[catatan perjalanan] Ber-“mabok” Ria ke Batulicin

Hari Rabu yang lalu, saya diminta untuk pergi ke Batulicin dalam rangka pembuktian kualifikasi sebuah lelang yang kami ikuti. Sebagai orang yang belum pernah menginjakkan kakinya di Kabupaten Tanah Bumbu, tentu saya bersemangat sekali mendapat tugas tersebut. Hitung-hitung jalan-jalan gratis. Apalagi di Kabupaten Tanah Bumbu ada wisata pantainya.

Maka di subuh Kamis, saya pun bersiap-siap. Berdasarkan rencana, kami akan bertolak dari Banjarmasin sekitar pukul 4 subuh. Saya bangun pukul 2, mandi dan bersiap-siap. Mendekati pukul 4, tak ada tanda-tanda saya akan dijemput. Saya kemudian menghubungi rekan kantor yang juga akan berangkat bersama saya, menanyakan keberadaan mobil yang akan menjemput saya di rumah. Teman saya pun menghubungi sopir, dan ternyata sopir tersebut baru saja terbangun dari tidurnya. Alhasil, dengan terkantuk-kantuk saya kembali menunggu, hingga akhirnya mobil jemputan tiba pukul setengah lima.

Perjalanan dari Banjarmasin menuju Batulicin diperkirakan memakan waktu 5 jam. Saya memutuskan untuk tidak meminum obat anti mabok karena kemungkinan besar toh saya akan tertidur sepanjang perjalanan. Namu rupanya perkiraan saya salah. Rute jalan yang baru dikenal oleh otak, membuat perut saya tak tahan. Akhirnya ketika mobil sudah berada di wilayah Sungai Danau, saya pun memuntahkan semu isi perut. Padahal beberapa kilometer sebelumnya kami bertiga baru saja menyelesaikan sarapan di salah satu warung makan.

Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Sesampai di daerah Pagatan, saya dibuat terpesona oleh pemandangan air laut yang ada di sepanjang jalan. Namun karena tujuan utama saya adalah Batulicin, maka saya tak bisa berlama-lama singgah untuk menikmati pemandangan pantai.



Beberapa jam kemudian, akhirnya kami tiba di tempat tujuan, Batulicin. Berdasarkan undangan yang diberikan, lokasi pembuktian kualifikasi adalah di kantor Bupati Tanah Bumbu. Dalam hati saya bersyukur karena ternyata perjalanan sudah tak lama lagi. Meski begitu, beberapa ratus meter dari kantor yang dimaksud. lagi-lagi saya harus memuntahkan isi perut. Sungguh perjalanan yang tak menyenangkan.

Sesampai di kantor Bupati, kami langsung menuju kantor tempat diadakan pembuktian kualifikasi. Dalam hal ini panitia lelang memeriksa berkas-berkas yang sudah kami upload dalam dokumen kualifikasi. Proses ini tak memakan waktu lama. Kurang dari satu jam, kami sudah keluar dari kantor Bupati dan bersiap untuk kembali ke Banjarmasin.




Dalam perjalanan pulang, kami pun menyempatkan diri untuk singgah di pantan Pagatan. Kebetulan saat itu sudah jam makan siang. Mobil berhenti di depan sebuah warung yang terletak tepat di tepi pantai. Dua ayam goreng, udang, dan remis menjadi menu makan siang kami hari itu. Sebagai penutup, kami memesan tiga porsi pisang gapit, yakni makanan sejenis kolak yang mana pisangnya panggang terlebih dahulu.


Usai makan, saya langsung melangkahkan kaki menuju pantai. Angin pantai yang lumayan kencang langsung menerpa wajah saya, memberikan sensasi segar luar biasa. Tak ada orang lain selain saya di pantai itu. Jadilah selama beberapa menit saya bermain-main sendiri di pantai tersebut.



Puas menikmati udara pantai, saya pun kembali ke mobil. Dalam kesempatan tersebut, kak Didit, teman seperjalanan saya memberitahukan harga makan siang kami beberapa waktu sebelumnya. Dan alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui jumlah yang harus mereka bayar. Seratus lima puluh ribu untuk tiga orang. Itu artinya satu orang menghabiskan lima puluh ribu. Meski saya sendiri sudah menduga kalau harga makanan di tepi pantai akan sedikit lebih mahal, namun ini benar-benar di luar dugaan.

Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Sebelumnya terlebih dahulu saya membeli sekeping obat anti mabok. Sayangnya meski sudah menenggak 2 obat sekaligus, rasa mabuk tetap melanda saya. Alhasil, dalam perjalanan pulang lagi-lagi saya muntah. Tepat azan magrib, akhirnya saya tiba di rumah. Dan perjalanan singkat hari itu pun berakhir.

Nb: Foto lengkap ada di sini.

