my eyes



Kacamata merupakan salah satu benda yang sangat penting keberadaannya dalam hidup saya. Dia termasuk benda pertama selain handphone yang saya cari ketika bangun tidur. Karena itulah bukan hal aneh jika saya tak pernah meletakkan kacamata jauh dari tubuh. Bahkan kadang saya memakainya saat tidur.


Perkenalan pertama saya dengan benda berlensa cekung ini dimulai ketika duduk di bangku kelas 5 SD. Saat itu saya mengalami kesulitan untuk membaca tulisan-tulisan yang ada di papan tulis. Apalagi kala itu saya duduk di deretan bangku nomor dua dari belakang, yang membuat kesulitan itu semakin terasa. Akhirnya karena semakin sulit mengikuti pelajaran, saya memutuskan memeriksakan diri ke puskesmas.

Saat melakukan pemeriksaan mata ke Puskesmas inilah mata saya divonis menderita rabun jauh. Tidak tanggung-tanggung, minus dua langsung diberikan baik kepada mata kanan maupun mata kiri saya. Dengan minus yang cukup besar seperti itu, maka mau tidak mau saya harus mengenakan kacamata ke sekolah.

Selama sekian tahun hidup dengan alat bantu penglihatan ini, bisa dibilang saya termasuk orang yang sangat jarang memeriksakan kondisi mata saya. . Alasan utamanya sih, saya takut kalau minus saya bertambah. Karena itulah saya baru akan memeriksakan mata saya jika kacamata yang saya kenakan sudah tidak cocok lagi dengan mata saya. Ada dua kemungkinan sebenarnya jika kacamata sudah tak cocok lagi. Minus bertambah, atau berkurang. Namun untuk saya, setiap kali kacamata mulai tak cocok, itu artinya saya harus siap angka yang lebih besar. Dan benar saja. Setiap kali periksa mata, minus saya pasti bertambah. Dari dua menjadi tiga. Dari tiga menjadi empat, dan itu adalah angka terakhir yang saya ketahui saat periksa mata tahun lalu.

Sekarang, saya kembali merasa kacamata yang saya kenakan mulai tak bersahabat. Ketika harus bekerja di depan komputer, saya merasa tulisannya berbayang-bayang. Saya coba atasi dengan menurunkan tingkat kecerahan monitor, tulisan sedikit jelas, namun tetap berbayang. Ah, apakah sudah waktunya saya berganti kacamata lagi?

Gambar dipinjam dari sini.

[4×4] all about me

Dapat PR dari Kaka Ancha. Yowes langsung kerjain saja:

1. Empat kerjaan/profesi yang pernah kamu lakukan :

a. Jaga rental buku pas kuliah. Asli asik banget. Soalnya bisa baca buku gratis
b. Jadi pengawas lapangan proyek jalan. Ini kerjaan waktu baru lulus kuliah. Sekarang lebih banyak ngurusin administrasi. Sebuah kemunduran sebenarnya
c. Asisten Tugas Besar. Gara-garanya dosen yang juga kerja di kantor minta bantuan buat meriksa Tugas Besar mahasiswanya.
d. Penuang adonan kue. Ini mah kerjaan tiap hari, secara nyokap jualan kue

2. Empat Profesi Yang ingin kamu lakukan :
a. Wartawan, cita-cita masa kecil dulu
b. Penulis, impian sekarang
c. Dosen, soalnya bisa bagi-bagi ilmu
d. Pengusaha

3. Empat Tempat tinggal yang pernah di tinggali :
a. Banjarmasin, my home town
b. Bandung, waktu kelas 2 dan 5 SD
c. Banjarbaru, pas kuliah
d. akan diisi kalau udah nikah 😀

4. Empat Negara/Daerah/tempat yang ingin kamu kunjungi :
a. Mekkah, selalu kangen ke sana
b. Inggris
c. India
d. Korea Selatan

5. Empat Film yang paling kamu suka :
a. My Sassy Girl
b. Lord of the Ring
c. Transformers
d. Dilwale Dulhania le Jayenge

6. Empat lagu yang paling kamu suka saat ini :
a. Twinkle – SNSD (TTS)
b. Love Sick – SNSD (TTS)
c. Trouble is a friend (Lenka)
d. You and Me (Lifehouse)

