[cerbung Cemara] Randu & Akasia

Selain ayahnya, ada seorang lagi pria tampan di keluarga mereka. Dia adalah Randu, adik laki-laki Cemara yang kini sedang menjalani semester empatnya di Politeknik jurusan teknik elektro di kota mereka. Sama seperti Cemara, Randu mewarisi bagian-bagian dari fisik ibu mereka. Bentuk wajah persegi, tulang pipi yang tinggi, alis yang tidak terlalu tebal dan hidung runcing. Jikapun ada gen fisik ayah mereka yang diturunkan pada Randu, maka itu jelas ada pada tubuh jangkung dan kulit putih bersihnya.

Saat dia masih kuliah dulu, Cemara kerap menggoda Randu yang saat itu masih duduk di bangku SMP. Dia kerap memanggil Randu dengan nama artis pria kesukaannya atau berpura-pura sebagai fans beratnya. Memang buka rahasia jika di masa sekolahnya Randu termasuk dalam daftar siswa yang memiliki banyak penggemar. Cakep, pintar, anak basket juga, siapa coba yang tidak kesengsem? Randu sendiri saat itu hanya bisa tersenyum malu setiap kali Cemara mulai menggodanya.

Selepas kuliah, Cemara memilih untuk bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta, dan pulang setidaknya dua kali dalam setahun. Dalam setiap kepulangannya ke rumah, entah mengapa Cemara selalu merasa kalau terjadi perubahan pada adik-adiknya, terutama Randu. Ketika Cemara bercerita tentang perasaannya tersebut pada ibunya, sang ibu hanya berkata wajar saja kalau Randu berubah. “Dia kan sudah SMA, nggak mungkin lagi dong bertingkah laku seperti anak SMP yang sering kamu godain,” begitu kata ibunya.

Kala itu, Cemara berusaha menerima penjelasan ibunya tentang faktor perubahan usia tersebut. Selain itu mungkin juga karena Cemara hanya pulang dua  kali setahun yang membuatnya merasa kehilangan kedekatan dengan adik-adiknya (meski hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk kedua orang tuanya). Meski begitu, semenjak dirinya kembali ke rumah dua tahun yang lalu, Cemara semakin yakin kalau memang ada yang berubah dari Randu.

Perubahan yang paling terasa adalah Randu semakin jarang ada di rumah. Selain sibuk dengan kuliahnya, adik laki-lakinya itu rupanya juga disibukkan dengan kegiatan di organisasi kampusnya. Cemara sebenarnya tidak keberatan jika adiknya aktif dalam kegiatan kampus. Tapi jika untuk itu Randu harus mengorbankan waktunya di rumah, wajar dong kalau Cemara mengajukan protes?

“Organisasi kok hampir tiap minggu bikin kamu pulang malam? Organisasi apaan tuh?” tanya Cemara tiap kali ia menemukan Randu pulang malam.

“Ya organisasi kampus, Ka. Memangnya dulu kakak nggak ikut organisasi pas kuliah?” jawab Randu.

“Ikut. Tapi perasaan kakak dulu nggak sesibuk kamu sekarang.” Cemara tetap bersikeras dengan pemikirannya.

“Ya sudah kalau kakak nggak percaya!” jawab Randu lagi yang sukses membuat Cemara mengurut dada.

Puncak dari perseteruan Cemara dan Randu terjadi setahun yang lalu, saat Randu mengungkapkan keinginannya untuk tinggal di kos. Saat itu mereka berempat sedang berkumpul di meja makan usai makan malam. Memang sudah jadi kebiasaan di keluarga itu untuk mendiskusikan berbagai selepas makan malam usai.

“Buat apa sih ngekos segala? Rumah kita kan nggak jauh-jauh amat dari kampus kamu, Ndu,” protesnya saat itu.

“Pengen belajar mandiri, Kak. Aku kan anak laki-laki.”

“Mandiri kan nggak harus dengan keluar dari rumah.”

“Lalu kenapa dulu kakak memilih bekerja di Jakarta?”

Cemara terdiam. Tak menyangka adik laki-lakinya itu akan membalasnya dengan sangat telak.

