cerpenku di majalah femina

Sekitar bulan Februari yang lalu, saya menulis sebuah cerpen yang saya beri judul Travelmate, yang bercerita tentang percakapan dua orang yang bertemu dalam sebuah perjalanan. Ide cerita dari cerpen ini sendiri diambil dari pengalaman saya ketika melakukan perjalanan sendirian ke kota Tenggarong, untuk mengunjungi seorang sahabat. Juga dari sebuah cerpen milik Desi Puspitasari yang bercerita tentang seorang perempuan yang “kabur” jelang hari penikahannya.

Usai menyelesaikan cerpen tersebut, seperti biasa saya mempublishnya ke MP dan facebook, tentunya dengan setting khusus kontak. Alhamdulillah, komentar yang diberikan teman-teman cukup bagus sehingga membuat saya cukup percaya diri untuk mengirimkan cerpen tersebut ke media. Kala itu Koran Tempo menjadi pilihan pertama saya. Namun rupanya rezeki belum berpihak pada saya. Setelah empat bulan menunggu tanpa kabar, akhirnya saya memutuskan mengirimkan naskah cerpen tersebut ke majalah Femina.

Kurang lebih satu bulan setelah naskah tersebut dikirim, saya tiba-tiba mendapat telepon dari majalah Femina. Saat itu bulan Ramadhan, dan saya sedang berada di kantor, sibuk dengan “pekerjaan” rutin saya. Dalam teleponnya tersebut, pihak majalah Femina memberitahukan bahwa cerpen saya akan dimuat di edisi 33 majalah tersebut. Selain itu saya sempat “diwawancara” sedikit seputar proses kreatif dari cerpen yang saya kirim, serta kemungkinan cerpen saya pernah dimuat di media cetak lain.

Beberapa hari setelah telepon yang pertama, pihak Femina kembali menghubungi saya. Kali ini untuk memberikan kepastian seputar dimuatnya cerpen saya, serta memberitahukan hal yang harus saya lakukan sebelum cerpen dimuat, yakni menandatangi surat konfirmasi yang akan dikirimkan beberapa hari kemudian.

Sekitar dua minggu setelah saya mengirim balik surat konfirmasi yang dikirimkan kepada saya, majalah Femina edisi 33 pun terbit. Saya yang sudah tak sabar lagi ingin melihat cerpen saya langsung bergegas menuju penjual majalah langganan untuk membeli majalah tersebut.

Begitu majalah di tangan langsung saya cari bagian cerpen. Dan taraa…cerpen saya berada di halaman 146, dengan judul yang sudah berganti menjadi Teman Seperjalanan. Pada penjual majalah dengan noraknya saya memperlihatkan cerpen tersebut, “ini lho paman cerpenku yang dimuat di majalah,” kata saya sambil menunjukkan nama saya yang tercantum tepat di bawah judul cerpen. Entah apa yang ada di pikiran penjual majalah itu melihat kelakuan saya tersebut.

Dengan senyum masih terukir di bibir, saya pun segera mengendarai kembali motor saya. Hari itu, 15 Agustus 2012, satu impian saya terwujud. Mendapati nama saya tertera di media cetak. Entah kapan waktunya saya akan bisa mendapati nama saya tercetak di halaman depan sebuah buku. Namun yang jelas, untuk itu saya harus berusaha lebih keras lagi. Dan sekarang, waktunya untuk menulis kembali, mengembalikan semangat yang sempat luntur karena berbagai hal kecil.

17 pemikiran pada “cerpenku di majalah femina

  1. “ini lho paman cerpenku yang dimuat di majalah,” <— ini pasti ngomongnya pake bahasa banjar, soalnya dalam bahasa Indonesia, kemungkinan besar "paman" itu akan berganti menjadi "bapak". wkwkwk… ish aku kok lupa ya, "paman" dalam bahasa banjar itu apa. 😕

  2. asiiiiiiiiikkkkkkk… temen WP-ku penulis 😉
    ray selalu heboh kalau punya kontak penulis..

    selamat yaaa,mbak..
    moga kedepannya bisa nyetak novel.. amin

  3. wah selamat ya:))) ıkut bangga..wah sayangnya dısını ga ada femına..boleh lah kapan2 dı postıng dı WP ya..bıar yang jauh bısa ıkutan baca:))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s