7. Empat TV Show yang paling kamu suka saat ini :
a. Indonesian Idol season 7
b. –
c. –
d. –

8. Empat buku terakhir yang kamu baca :

a. Moribito
b. Cinderella Batavia
c. Biro Jodoh Khusus Kaum Elite
d. Tarapuccino

9. Empat Public Figur yang kamu suka saat ini :
a. Aa’ Gym
b. Felixsiauw
c. Salim A. Fillah
d. Dahlan Iskan

10. Empat berita yang paling santer kamu dengar belakangan ini :
a. Berita Duka pesawat Sukhoi
b. Konser Lady Gaga batal
c. MP mau digusur
d.
Syahrini dan Bubu

11. Empat hal yang tentang dirimu yang orang mungkin tidak tahu :
a. Nggak suka telur itik
b. Nggak suka durian
c. Nggak suka alpukat
d. Bollywood mania 😀

12. Empat Makanan yang sangat kamu inginkan belakangan :
a. Jeruk
b. Pizza
c. Brownies
d. Nasi goreng Dadang kali, ya

13. Empat website yg sering dibuka :

a. My home di Multiply
b. Hallyu8 (forumnya SNSD)
c. Facebook
d. LPSE

14. Empat Home MPers yang paling sering kamu kunjungi :
b. Dani
d. Desi

15 Empat MPers yang ingin kamu ajak kopdar.:
b. Desi

16. Empat MPers yang beruntung dapat tugas ini :
a. Bude
b. Muse
d. Mba Tintin

Segini aja dulu. Bagi yang dapat tugas, moga bersedia mengerkakan. Dan buat kaka Ancha, PR-nya udah yaaa 🙂

[Love Journey] Mengunjungi Bandung, Menyusuri Kenangan

Bandung merupakan salah satu kota yang memiliki posisi tersendiri di hati saya. Selama beberapa periode, saya sempat menikmati kehidupan di kota kembang tersebut. Periode pertama, ketika masih duduk di kelas 2 SD. Periode berikutnya, ketika saya duduk di kelas V SD. Keduanya dalam rangka mengikuti ayah yang mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di sana.

Selama tinggal di kota Bandung tersebut, tentunya cukup banyak kenangan yang terekam di otak saya. Tempat rekreasi yang sering kami kunjungi, jalan-jalan yang sering saya lewati, serta berbagai kenangan lainnya. Karena itu, maka tentulah wajar bagi saya jika merindukan kota Bandung. Apalagi jika saya melihat bagaimana perkembangan kota Bandung di televisi, kerinduan itu semakin terasa. Membuat saya berjanji pada diri sendiri, akan kembali ke kota Bandung.

Kesempatan untuk mewujudkan janji saya tersebut datang di penghujung tahun 2011. Kala itu Kak Dini, salah seorang teman yang juga berprofesi sebagai penyiar mengajak saya untuk menemaninya ke Sukabumi. Rahmi, salah seorang temannya akan menikah di sana, begitu katanya. Jikalau hanya Sukabumi yang menjadi tujuan, mungkin saya akan berpikir ulang untuk menerima tawaran tersebut. Namun ternyata Kak Dini mengatakan bahwa dia akan singgah ke Bandung nantinya. Langsunglah saya bersemangat dan menyetujui tawaran tersebut.

Tanggal 24 November 2011 merupakan tanggal keberangkatan saya menuju bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan yang seharusnya pukul 15.00 molor hingga lepas adzan magrib. Mungkin hal ini karena hari itu bertepatan dengan pernikahan putra bungsu Pak Presiden, jadi semua penerbangan di-delay. Sekitar pukul 20.00, akhirnya kami tiba dengan selamat di Cengkareng. Dua buah mobil jemputan sudah disiapkan oleh Rama, calon suami Rahmi. Kebetulan saya dan Kak Dini berangkat bersama keluarga besar Rahmi, sang mempelai wanita. Tanpa menunggu lama, rombongan langsung berangkat menuju Sukabumi untuk beristirahat.

Keesokan paginya, sesuai rencana kami bertiga bertolak menuju Bandung. Berangkat pukul setengah tujuh pagi, kami sempat dikagetkan ketika diberi tahu kalau perjalanan dari daerah tempat kami menginap menuju Bandung itu bisa memakan waktu 4 jam lebih. Itu artinya saya tidak memiliki banyak waktu di Bandung. Sebelumnya saya sebenarnya sudah diberi tahu kalau jarak Sukabumi-Bandung itu lumayan jauh, tapi entah mengapa waktu itu saya tidak mempercayai informasi yang diberikan kepada saya. Dan karena sudah terlanjur berada di Sukabumi, maka tidak mungkin dong rencana dibatalkan?