“Tapi ntar siapa yang nganterin Akasia kalau mau jalan?” Tanya Cemara lagi. Rupanya ia masih belum menyerah dengan usahanya.

“Akasia tahun ini 17 tahun. Dia udah bisa bawa motor sendiri.”

“Ntar kalau kamu terjebak sama pergaulan bebas, gimana?”

Mendengar kata-kata Cemara tersebut, ayah mereka yang sedari tadi diam saja tiba-tiba bersuara.

“Cemara, sudahlah. Masa kamu tidak percaya sama adik kamu sendiri?”

Mendengar kata-kata ayahnya, Cemara tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ayah, yang merupakan pengambil keputusan di rumah itu secara tidak langsung sudah menyetujui permintaan Randu. Randu sendiri langsung menyunggingkan senyum kemenangannya ketika mengetahui ayah mereka tak mempermasalahkan keinginannya.

“Baiklah, kalau begitu. Tapi Randu harus janji bakal pulang satu minggu sekali.” Akhirnya Cemara pun menyerah.

***

Sayangnya permintaan Cemara agar Randu pulang satu minggu sekali tersebut hanya ditepati pada dua bulan pertama setelah ia resmi keluar dari rumah. Memasuki bulan ketiga, Randu mulai mengurangi frekuensi kepulangannya. Mulai dari dua minggu sekali, kemudian satu bulan sekali, dan sekarang memasuki satu tahun sejak ia pindah ke kos, Cemara menyadari kalau adiknya itu sudah tidak pulang selama nyaris 2 bulan penuh!

“Sisi, kamu tau nggak sih kemana sebenarnya abang kamu itu? Masa udah dua bulan nggak ada kabar sama sekali?” tanya Cemara pada Akasia sore itu.

“Nggak tahu juga, Kak. Orang aku sms juga nggak ada dibalas. Tuh Kak Gita aja juga nyariin dia.” Gita adalah kakak dari sahabat Akasia yang juga merupakan teman kuliah Randu.

“Gita nyariin dia juga? Emang dia nggak ada di kampus?”

“Sepertinya.”

“Duh, anak itu. Itulah makanya kakak dari dulu nggak setuju kalau dia nge-kos. Dia bakal seenaknya aja. Mentang-mentang nggak ada yang ngingetin. Ntar kalau ada apa-apa kita yang dibikin repot.”

“Sudahlah, Kak. Nggak usah terlalu khawatir begitu. Insya Allah kak Randu baik-baik aja. Paling-paling dia lagi sibuk naik gunung,” kata Akasia lagi.

Mendengar penjelasan adiknya, tanpa sadar Cemara mendengus perlahan. Setelah enam bulan keluar dari rumah, Cemara akhirnya mengetahui kalau selain sibuk di organisasi kampusnya, Randu juga bergabung dengan sekelompok anak-anak pecinta alam. Pantas saja dia ngotot untuk tidak tinggal di rumah lagi. Bisa-bisa pecah perang terus antara dirinya dan Randu jika adiknya itu tetap berada di rumah.

Cemara sendiri tak tahu pasti sejak kapan adik laki-lakinya itu tertarik pada kegiatan tersebut. Seingatnya saat masih sekolah dulu Randu lebih tertarik pada dunia pengetahuan. Bahkan pilihan untuk kuliah di jurusan teknik elektro juga adalah keinginan pribadinya. Dari Akasia-lah Cemara tahu kalau sebenarnya sejak SMA Randu sudah berkenalan dan tertarik dengan kelompok pecinta alam tersebut. Namun baru ketika duduk di bangku kuliah ia memutuskan untuk benar-benar bergabung dengan mereka.

Memang jika dibandingkan dengan dirinya, Akasia memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Randu. Bukan hal yang aneh sebenarnya. Usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Randu juga yang selama ini bertanggung jawab mengantar jemput Akasia ke sekolahnya sebelum ia memiliki SIM. Jadi sangatlah wajar jika Randu lebih nyaman berbagi cerita pada Akasia ketimbang pada Cemara yang usianya terpaut tujuh tahun.