[catatan kopdar] Meet Mba Anna

Pertengahan April yang lalu, saya dan Azita berkesempatan kopdar dengan mba Anna (id : Cindil) yang datang ke Banjarmasin untuk suatu urusan. Dan layaknya MP-er lain yang berkunjung ke suatu daerah, yang namanya kopdar sudah seperti sebuah kewajiban. Karena itu, begitu mengetahui Mba Anna akan ke Banjarmasin dan mengajak kopdar, saya pun dengan bersemangat menanggapinya. Sebelumnya, Mba Anna sudah memberitahu saya bahwa beliau hanya berada di Banjarmasin selama 3 hari, dan itupun 2 harinya beliau habiskan untuk urusan pekerjaan. Karena itu akhirnya saya dan Azita sepakat untuk menemui Mba Anna langsung di hotelnya seusai jam kerja.

Pukul 5 sore, saya melajukan motor saya menuju Hotel Amaris, tempat Mba Anna menginap. Terlebih dahulu saya hubungi Azita, untuk menanyakan apakah ia sudah berangkat atau belum. Dan ternyata Azita juga sedang dalam perjalanan menuju Hotel Amaris. Sesampainya di hotel, saya dan Azita diminta langsung menemui Mba Anna di kamarnya. Rupanya saat itu beliau masih bersiap-siap. Setelah mengobrol beberapa menit, kami pun meninggalkan hotel dan meluncur menuju Dunia Laut, sebuah rumah makan yang terdapat di km. 5 kota Banjarmasin.

Selama berada di Dunia Laut, kami membicarakan banyak hal. Mulai dari tujuan Mba Anna ke Banjarmasin, hingga yang paling menarik, tentang pengalaman beliau ketika tinggal di Selandia Baru. Kenapa saya bilang menarik? Karena ternyata kehidupan di sana tak seperti yang saya bayangkan.

Jadi ceritanya, beberapa tahun yang lalu, Mba Anna dan keluarga sempat memutuskan untuk tinggal di Selandia Baru. Di negara tersebut, Mba Anna dan keluarga tinggal di sebuah rumah yang terletak di atas bukit, dengan pemandangan yang langsung menghadap laut. Benar-benar rumah yang indah.

Masalah muncul ketika Mba Anna berencana melakukan sedikit perubahan pada rumah yang mereka tempati. Jika di Indonesia, seseorang tentunya berhak melakukan apa saja atas rumah miliknya. Namun rupanya itu tidak berlaku di Selandia Baru. Untuk melakukan perubahan atas rumah mereka, pemilik rumah haruslah melapor terlebih dahulu ke berbagai pihak. Misalnya, jika pemilik rumah ingin mengganti lampu rumah yang rusak, ia harus memanggil ahli listrik. Untuk mengganti kompor listrik menjadi kompor gas, ia harus memanggil ahli listrik dan ahli bangunan. Bahkan untuk membuat kolam di halaman rumah, pemilik rumah harus lapor terlebih dahulu.

Pernah kejadian, salah satu lampu di salon milik Mba Anna tidak bisa menyala. Mba Anna kemudian meminta bantuan salah satu pegawainya untuk mengganti lampu tersebut. Apa jawab sang pegawai? “No, Mam. Anda tidak boleh melakukan itu. Anda seharusnya memanggil tukang listrik,” begitu jawabnya. Bayangkan anda harus membayar seorang tukang listrik yang dibayar per jam untuk mengganti bola lampu yang hanya memerlukan waktu beberapa menit. Sungguh luar biasa, bukan?

Selain bercerita tentang kehidupan di Selandia Baru, Mba Anna juga bercerita tentang sistem pendidikan di negara tersebut. Intinya sih, sistem pendidikan di sana membuat sistem pendidikan kita terasa seperti sistem romusha . Mendengar cerita Mba Anna, sSaya jadi penasaran, jangan-jangan sistem pendidikan di negara kita termasuk dalam jajaran yang paling berat di dunia.

Nyaris 3 jam kami habiskan di Dunia Laut. Banyak cerita dan wawasan baru saya dapatkan dari pertemuan hari itu. Dan seperti biasa, sebelum pulang, tak lupa kami sempatkan mengambil foto kenang-kenangan .

Tagihan Listrik yang Kelebihan



Selain rumah yang kami tempati saat ini, ibu saya memiliki sebuah rumah yang dibelinya beberapa tahun yang lalu, dengan lokasi tak jauh dari rumah yang ada. Selama bertahun-tahun, rumah itu dikontrakkan untuk menambah pemasukan keluarga. Selama bertahun-tahun itu pula berbagai kejadian mewarnai rumah kontrakan tersebut.