Akhirnya dengan segala kesabaran kami lalui perjalanan Sukabumi – Bandung yang cukup membosankan tersebut. Sebelumnya, Kak Dini terlebih dahulu menghubungi seorang kenalannya yang katanya bersedia menjadi tour guide kami. Namanya Abrari, mahasiswa asal Kalsel yang sedang menjalani semester kelimanya di ITB. Sewaktu Abrari mengetahui rencana perjalanan kami menuju Bandung, bisa dibilang dia kaget luar biasa. Bukan cuma karena jauhnya jarak yang akan kami tempuh, juga karena kenekatan kami bertiga.

Sekitar pukul 13.00, bis yang kami tumpangi tiba di stasiun Cicaheum. Segara kami hubungi kembali Abrari untuk mengetui rute selanjutnya yang harus kami tempuh. Atas petunjuknya, kami diminta untuk menumpang di angkot jurusan Caheum-Ledeng dan minta diturunkan di sekitar ITB. Dalam hati saya senang luar biasa, karena akhirnya kesampaian juga untuk bisa menginjakkan kaki di mesjid Salman yang terkenal itu.


Sesampai di kawasan ITB, kami disambut dengan pemandangan mahasiswa yang hilir mudik di sepanjang jalan. Satu hal yang membuat saya cukup kaget, ternyata ITB itu letaknya tak jauh dari kebun binatang Bandung, salah satu tempat yang cukup sering saya kunjungi ketika tinggal di Bandung belasan tahun yang lalu. Seingat saya bahkan saya sempat naik kuda mengelilingi wilayah tersebut. Tapi tidak pernah terbersit di benak saya bahwa daerah itu merupakan komplek perkuliahan. Wajar saja sepertinya. Mengingat waktu itu saya masih berusia 7 tahun, lebih suka melihat binatang ketimbang kampus 😀

Beberapa menit jalan kaki, sosok Abrari pun muncul. Tanpa perlu berkenalan kami semua langsung digiring menuju Mesjid Salman untuk sholat dzuhur. Kejutan kedua kembali saya dapatkan. Ternyata penampilan Mesjid Salman sungguh jauh berbeda dari yang saya bayangkan. Sebelumnya saya membayangkan mesjid Salman itu seperti mesjid pada umumnya. Ada kubah dengan tulisan besar di depannya. Ternyata bayangan saya benar-benar keliru. Tak ada kubah, tak ada tulisan Mesjid Salman dengan ukuran besar. Yang ada, saya melihat sekumpulan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang berdiskusi, ada juga yang mengerjakan tugas. Sebuah pemandangan yang jujur baru kali ini saya temui.

Setelah menunaikan salat dzuhur dan makan siang di Masjid Salman, kami bertiga pun memulai rute jalan-jalan. Mengingat waktu kami banyak terbuang di perjalanan Sukabumi-Bandung, maka tak banyak waktu tersisa bagi kami bertiga untuk menjelajahi kota Bandung. Karena diantara kami bertiga cuma saya yang paling lama tidak menginjakkan kaki di kota kembang tersebut, maka saya diijinkan menjadi penentu rute kami selanjutnya. Dan ketika ditanya lokasi mana yang ingin saya kunjungi, maka tanpa ragu saya menyebut Braga, sebuah jalan yang dipenuhi dengan bangunan berarsitektur Belanda.


Sesampai di Jalan Braga, saya berusaha sekeras mungkin menggali ingatan apakah semasa tinggal di Bandung pernah mengunjungi jalan ini, mengingat lokasinya yang tak jauh dari Pasar Baru. Dan pada akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa jalan ini tidak pernah saya lalui. Nyaris sepanjang jalan saya habiskan dengan memotret bangunan-bangunan yang ada di Braga. Lucu sekali rasanya, saya tinggal di kota Bandung selama nyaris dua tahun, namun tak pernah menyadari bagaimana indahnya arsitektur kota ini. Sayangnya karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa sepuasnya menyusuri jalan Braga dan tempat lainnya di kota kenangan saya tersebut. Kami pulang malam harinya, setelah sedikit berbelanja di Pasar Baru dan menikmati Mi Ramen di Ciwalk.

Bisa menyusuri kembali kota yang pernah menjadi bagian hidup saya setelah belasan tahun tentu memberikan kesan yang luar biasa bagi saya. Bandung yang saya kenal belasan tahun lalu jelas bukanlah Bandung yang saya datangi kala itu. Selama perjalanan saya berusaha keras mengenali sisa-sisa kenangan saya selama tinggal di kota itu. Dan nyatanya sedikit sekali yang bisa saya kenali. Jalan-jalan yang dulu rasanya lapang sekarang sudah semakin penuh dengan adanya jalan layang. Belum lagi kemacetan yang harus saya rasakan selama perjala
nan.