Saat ini Akasia terdaftar sebagai siswa kelas XI di salah satu SMA  favorit di kota mereka. SMA ini dulunya juga menjadi tempat belajar Cemara dan Randu. Berbeda dengan dirinya, orang-orang selalu mengatakan kalau Akasia memiliki kepribadian yang lebih dewasa dan bijak. Tubuhnya mungil, dengan kulit putih bersih. Berbeda dengan Cemara dan Randu, Akasia memiliki wajah yang sangat mirip dengan ayah mereka.

Meski terlahir sebagai anak bungsu, sejak kecil Akasia tak pernah menunjukkan sifat manja. Dia juga terlihat lebih pendiam ketimbang Cemara yang dikenal grasak-grusuk dan ceriwis. Kedewasaan ini kemudian semakin matang setelah ibu mereka meninggal dua tahun yang lalu. Bahkan meski di rumah itu Cemara lah yang mengambil alih tugas ibunya, namun dalam hal musyarawah keluarga, tak jarang suara Akasia-lah yang lebih didengar.

***

Jelang magrib, akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu datang juga. Randu datang dengan kulit yang semakin gelap, rambut ikal yang tak terurus, dan sebuah tas ransel yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Saat Cemara melihat penampilan adik laki-lakinya tersebut di dapur, ia hanya mengerutkan kening tanda tak suka.

“Akhirnya ingat rumah juga, Ndu?” sapanya kemudian, yang tak dijawab oleh Randu. Alih-alih, adik laki-lakinya tersebut segera membongkar isi tasnya dan memasukkan pakaian-pakaian yang kotor ke dalam mesin cuci.

Malamnya, Cemara dan anggota keluarga yang lain berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Seperti biasa makan malam merupakan momen di mana seluruh keluarga berkumpul dan saling bercerita. Biasanya ayah akan memulai pembicaraan dengan bertanya adakah yang ingin bercerita? Dan karena Randu saat ini sedang berada di rumah, maka sudah pasti orang yang ditanyai pertama kali adalah dirinya.

“Jadi, apa kabarnya anak ayah yang hilang?” tanya ayah di sela-sela makan malam.

“Alhamdulillah baik, Yah.”

“Kak Randu baru pulang dari mana nih? Kali ini Akasia yang bertanya. “Kak Gita nyariin terus tuh,” tambahnya lagi.

“Dari Semeru,” jawab Randu.

“Semeru?! Wuih, kayak film 5 cm dong Kak?”

“Begitulah,” jawab Randu tanpa bisa menyembunyikan nada bangga dalam suaranya.

Cemara sendiri mendengarkan pembicaraan kedua adiknya tersebut dengan hati dongkol, terutama kepada ayahnya. Kenapa coba ayahnya tak memprotes sedikit pun soal Randu yang tak pulang selama dua bulan dan ketahuan bolos kuliah selama berhari-hari? Belum lagi kenyataan bahwa Randu pergi naik gunung tanpa meminta izin terlebih dahulu dengannya atau ayahnya. Hanya karena Randu adalah anak laki-laki, tak berarti ayahnya tak perlu khawatir bukan? Tanyanya dalam hati.

Akasia juga seolah-olah sangat mendukung kegiatan kakak laki-lakinya itu. Ini terlihat bagaimana antusiasnya adik bungsunya itu meminta Randu menceritakan perjalanannya mendaki gunung Semeru. Randu tentu saja besar kepala mendapati ayah dan adiknya begitu antusias mendengar ceritanya. Jadilah makan malam kali itu diisi dengan berbagai cerita Randu tentang pendakian gunung Semeru-nya.

Akhirnya, karena kesal dengan pikirannya sendiri Cemara memutuskan meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Tak lupa sebelum beranjak dari kursinya, Cemara menumpahkan kekesalannya. “Naik gunung sih naik gunung. Tapi jangan sampai lupa rumah dan kuliah juga kali,” katanya kemudian.

***

Tulisan sebelumnya bisa dibada di sini

14 pemikiran pada “[cerbung Cemara] Randu & Akasia

  1. Mendengar kata-kata Akasia tersebut, ayah mereka yang sedari tadi diam saja tiba-tiba bersuara.

    Bukannya itu “Cemara” yang berkata kak?

    #Keren ceritanya mbak…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s