[WC#1] Write a Short Autobiography

Saya dilahirkan sebagai putri sulung dari tiga bersaudara. Ayah saya dulunya adalah Pegawai Negeri Sipil di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan ibu, meski berstatus sebagai ibu rumah tangga namun untuk menambah penghasilan keluarga, beliau mengolah kue-kue khas banjar yang kemudian dititipkan ke beberapa warung di pasar.

Terlahir dengan nama Antung Apriana, sebagian orang mungkin akan bertanya apa arti dari nama saya tersebut. Sebagian yang tahu akan mengatakan bahwa nama Antung adalah gelar kebangsawanan. Memang untuk daerah Banjar, orang-orang dengan nama depan Gusti dan Antung bisa dikategorikan sebagai keturunan raja-raja Banjar terdahulu. (keterangan bisa dibaca di sini)

Namun untuk saya pribadi, nama depan Antung mungkin lebih merupakan hadiah dari almarhum kakek atas kelahiran saya. Almarhum kakek sendiri memang menyandang nama Gusti di depan namanya. Putra-putri juga beliau memiliki nama depan Gusti untuk laki-laki, dan Antung untuk perempuan, termasuk ibu saya. Berdasarkan silsilah, karena ibu saya tidak menikah dengan pria yang memakai nama Gusti, tentunya garis bangsawan itu akan hilang. Namun karena saya adalah cucu pertama, maka almarhum kakek kemudian menghadiahkan nama Antung untuk saya.

Masa-masa sekolah saya habiskan di Banjarmasin, kota kelahiran saya. Selepas SMA, saya memutuskan diterima di fakultas Teknik Sipil Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Sejujurnya pilihan teknik sipil ini sangat jauh dari cita-cita saya yang waktu itu ingin menjadi wartawan. Tambahan lagi, saya bahkan tidak tahu sama sekali apa itu jurusan teknik sipil. Namun karena waktu itu tidak ada jurusan komunikasi di Unlam, juga karena saya tidak punya bakat menggambar untuk mengambil jurusan arsitetur, maka akhirnya saya memilih jurusan Teknik Sipil dengan pemikiran jurusan ini akan memudahkan saya untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil.

Baru setelah diterima di fakultas teknik saya akhirnya mengetahui apa saja bidang dari jurusan yang saya daftarkan kala itu. Ternyata dengan mengambil jurusan teknik sipil, saya harus siap berhadapan dengan matahari untuk mengukur jalan, mengaduk semen untuk praktikum beton, menggoreng aspal, mengukur debit saluran, dan berbagai praktikum lainnya.

Bagi saya pribadi, masa kuliah selama empat tahun tersebut adalah salah satu masa yang sangat menyenangkan. Saya berkenalan dengan teman dari berbagai daerah. Saya berhasil akrab dengan orang yang sejak SMP saya taksir. Dan yang paling tak terlupakan tentunya adalah pertemuan saya dengan orang yang memberi saya nama ayanapunya.

Dia adalah salah satu teman satu angkatan. Putih, tinggi, sedikit gemuk, dan tampan. Kami berteman selama tiga tahun sebelum akhirnya bersepakat untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Sayangnya karena berbagai hal, hubungan kami kandas. Dia kini sudah menikah dan saya masih menunggu jodoh saya.

Ayanapunya sendiri diambil dari panggilan adik laki-laki saya pada saya (ayana) dan kebiasaan dia untuk menambahkan kata punya pada benda-benda yang dia miliki. Kata orang, saat kita mencintai sesuatu, maka kita akan menyukai hal yang disukai orang tersebut. Dan saya, sebagai tanda cinta saya padanya, menambahkan kata punya tersebut pada nama saya.

Saat hubungan kami kandas, saya mulai menulis. Rasa sakit yang saya rasakan kala itu saya tumpahkan dalam berbagai tulisan. Mulanya hanya puisi-puisi pendek di notes facebook. Lalu kemudian tulisan-tulisan tak jelas di blog Multiply, hingga akhirnya saya berhasil menulis beberapa cerpen.

Pada masa itulah saya mulai menghidupkan kembali mimpi saya yang sempat terkubur. Sederhana saja. Saya ingin nama saya terpampang di sebuah media. Dan rupanya Allah mengabulkan doa saya ketika cerpen saya dimuat di salah satu harian lokal. Di sinilah kemudian saya menandai dirinya, melalui luka yang dia berikan, sebagai orang yang membantu saya mewujudkan mimpi saya.

Saat ini saya sendiri masih terdaftar sebagai karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengawasan proyek pemerintah. Jika waktu sedang senggang saya sempatkan untuk menulis beberapa kalimat pembuka untuk cerpen, cerbung, novel dan tentunya mengisi blog. Beberapa cerpen berhasil saya selesaikan, beberapa lagi masih mengendap di pertengahan bahkan kadang di kalimat pembuka. Sampai hari ini saya masih berjuang untuk mewujudkan mimpi saya. Mimpi sama dengan yang saya ucapkan saat masih SMA, namun dalam skala yang lebih besar. Saya ingin menerbitkan novel saya sendiri.

39 pemikiran pada “[WC#1] Write a Short Autobiography

  1. Saya takut kalau udah berhadapan dengan keturunan raja, nih! Ha. 80 persen yang jadi wartawan bukanlah lulusan ilmu komunikasi/jurnalistik. Hal itu terbukti, banyak lulusan IPB malah jadi wartawan di beberapa surat kabar nasional. Tapi, dengan di teknik sipil, mbak kan jadi orang lapangan. Dengan begitu, aku kira inspirasi banyak terhampar di jalanan..haha.

  2. Nulis cerpen itu memang sulit. #keluh. Sedang merasakan apa yang Ayana rasakan. Tapi, semangat! Eh mau ikutan tantangan, gak? Deadline tanggal 30 september kita kirim ke Gagasmedia. Cuma saya dan temen saya, sih, tapi kalo Ayana mau ikutan, yuuuuk?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s