Saya ingat semasa kecil dahulu biasa menghabiskan akhir minggu bersama keluarga di Alun-Alun kota Bandung. Sesekali bertamasya ke Kebun Binatang. Atau sekadar berjalan-jalan di daerah Sukajadi dan Pasteur. Entah sudah jadi apa daerah tersebut sekarang. Saya tak sempat mendatanginya kembali.

Bandung sekarang padat, dan tak saya kenali lagi. Namun dalam perjalanan menyusuri kembali ini saya menemukan cinta baru atas kota Bandung. Saya jatuh cinta akan keindahan arsitekturnya. Sesuatu yang mungkin takkan saya sadari jika saya tak kembali ke kota ini.

***
Diikutsertakan dalam lomba Love Journey di sini.

“Di mana pria-pria baik itu?”



“Mereka pasti ada di luar sana,” kata Noreen, “Di suatu tempat.”


“Tapi, di mana?”sela Sara. “Aku sudah mencari ke mana-mana. Apakah mereka siluman?”

Kami telah mencari selama bertahun-tahun dan kami masih belum menemukan spesimen yang layak. Di mana mereka bersembunyi?

“Yang baik-baik sudah menikah semua,” desah Noreen.

“Tapi mungkinkah mereka hanya jadi ‘baik’ setelah mereka dicambuk oleh istri-istri mereka?” Aku mengungkapkan isi pikiranku pada mereka. “Mungkin hidup bersama seorang wanita telah merubah mereka menjadi ‘pria baik-baik’?”

“Jadi, mungkin yang perlu kita lakukan adalah menemukan potensi dari diri seorang pria, menikahinya dan kemudian secara ajaib, hanya dengan hidup bersama kita, dia akan berubah menjadi Pangeran Tampan yang Sempurna!” Noreen mengembangkan tangan ke udara dengan girang.

“Atau barangkali,” kata Sara sambil menahan nafas, “mereka bersembunyi dari kita, ketakutan bahwa kita akan menerkam mereka. Mereka boleh jadi bersembunyi di dalam sejenis ruang bawah tanah atau di pulau terpencil, dan jika kita bisa menemukannya, maka kita akan mendapatkan pilihan pria yang berlimpah-limpah!”

Jumpalitan Mencari Sang Pangeran, 225-226

Paragraf-paragraf di atas merupakan penggalan dari percakapan antara Shelina dan kedua sahabatnya dalam buku Jumpalitan Mencari Sang Pangeran. Percakapan yang kalau boleh saya bilang benar-benar mirip dengan percakapan yang sering saya lakukan dengan sahabat-sahabat saya, di saat kami menghadapi masa kegalauan menanti sang pangeran.

Di mana para pria baik tersebut?

Sungguh pertanyaan tersebut rasanya tak pernah berhenti muncul di kepala saya ketika berangapan orang-orang yang ditawarkan kepada saya tak cukup baik. Saya, kemudian dengan berbagai alasan menolak pria tersebut.

Lalu ketika muncul pertanyaan semisal, “Kriteria yang kamu mau yang seperti apa sebenarnya?” Saya akan menjawabnya dengan jawaban, “Entahlah, yang penting dia laki-laki yang baik.” Jawaban yang sebenarnya sebuah kebohongan besar karena sejatinya saya tahu pasti laki-laki yang saya inginkan itu seperti apa.

Yang baik-baik sudah menikah semua

Kalau boleh dibilang, ini merupakan sebuah cobaan tersendiri bagi para wanita lajang, termasuk saya. Kadang saya bertemu dengan laki-laki yang baik di mata saya. Dia pintar, humoris dan asik diajak berdiskusi. Namun pada akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa pria ini sudah menikah. Saya sendiri sebisa mungkin menghindari interaksi berlebihan dengan para laki-laki yang sudah menikah ini. Bukannya apa-apa, pernah kejadian istri dari seorang rekan kerja di kantor sewot sama saya hanya karena posisi saya dalam foto kantor rame-rame yang terlalu dekat dengan suaminya.

Tapi mungkinkah mereka hanya jadi ‘baik’ setelah mereka dicambuk oleh istri-istri mereka?

