Menyimpan rindu



Bagi orang-orang yang sudah pernah menginjakkan kakinya di Tanah Suci, rasa rindu untuk bisa kembali ke sana jelas merupakan perasaan yang tak terbantahkan. Bahkan bagi sebagian orang, rasa rindu itu sudah ada jauh sebelum menginjakkan kaki mereka di sana. Saya sendiri termasuk orang yang beruntung, karena mendapatkan panggilan untuk beribadah umroh di usia muda. Sejujurnya kala itu saya belum benar-benar berniat untuk ke Tanah Suci. Berulang kali saya menolak ajakan ibu untuk berangkat. Alasannya, saya ingin pergi ke tanah suci bersama suami dan dengan uang saya sendiri. Namun Allah selalu lebih tahu apa yang saya butuhkan. Saat itu saya sedang jatuh terpuruk karena patah hati. Di saat seperti itulah tawaran itu kembali datang. Dan mungkin melalui umroh itulah saya diingatkan bahwa cinta yang paling besar seharusnya kita berikan hanya kepada-Nya.

Sekembali dari tanah suci, saya tak ubahnya seperti orang-orang yang pernah menginjakkan kaki ke sana. Rasa rindu selalu melanda setiap kali mendengar semua hal berbau Mekkah. Saya masih ingat bagaimana saya selalu terkenang dengan Mesjid Nabawi tiap kali mendengar lantunan ayat suci yang diperdengarkan di langgar-langgar jelang adzan magrib. Saya juga begitu antusias menceritakan tentang pengalaman saya selama berada di Tanah Suci.

Meski begitu, ada kalanya saya merasa seseorang tak perlu mengumbar-umbar kerinduan yang berlebihan akan Tanah Suci. Juga tak perlulah bercerita terlalu banyak tentang kenangan selama berada di Tanah Suci. Bagaimana indahnya bisa mengunjungi makam Rasulullah. Bagaimana terharunya saat melihat Ka’bah. Atau bagaimana segarnya meminum air zam-zam langsung di Masjidil Haram. Semua memang pengalaman tak ternilai. Semua itu memang perlu untuk dibagi. Namun saya rasa ada batasan tersendiri dalam mengungkapkan kerinduan dan pengalaman di Tanah Suci ini.


Mungkin tujuan dari cerita-cerita itu bagus, agar orang-rang yang belum tergerak hatinya bisa tergerak untuk berangkat ke tanah suci. Namun bagaimana jika nyatanya itu membuat seseorang sampai memaksakan diri untuk berangkat ke tanah suci? Sungguh bukan saya menentang keinginan mereka yang ingin beribadah ke rumah Allah. Saya juga tak ingin menapikan kerinduan mereka. Hanya saja saya keberatan jika untuk melaksanakan ibadah ini orang-orang harus memaksakan diri, bahkan sampai berseteru satu sama lain. Bukankah ibadah haji itu hanya wajib jika sudah mampu menjalankannya?

44 pemikiran pada “Menyimpan rindu

  1. malambulanbiru said: Aku kok sama sekali belum punya keinginan naik haji ya? šŸ˜

    aku pernah kok ngerasa begitu, des. tapi kok malah dapat rezeki buat ke sana. dan karena belum benar-benar pengen ibadahnya jadi nggak full.

  2. semua kembali ke yang menjalankannyacerita klo niatnya pamer ya ndak bener jugacerita klo niatnya berbagai dan mengambil hikmah ya ndak apa-apa :-)yang penting jangan lebay

  3. itsmearni said: semua kembali ke yang menjalankannyacerita klo niatnya pamer ya ndak bener jugacerita klo niatnya berbagai dan mengambil hikmah ya ndak apa-apa :-)yang penting jangan lebay

    yup. setuju, mba :)saya aja kadang bosen dengernya, mba šŸ˜€

  4. aamiin. semoga bisa segera kesana, atas izin Allah, karena ternyata punya harta saja belum cukup untuk mengantarkan kesana jika Allah belum izinkan.. semoga bisa.. Insya Allah.

  5. fitrinurhati said: aamiin. semoga bisa segera kesana, atas izin Allah, karena ternyata punya harta saja belum cukup untuk mengantarkan kesana jika Allah belum izinkan.. semoga bisa.. Insya Allah.

    amiiiinnn…

  6. malambulanbiru said: Aku kok sama sekali belum punya keinginan naik haji ya? šŸ˜

    aku pernah kok ngerasa begitu, des. tapi kok malah dapat rezeki buat ke sana. dan karena belum benar-benar pengen ibadahnya jadi nggak full.

  7. semua kembali ke yang menjalankannyacerita klo niatnya pamer ya ndak bener jugacerita klo niatnya berbagai dan mengambil hikmah ya ndak apa-apa :-)yang penting jangan lebay

  8. itsmearni said: semua kembali ke yang menjalankannyacerita klo niatnya pamer ya ndak bener jugacerita klo niatnya berbagai dan mengambil hikmah ya ndak apa-apa :-)yang penting jangan lebay

    yup. setuju, mba :)saya aja kadang bosen dengernya, mba šŸ˜€

  9. aamiin. semoga bisa segera kesana, atas izin Allah, karena ternyata punya harta saja belum cukup untuk mengantarkan kesana jika Allah belum izinkan.. semoga bisa.. Insya Allah.

  10. fitrinurhati said: aamiin. semoga bisa segera kesana, atas izin Allah, karena ternyata punya harta saja belum cukup untuk mengantarkan kesana jika Allah belum izinkan.. semoga bisa.. Insya Allah.

    amiiiinnn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s