pengintaiannya. Dealer yang disebutkan Vania terletak di batas kota, dan untuk mencapainya, Selina memutuskan untuk menggunakan jasa taksi untuk kemudian menghilang sebelum memasuki bengkel.

Ada cukup banyak pelanggan saat Selina tiba di dealer. Belasan mobil berjejer rapi di bagian depan bengkel. Sementara pada bagian kantor, para karyawan tampak sibuk melayani pelanggan.

Pria yang dimaksud Vania sendiri katanya bekerja sebagai salah satu mekanik di bengkel tersebut. Dan jujur, hal ini cukup membuat Selina bingung. Vania adalah gadis yang cantik dan memiliki pekerjaan yang bagus. Selina yakin pasti ada banyak pria yang mengantri untuk bisa berkencan dengannya. Namun alih-alih gadis itu malah jatuh cinta pada seorang mekanik bengkel.

Tanpa menunggu waktu Selina segera bergerak menuju bengkel yang terletak di bagian belakang dealer. Kurang lebih ada sepuluh mekanik di tempat tersebut. Tak sulit bagi Selina menemukan sosok yang mendekati gambaran yang diberikan Vania padanya. Hanya ada tiga orang di bengkel tersebut yang berperawakan tinggi dan berkulit putih. Segera Selina mengambil foto masing-masing pria tersebut dengan ponselnya.

***

“Kau yakin dia orangnya?” tanya Selina sambil meminum es jeruk di hadapannya sementara tangannya menempelkan ponsel ke telinga. Sosoknya kini sedang berada di kafe yang terletak tak jauh dari dealer yang baru saja didatanginya.

“Oke. Kalau begitu aku akan kembali ke bengkel untuk menyelidiki pria tersebut,” kata Selina lagi setelah mendapat kepastian dari sumber suara di ponselnya.

Setelah hubungan terputus, Selina segera membuka kembali folder foto pada ponselnya. Diperhatikannya kembali sosok pria yang disebutkan Vania dalam telponnya tadi. Ada sembilan foto yang dikirim Selina. Masing-masing tiga foto untuk tiga pria yang dianggapnya mendekati ciri-ciri yang disebutkan Vania. Dan setelah ia mengirimkan foto-foto tersebut beberapa belas menit sebelumnya, Vania dengan yakin memilih foto nomor 3. Itu adalah foto tampak samping kanan dari pria pertama yang dipotretnya.

Kalau boleh jujur, Selina harus mengakui kalau Vania memiliki selera yang cukup baik dalam menilai fisik seseorang. Pria yang ada di foto tersebut memang memiliki beberapa kelebihan dibanding mekanik yang lain. Dia tinggi, putih, memiliki sepasang mata yang teduh, dan senyum yang menawan. Bahkan jika benar Vania kala itu hanya melihat profil samping pria tersebut pun, itu sudah cukup untuk dijadikan alasan untuk menyebutnya tampan.

Selina melirik arloji di tangan kirinya. Pukul tiga. Berarti dia masih punya waktu beberapa jam untuk menyelidiki pria. Segera ia menghabiskan roti bakar dan es jeruk yang dipesannya tadi. Ia kemudian berjalan ke kasir untuk membayar tagihan, dan segera menghilang saat keluar dari kafe.

***

Tak banyak yang bisa dilakukan saat harus mengintai seseorang, dan itu sangat membosankan. Setidaknya itulah yang selalu dirasakan Selina saat ia menjalankan tugasnya. Seperti saat ini, ia sedang berdiri dengan bosan di antara dua orang mekanik yang sedang sibuk memperbaiki mobil. Selama nyaris tiga puluh menit tidak ada suara yang bisa ia tangkap karena begitu bisingnya bengkel tersebut.

Sampai akhirnya, saat Selina nyaris saja tertidur sambil berdiri, terdengar suara percakapan.

“Jadi gimana, Van? Mau nggak kukenalkan sama teman istriku?” tanya pria berkulit sawo matang pada pria berkulit putih di hadapannya.

Mendengar percakapan tersebut, tiba-tiba saja kantuk yang dilanda Selina menghilang.

“Teman yang mana lagi, nih?” tanya pria berkulit putih.

“Namanya Winda. Dia teman sekantor istriku. Kalau kamu mau biar nanti kami atur pertemuan kalian.”

Mendengar penjelasan pria berkulit sawo matang, pria berkulit putih terdiam sejenak. Gerak-geriknya menunjukkan kalau ada yang sedang dipikirkannya.

“Kenapa? Masih memikirkan gadis yang kemarin?” pria sawo matang bertanya lagi. Sementara Selina semakin memperdekat jaraknya dengan kedua pria tersebut.

“Hmm.. begitulah.”

“Memang dia tidak ada ke sini lagi?”

Pria kulit putih menggelengkan kepalanya. “Kecil kemungkinannya dia ke sini lagi, Don,” katanya kemudian.

“Benar juga. Sudah tanya si bos belum mereka dari mana?”

“Kalau tidak salah mereka dari PT. Semesta Dian.”

Deg! Jantung Selina langsung berdetak mendengar nama perusahaan yang disebut pria kulit putih. Bukankah itu perusahaan tempat Vania bekerja? Tanyanya dalam hati.

“Ya sudah. Kalau begitu kau datangi saja kantornya itu. Tanyai satu per satu karyawan di sana. Apa mereka memiliki karyawan seorang gadis manis bermata indah dengan rambut coklat. Kurasa takkan sulit menemukannya. Apa perlu kutemani?”

Si pria berkulit putih tampak berpikir sejenak. Selina sendiri sudah mulai semakin gelisah dengan posisinya saat ini. Ingin rasanya ia segera berlari meninggalkan kedua pria tersebut dan mengabarkan berita ini kepada Vania.

“Kau yakin dengan usulmu?” tanya pria berkulit putih lagi.

“Tentu saja. Asal kau tahu saja. Aku bosan melihatmu melamun terus sejak bertemu dengan gadis itu.”

Si pria kulit putih hanya bisa tergelak mendengar jawaban pria di hadapannya.

“Baiklah, kalau begitu. Kurasa memang aku harus menemui gadis itu. Kapan kau bisa menemaniku?” Kali ini terdengar nada optimis dari pria kulit putih. Sementara dari tempatnya berdiri, Selina tak bisa menahan senyum lebarnya. Ah, tugas ini akan sangat mudah, katanya dalam hati.

***

04092013

 

Cerita selanjutnya : Her Bestfriend’s Wedding

29 pemikiran pada “Selina Case 2 : Finding Mr. Mechanic

  1. tadinya mikir ada hubunganya dengan cerita pertemuan di mushalla bengkel. tapi kalau di mushalla bengkel si perempuan memakai kaos kaki…. mikirnya berjilbab 🙂
    tapi si vania nggak berjilbab. tapi lagi…. sosok cowoknya berjenggot tipis…

    hmmm…..

  2. Ping balik: Selina Story : Another Bestfriend [part 2] | SAVING MY MEMORIES

  3. Ping balik: [cerpen] Selina Gadis Pengintai | SAVING MY MEMORIES

  4. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s