Awal 2012 ini, Mama Faiz, penghuni terakhir kontrakan ibu keluar dari kontrakan. Seingat saya, beliau ini adalah salah satu pengontrak dengan masa terlama. Sekeluarnya Mama Faiz dari kontrakan, rumah itu kemudian dibiarkan kosong selama hampir 3 bulan.

Masalah timbul ketika ibu saya baru sadar bahwa selama 3 bulan tersebut kami belum membayar tagihan listrik dan air. Parahnya, Mama Faiz juga tak memberikan nota-nota pembayaran beliau pada kami. Jadilah kami kebingungan memikirkan bagaimana caranya membayar tagihan-tagihan tersebut.

Maka bertanyalah saya kesana-kemari. Mulai dari teman SMA yang kerja di PDAM, sampai pegawai PLN. Dan ternyata, besoknya tetangga sebelah rumah yang notabene masih sepupu ibu saya memberitahu saya bahwa nomor pelanggan ada di box listrik dan PDAM .

Setelah mengetahui nomor pelanggan dari rumah kontrakan tersebut, saya pun membayarkan tagihan rumah kontrakan berikut rumah yang saya tempati. Untuk rumah yang saya tempati, pembayarannya tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya. Sedangkan untuk rumah kontrakan, karena tagihan tidak dibayar selama 3 bulan, maka kami dikenai denda. Anehnya, pembayaran untuk rumah kontrakan tersebut kelewat mahal untuk rumah yang tidak ditempati selama 3 bulan.

Saya kemudian menanyakan tentang mahalnya tagihan listrik yang kami bayar. Oleh petugas loket, saya pun diminta untuk mecocokkan angka yang tertera di struk pembayaran dengan angka yang ada di meteran listrik. Saya pun pulang dan mengikuti saran yang diberikan petugas itu.

Dan benar saja, ternyata ada perbedaan antara angka yang tertera di tagihan dengan angka yang ada di meteran listrik. Jadi untuk angka yang ada di struk tagihan, misal tertera 24.700, sedangkan angka yang ada di meteran listrik baru mencapai 24.000. Jadi ada selisih yang cukup besar antara angka di struk dan di meteran. Saya pun memotret angka di meteran, sebelum kemudian berangkat menuju kantor PLN.

Sesampai di kantor PLN, saya pun mengajukan keluhan atas pembayaran yang kelewat besar tersebut. Saya juga memperlihatkan foto yang saya ambil sebelumnya. Sayangnya karena tagihan sudah terlanjur dibayar, maka saya tak bisa mendapatkan uang saya kembali. Namun, pihak PLN memberikan sebuah solusi, yakni untuk bulan berikutnya kami hanya perlu membayar beban hingga tagihan yang ada di meteran listrik sama dengan tagihan yang ada di struk pembayaran.

Namun masalah tak selesai sampai di situ. Karena untuk bulan berikutnya pembayaran listrik dibebankan pada pengontrak baru, maka kami perlu mengetahui perhitungan tagihan listrik. Mengingat beberapa bulan ke depan, pengontrak yang baru hanya perlu membayar beban. Selain itu kami juga perlu menjelaskan kepada pengontrak yang baru soal tagihan listrik ini.

Maka saya pun membongkar-bongkar tulisan Ancha tentang listrik. Kebetulan waktu itu dia pernah posting soal perhitungan tagihan listrik. Sambil juga saya tanya kenapa bisa ada perbedaan antara angka di meteran dengan angka di struk pembayaran. Dan ternyata, selama ini untuk mengetahui pemakaian listrik tiap rumah, PLN menyewa jasa outsourcing. Jadi petugas yang setiap bulan datang ke rumah untuk mencatat meteran listrik itu adalah orang-orang dari perusahaan outsourcing itu.

Dan untuk kasus saya, kemungkinan besar petugas itu sebenarnya tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam artian ia sebenarnya tidak mengecek angka di meteran dan ketika melaporkan ke pihak PLN dia hanya mengira-ngira berdasarkan pemakaian rata-rata tiap bulan. Kecurigaan ini dikuatkan dengan tidak adanya foto hasil pencatatan di kantor PLN. Selain itu juga saya teringat ketika akan berangkat ke kantor PLN, salah satu tetangga menitip pertanyaan berupa, “Kenapa petugas pencatat tidak pernah datang lagi ke gang kami?”

Dari kejadian ini saya dapat satu pelajaran pentingnya mengecek pemakaian listrik setiap bulannya.

