Tulis ulang atau revisi?

Barusan dapat ilmu baru seputar tulis-menulis dari Agustinus Wibowo. Ilmu ini saya dapat setelah membaca status Lalu Abdul Fatah yang ini:

Itulah kiranya perlu berjarak dengan tulisan yang telah dibuat. Untuk ditengok kembali pada suatu masa. Lantas, memperbaiki sendiri kekurangan-kekurangannya. Dan, pasti akan banyak bertemu lubang. Butuh kesabaran untuk menambalnya. Bahkan, jika stok sabarmu masih sangat banyak, patutlah itu tulisan ditulis ulang. Tidak sekadar revisi. Tapi, ditulis ulang berkali-kali. Sebagaimana Agustinus Wibowo menulis ulang Titik Nol hingga lebih 20 kali. Menulis ulang. Bukan sekadar revisi.

Baca lebih lanjut