Rentenir Penghisap Darah

Hari itu, karena sesuatu hal saya harus pulang ke rumah saat jam makan siang. Namanya ada di rumah, jadi wajar dong kalau saya rasanya pengen leyeh-leyeh dulu sebelum kembali lagi ke kantor. Nah, saat sedang beristirahat, tanpa sengaja saya lihat ada seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu rumah.

“Nyari siapa, Mba?” tanya saya pada wanita itu. Kala itu saya pikir dia salah satu pelanggan yang mau pesan kue pada ibu saya.

“Mama ada?” tanya wanita itu.
“Wah, mama lagi ziarah ke Martapura. Ada apa, ya?” tanya saya lagi.

Sejenak, wanita itu tampak terdiam. Wajahnya tampak kebingungan.

“Saya ini acilnya (tante) AL,” katanya akhirnya, sambil menyebutkan nama salah satu sepupu saya.

Sontak saya terkejut mendengar jawaban wanita tersebut. Rupanya wanita tersebut masih ada kaitan keluarga dengan saya, meski bukan dari keluarga inti. Akhirnya saya pun mempersilakan wanita itu masuk.

“Ada urusan apa ya, Cil?” Saya bertanya ketika kami sudah berada di ruang keluarga. Suasana canggung terasa sekali mengingat ini adalah pertama kalinya kami bertemu. Awalnya, wanita itu terlihat ragu untuk bercerita. Namun akhirnya ia memutuskan untuk menjelaskan maksud kedatangannya kala itu.

“Saya datang ke sini atas saran AL. Katanya mungkin Acil Haji bisa membantu masalah saya,” begitu ia memulai ceritanya. Kemudian mengalirlah cerita itu.

Beberapa bulan yang lalu aku terkena stroke. Untuk membiayai pengobatanku, suamiku berhutang pada seorang rentenir. Rentenir itu kemudian meminta bunga sebanyak 250 ribu per bulan sampai kami bisa melunasi hutang kami. Sekarang hutang itu sudah tertunggak selama 2 bulan, dan kami harus membayar bunga sebesar 500 ribu. Suamiku saat ini sedang bekerja di Pelaihari dan aku hanya bisa membayar bunga sebesar 400 ribu. Namun si rentenir itu menolak dan malah mengatakan aku tak berniat membayar hutang kami.

Ketika aku mengetahui suamiku berhutang pada rentenir, aku berteriak padanya. “Kenapa tak kau biarkan aku mati saja? Dengan begitu kita tak perlu menanggung hutang seperti ini.” Sungguh hutang seperti ini sangat menjerat leherku.

Jujur saya hampir menangis ketika mendengar cerita wanita itu. Hutangnya tak seberapa, namun bunga yang melilitnya benar-benar menyiksa. Jelas sekali terlihat bagaimana wanita itu mengalami kesulitan. Tapi saat itu saya tak bisa berbuat apa-apa. Ibu tak ada di rumah, dan ayah saya hanya sendirian di rumah. Rasanya tak mungkin meninggalkan wanita itu di rumah sendirian sementara saya kembali ke kantor.

Untungnya tak lama kemudian saya teringat akan Acil SF, sepupu ibu saya yang tinggal di belakang rumah. Saya tanyakan apakah wanita itu kenal dengan acil SF, dan untunglah ternyata mereka berdua saling mengenal. Akhirnya kemudian saya menitipkan wanita tersebut ke rumah acil Isap sampai ibu saya pulang nanti.

Sepulang kerja, saya menemukan wanita itu bersama dengan ibu saya. Tampak ibu saya berbicara padanya sambil menyerahkan sejumlah uang. Sambil lalu saya mendengar ibu saya berkata pada wanita itu, “Segera lunasi hutangmu malam ini juga beserta bunga yang tersisa. Jangan ditunda lagi.”

***
Selama ini saya hanya mendengar cerita-cerita tentang bagaimana rentenir menggerogoti para “kliennya” dari berbagai kisah dan beberapa sinetron. Belum pernah saya menghadapi langsung orang yang terjerat rentenir seperti cerita wanita yang datang ke rumah orang tua saya hari itu. Dan jujur, setelah mengetahui sendiri kisahnya, saya baru tersadar bagaimana jahatnya para rentenir itu.

