pemeriksaan pekerjaan : beton yang dibobok

Hari Jum’at lalu, saya mendapat telepon dari teman sesama pengawas di kantor. Akan ada opname (pemeriksaan pekerjaan) pada lokasi yang kami awasi, begitu kata teman saya itu. Teman saya itu sendiri hari itu tidak bisa menghadiri opname tersebut karena ada keperluan di tempat lain. Dan karena saya terdaftar sebagai pengawas kedua pada proyek tersebut, maka secara otomatis sayalah yang harus menghadiri pemeriksaan pekerjaan tersebut.

Berangkat dari rumah pukul setengah sembilan, saya mendapati lokasi pekerjaan masih sepi. Tak ada tanda-tanda pegawai PU di tempat tersebut. Padahal dari info yang diberikan teman saya, opname pekerjaan akan dilakukan pada pukul delapan pagi. “Lalu kenapa sudah jam sembilan begini belum ada orang?” tanya saya dalam hati.

Tak lama kemudian saya mendapat telepon -yang kali ini dari pegawai PU- yang mengabarkan kalau hari ini akan diadakan opname pekerjaan dan mereka baru akan berangkat menuju lokasi.

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, akhirnya petugas dari PU tiba di lokasi. Rupanya ada sedikit misskomunikasi antara saya dengan pihak PU. Dari info yang saya dapat, setelah memberitahu kalau opname akan dimulai pukul delapan, pihak PU sempat membatalkan rencana tersebut. Namun kemudian mereka kembali ke rencana semula untuk melaksanakan opname. Itulah sebabnya mengapa saya bisa lebih dulu tiba di lokasi.

Tanpa banyak bicara proses pemeriksaan pekerjaan pun dimulai. Selain saya dan tiga orang dari pihak PU, dua orang wakil dari kontraktor juga hadir dalam pemeriksaan pekerjaan ini. Kami pun berbagi tugas. Dua orang petugas PU bertugas mengukur panjang jalan, sementara saya dan pihak kontraktor bertugas mengukur ketebalan beton yang dicor yang hasilnya kemudian dicatat oleh petugas PU yang lain.

Ketika pemeriksaan sedang berjalan, seorang petugas PU yang bertugas mengukur jalan berkata pada kami. “Itu kenapa di ruas yang itu cor-coran nya dirusak ya?” tanyanya sambil menunjuk ke salah satu ruas.

Penasaran, kami pun segera menuju lokasi yang dimaksud. Benar saja. Pinggiran dari beton yang sudah dicor yang seharusnya berbentuk sudut kini sudah berubah menjadi miring, lengkap dengan bekas pembobokan beton tersisa di sampingnya. Dilihat dari kerusakannya, jelas sekali terlihat pekerjaan itu dilakukan dengan sengaja.

DSC00423

Kami pun kemudian bertanya pada pemilik rumah yang ada di depan jalan yang dirusak itu.

“Ini kenapa betonnya dibobok, Bu?” tanya pegawai PU.

“Memang sengaja kami bobok, bu. Soalnya mobil nggak bisa parkir.” Ibu pemilik rumah memberi alasan.

“Harusnya jangan begitu, Bu. Ini kan pekerjaanya belum diserahterimakan. Kasihan kontraktornya nanti,” kata pegawai PU.

“Iya. Tapi nanti bakal kami perbaiki lagi kok itu betonnya,” si ibu berkata lagi.

“Bukan masalah diperbaiki atau tidak sih, Bu. Masalahnya ini pekerjaan bagus tapi dirusak. Belum lagi pekerjaannya belum dibayar,” balas pegawai PU lagi. Kali ini dengan nada memperingatkan.

Setelah itu sempat terjadi diskusi yang cukup alot antara pemilik rumah dan pegawai PU perihal beton yang dibobok tersebut. Pihak pelaksana sendiri juga terlihat cukup kesal dengan kelakuan si pemilik rumah. Dengan nada tegas ia bahkan berkata, “Beton baru dicor terus dibobok itu namanya merusak pekerjaan. Kalau memang mobilnya mau parkir, kenapa nggak disemen sendiri? Rumah lain juga punya mobil. Dan mereka punya inisiatif buat bikin turunan buat mobilnya. Emang dasar mereka aja yang pelit!”

Mendengar kalimat tersebut, saya hanya bisa tersenyum sambil menyepakatinya dalam hati. Saya sendiri tak habis pikir kenapa si pemilik rumah itu begitu rajinnya membobok beton yang sudah dicor tersebut? Apakah tidak punya dana untuk membeli semen?Ā  Atau memang tenaga yang digunakan untuk membobok semen lebih sedikit ketimbang jika harus memasang papan turunan buat mobil mereka? Sungguh pemikiran yang aneh!

Usai selesai dengan pemeriksaan di ruas tersebut, kami pun melanjutkan pemeriksaan ke ruas yang lain. Begitu pekerjaan pemeriksaan selesai, sayup saya dengar pembicaraan warga sekitar.

“Itu yang punya rumah itu tadi ditegur sama orang PU. Soalnya dia merusak jalan yang dicor.”

Mendengar percakapan tersebut lagi-lagi saya tersenyum. Sepertinya si pemilik rumah yang membobok beton itu sudah menjadi topik hangat di komplek tersebut.

26 pemikiran pada “pemeriksaan pekerjaan : beton yang dibobok

    • Yang ngecor kontraktor, mba. Ceritanya satu komplek dicor jalannya. Ngecor jalannya kan lebih tinggi tuh dari teras rumah di komplek. Jadi tiap rumah rata2 beli semen sendiri buat bikin jalan turunannya. Nah yang ini rada ngeyel. Padahal ujung2nya dia juga yang nutupi kerusakannya. Dua kali kerja kan jadinya

  1. main bongkar sendiri cor-coran seperti diatas itu keliru karena pastinya menyebabkan kerugian (bisa dikategorikan merusak fasilitas umum gak ya hehehe).
    namun dari segi keselamatan harusnya perusahaan yang ngecor juga mempertimbangkan pengendaliannya mengingat ada perbedaan tinggi-rendah yang kemungkinan akan menyebabkan kecelakaan.
    nek menurutku tetep podo2 le kleru šŸ™‚

    • kalau misalnya kontraktor ngasih turunan ke satu rumah misalnya, ntar rumah lain minta juga. makanya diputuskan buat nggak dibikinin turunan. biar yang punya rumah yang ngakalin sendiri maksudnya. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s