Kalimat ini bisa dibilang membuka pemahaman baru untuk saya. Sebagai muslim, kita tentu tak asing dengan frase, “perempuan baik adalah untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik.” Kata para ustadz, potongan dari ayat suci al qur’an ini mengisyaratkan pada kita, bahwa untuk mendapatkan laki-laki yang baik, seorang perempuan haruslah terlebih dahulu memperbaiki dirinya. Begitupun sebaliknya. Namun bukankah juga ada kemungkinan proses menjadi baik itu terjadi setelah pernikahan terjadi? Di saat pasangan yang satu kurang baik, maka tugas pasangan yang lain adalah berusaha membawanya menjadi lebih baik. Dan sepertinya proses belajar bersama itu akan menjadi hal yang sangat romantis. Ya bukan berarti juga saya akan memilih preman untuk menjadi suami lho yaa 😀

*Catatan iseng tengah malam
Gambar pinjam dari sini.

kemana si bungsu setelah SMP?



Beberapa hari yang lalu saya menemani adik bungsu mendaftar ke sekolah tujuannya jika lulus SMP nanti. Sekolah tujuannya itu sebuah SMK yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Pendaftaran dilakukan sebelum pengumuman kelulusan UAN karena sekolah ini termasuk dalam daftar sekolah berstandar internasional di kota kami. Ini berarti sekolah tersebut tidak termasuk dalam daftar PSB online nantinya.


Sejak pendaftaran dibuka tanggal 2 Mei, ratusan siswa SMP terlihat memenuhi sekolah tersebut setiap harinya. Untuk bisa terdaftar di sekolah ini sendiri, para peserta diharuskan mengikuti beberapa tes. Tes pertama berupa pemeriksaan fisik berupa tindikan dan tato bagi siswa laki-laki dan tindikan pada siswa perempuan. Jika calon peserta sudah lulus di pemeriksaan fisik, maka mereka akan dipebolehkan mengikuti tes tertulis yang rencananya akan diselenggarakan tanggal 14 Mei mendatang.

Keputusan untuk mendaftar di SMK sendiri merupakan keinginan langsung dari adik saya. Saya ingat betul ketika dia masih menjadi siswa SMP baru, dengan iseng saya bertanya padanya akan kemana dia setelah SMP nanti. Adik saya, tanpa ragu berkata ingin mengambil jurusan komputer dan kalau tidak salah menyebutkan SMK sebagai sekolah tujuannya. Sejak dahulu dia memang sangat akrab dengan komputer. Dan jujur, mendengar jawabannya kala itu membuat saya lega luar biasa. Adik saya sudah tahu cita-citanya.

Melihat apa yang dilakukan adik saya ini mau tak mau mengingatkan saya tentang bagaimana saya belasan tahun yang lalu. Kala itu, saya, dan juga mungkin anak-anak SMP lainnya berlomba-lomba untuk bisa masuk SMA unggulan di kota kami. Rasanya ada kebanggaan tersendiri jika bisa masuk entah itu SMA 1 atau SMA 7, dua sekolah yang menjadi primadona di kota saya kala itu. PIlihan untuk masuk STM dan SMEA (sebutannya kala itu) hanya jika NEM sudah tidak mencukupi untuk bisa masuk ke SMA. Bahkan untuk SMK yang menjadi tujuan adik saya ini, kala itu terkenal sebagai sekolahnya anak-anak bengal, yang sering tawuran dan terlibat berbagai kasus.

Melihat bagaimana besarnya antusiasme para siswa SMP untuk bisa masuk SMK membuat saya yakin saat ini sekolah kejuruan mengalami apa yang kalau boleh saya sebut “naik derajat”. Sekolah yang dulunya hanya kelas dua ini menjelma menjadi sebuah sekolah pilihan. Bukan hal aneh sebenarnya. Melihat bagaimana susahnya mencari kerja saat ini membuat orang lebih melirik ke sekolah kejuruan. Lihatlah bagaimana kata-kata salah satu teman adik saya ketika kami sedang menunggu antrian hari itu. “Nanti kalau masuk jurusan komputer ini kita bisa magang di toko-toko komputer. Trus bisa dapat duit, deh,” begitu katanya.

Adik saya sendiri, saya belum tahu apakah bagian kerja dan dapat uang ini sudah ada di pikirannya ketika memutuskan untuk langsung menekuni dunia komputer selepas SMP. Saya hanya berharap ia bisa lulus tes di SMK tersebut, dan tentunya juga bisa lulus UAN.

Gambar pinjam di sini.