Bayangkan, seseorang berhutang pada rentenir sebanyak dua juta rupiah dengan bunga 250 ribu sebulan. Seharusnya dengan mengangsur 8 bulan, hutang itu sudah lunas. Namun dengan sistem rentenir, selama si terhutang tidak bisa membayar lunas hutang 2 juta itu, maka ia akan tetap harus membayar bunga setiap bulannya. Alamak..kalau hutang tertunggak setahun, itu berarti bunga yang dibayar malah lebih besar ketimbang hutangnya, dong?!! Pantas saja orang kadang mengibaratkan pada rentenir sebagai penghisap darah.

Belakangan juga saya baru mengetahui, kalau wanita yang kemarin datang ke rumah sampai harus mengungsi ke rumah saudara jauh agar tidak diteror oleh anak buah si rentenir. Dan saat mengetahui sang ibu tidak ada di rumah, anak buah para rentenir itu memukuli anaknya yang tinggal di rumah sebagai balasan karena tidak mendapatkan uang mereka :(.

 

35 pemikiran pada “Rentenir Penghisap Darah

  1. Kasihan ya Ka,
    hal serupa juga pernah terjadi pd kaka ulun. Ulun sih masih ngga ngerti maklum masih unyu2.. :), jadi tau2 toko besarnya habis dllalap ma lintah darat.
    Alhamdulillah kaka skrg sudah balik lagi meski tak se”hebat” dulu dlm mslh ekonomi..
    Emang harus dibinasakan tuh model2 lintah darat kayak gitu

  2. pernah kenal orang yg berprofesı kayak gıtu..dıa sıh ksh bunganya ga tınggı ..cuma puluhan rıbu aja..tapı tetap aja saya bılang praktek rentenır..ga halal. dan nyuruh ıbu ga usah berurusan sm org ıtu kl mshl duıt. ga halal tıtık. dıa jg serıng mınjemın ke orang2 kampung duıt kl ngembalıın hrs kash lebıh.besarannya dıa tentukan. Dan suatu harı mobıl avp kesayangannya yg br lunas kredıtan malah dı curı orang-.- : saya bılang sm ıbu: kalau hartanya dr praktek rentenır gıtuan..lıat aja kan..Alloh aja ga redho

  3. astagfirullah… aku pribadi belum pernah ‘nemu’ orang seperti itu.

    Semoga masalah si ibunya cepet selesai dan dijauhkan dari para rentenir 😥

  4. jaman saya kecil dulu, beberapa ibu tetangga saya berprofesi sebagai rentenir terhadap para pedagang di pasar. Ciri khasnya mudah dikenal, yaitu berkunjung ke lapak para pedagang sambil bawa buku notes kecil. Rentenir alias lintah darat memang kejam. Itulah sebabnya rente merente (riba) diharamkan dalam Islam. Bisa dilihat antara lain di surat Al Baqarah 275-278 dan Ali Imran 130. Kita pun sebenarnya bisa secara tak disadari berperan menjadi “rentenir” juga, atas bunga yang kita peroleh dari penyimpanan uang di bank konvensional.

    • “Kita pun sebenarnya bisa secara tak disadari berperan menjadi “rentenir” juga, atas bunga yang kita peroleh dari penyimpanan uang di bank konvensional.”

      maksudnya gimana, dok? kalo kita ambil kita jadi rentenir gitu?

      • yah semacam itulah….Bunga itu kan di dapat dari bunga yang ditetapkan atas pinjaman nasabah lain juga. Kalau memang belum ada bang syariah, bunga di bank konvensional jangan diambil. Atau kalau diambil, sebagian ulama menyarankan, digunakan untuk hal-hal yang “kotor”. Misalnya, perbaikan selokan, toilet, dll

  5. Rentenir di sini ada yang djadikan usaha keluarga 🙂 dg bbrp anggota keluarganya bekerja di bank. Terlihat kaya memang, usaha ritel menyebar di kota tmpt tinggal mereka, tp wallahua’lam ya perputaran uangnya bgaimana. Smpat ad korban yg dsuruh ttd srt pernyataan kosong, kemudian srt pjanjian tsb dtuliskan bhwa korban telah mnerima dana 1M TUNAI, krn usaha korban sdg sepi, renten skluarga mengusir korban dr rmh pd mlm hri, sktr jm 9 wita saat korban sdg beristirahat.
    Allah maha tahu sgla2nya, kpn hri slh satu anggota kluarga renten tsb tlibat kasus fraud bank tmpt dy brkerja. Semoga sgra dtg hidayah untuk para renten d muka bumi ini, smg smw korban renten dberikan kmudhan untuk mlunasi hutang2nya, aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s