[WC#14] Write Anything You Want

Pagi itu, di bulan Ramadhan, sesuai jadwal saya datang ke ma’had untuk menyetor hafalan. Ada dua orang teman hari itu. Ketika saya menyalami mereka satu persatu, Pipit, salah satu teman membisikkan sesuatu ke telinga saya, “Maaf, ukh, mungkin ada baiknya kalau bajunya dilapis lagi.”

Jleb. Begitu kira-kira bunyi jantung saya ketika mendengar teguran Pipit tersebut. Meski sebenarnya terusan yang saya kenakan hari itu sudah memakai puring di dalamnya, dan saya juga mengenakan celana panjang lagi sebagai dalaman, namun rupanya ada bagian yang menerawang saat terkena cahaya matahari. Akibatnya, sebagian dari kaki saya terlihat, meski hanya berupa bayangan. “Oke, kalau begitu baju ini akan dipensiunkan saja,” kata saya dalam hati kemudian.

Baca lebih lanjut