Menyimpan rindu



Bagi orang-orang yang sudah pernah menginjakkan kakinya di Tanah Suci, rasa rindu untuk bisa kembali ke sana jelas merupakan perasaan yang tak terbantahkan. Bahkan bagi sebagian orang, rasa rindu itu sudah ada jauh sebelum menginjakkan kaki mereka di sana. Saya sendiri termasuk orang yang beruntung, karena mendapatkan panggilan untuk beribadah umroh di usia muda. Sejujurnya kala itu saya belum benar-benar berniat untuk ke Tanah Suci. Berulang kali saya menolak ajakan ibu untuk berangkat. Alasannya, saya ingin pergi ke tanah suci bersama suami dan dengan uang saya sendiri. Namun Allah selalu lebih tahu apa yang saya butuhkan. Saat itu saya sedang jatuh terpuruk karena patah hati. Di saat seperti itulah tawaran itu kembali datang. Dan mungkin melalui umroh itulah saya diingatkan bahwa cinta yang paling besar seharusnya kita berikan hanya kepada-Nya.

Sekembali dari tanah suci, saya tak ubahnya seperti orang-orang yang pernah menginjakkan kaki ke sana. Rasa rindu selalu melanda setiap kali mendengar semua hal berbau Mekkah. Saya masih ingat bagaimana saya selalu terkenang dengan Mesjid Nabawi tiap kali mendengar lantunan ayat suci yang diperdengarkan di langgar-langgar jelang adzan magrib. Saya juga begitu antusias menceritakan tentang pengalaman saya selama berada di Tanah Suci.

Meski begitu, ada kalanya saya merasa seseorang tak perlu mengumbar-umbar kerinduan yang berlebihan akan Tanah Suci. Juga tak perlulah bercerita terlalu banyak tentang kenangan selama berada di Tanah Suci. Bagaimana indahnya bisa mengunjungi makam Rasulullah. Bagaimana terharunya saat melihat Ka’bah. Atau bagaimana segarnya meminum air zam-zam langsung di Masjidil Haram. Semua memang pengalaman tak ternilai. Semua itu memang perlu untuk dibagi. Namun saya rasa ada batasan tersendiri dalam mengungkapkan kerinduan dan pengalaman di Tanah Suci ini.


Mungkin tujuan dari cerita-cerita itu bagus, agar orang-rang yang belum tergerak hatinya bisa tergerak untuk berangkat ke tanah suci. Namun bagaimana jika nyatanya itu membuat seseorang sampai memaksakan diri untuk berangkat ke tanah suci? Sungguh bukan saya menentang keinginan mereka yang ingin beribadah ke rumah Allah. Saya juga tak ingin menapikan kerinduan mereka. Hanya saja saya keberatan jika untuk melaksanakan ibadah ini orang-orang harus memaksakan diri, bahkan sampai berseteru satu sama lain. Bukankah ibadah haji itu hanya wajib jika sudah mampu menjalankannya?

[FF Ninelights] RIVAL

“Jangan dipindahhhh!!”

Sebuah suara terdengar membahana dari belakang tubuh Sani. Di hadapannya saat ini terpampang cuplikan wawancara dengan seorang artis dangdut. Jika bukan karena suara tadi, Sani mungkin sudah memindah acara wawancara tersebut ke channel yang lain.

“Aku heran deh. Kok bisa kamu suka banget sama Saipul Jamil?” tanya Sani pada Rani. Sosok adiknya itu kini sudah berada di sampingnya. Menonton dengan khidmat cuplikan wawancara dengan Saipul Jamil tentang sidang yang baru saja dijalaninya.

“Emang kenapa? Masalah buat loe?” Rani bertanya balik pada Sani sambil menirukan kalimat yang sering diucapkan Soimah dalam sebuah talkshow.

“Ya, iyalah. Dia itu kan lebay gitu. Tiap kali diwawancara pasti nyanyi-nyanyi nggak jelas. Sebel ku liatnya,” jawab Sani sambil berjalan menjauh dari Rani. Tak lama kemudian ia sudah kembali lagi dengan segelas air di tangannya.

“Ya kamu jangan liat lebaynya dong, San. Simpati kek sama dia. Coba, ya, istrinya meninggal, trus malah dia yang disalahin. Masa kamu nggak kasihan?”

“Ya, kasihan sih kasihan. Tapi jangan lebay juga kaliii.” Sani tetap berkeras dengan pendiriannya.

“Wajarlah. Dia kan artis dangdut.”

Sani hanya bisa memutar bola matanya mendenngar jawaban Rani kali ini.

“Ada kok artis dangdut yang nggak lebay.”

“Dia maksudnya?” tanya Rani kemudian sambil menunjuk seorang pria lain yang saat ini muncul di layar televisi.

“Iya, dong,” jawab Sani sambil tersenyum.

“Ogah, ah. Banyak bulunya gitu. Lagian males kali sama-samaan idola sama saudara sendiri,” balas Rani sambil menjauh. Meninggalkan Sani yang sedang menatap Ridho Rhoma yang sedang menyanyikan lagu terbarunya dengan mata berbinar.

***

Jumlah kata : 246

Diikutkan dalam lomba di sini.