ketika penulis dikritik



Jadi ceritanya seorang penulis lokal mengeluarkan sebuah novel bergenre Korea. Saya, selaku penggemar Korea jelas tertarik dong. Apalagi mengingat sang penulis ini punya jam terbang yang cukup tinggi untuk urusan tulis-menulis di daerah saya. Sang penulis sendiri, begitu tahu saya berniat membeli bukunya langsung menghubungi saya via sms (kebetulan saya mencantumkan nomor hape saya di fb). Dia memberikan informasi dimana saya bisa mendapatkan bukunya, juga sedikit mengajak berdiskusi tentang dunia tulis-menulis di daerah kami.


Setelah menunggu selama kurang lebih 2 minggu, novel pun saya dapatkan. Tak perlu waktu lama untuk membacanya, secara tebalnya juga tak seberapa. Selain itu, saya juga berjanji kepada sang penulis untuk memberikan sedikit review saya jika sudah selesai membaca novelnya. Sayangnya rencana membuat review itu buyar ketika saya menyadari bahwa novel ini berada di bawah ekspektasi saya. Bukannya sok jago dalam menilai sebuah buku, hanya saja setiap orang punya standarnya masing-masing bukan dalam menilai sebuah buku?

Beberapa catatan saya atas novel beliau itu kemudian saya kirimkan melalui inbox di facebook. Karena bersifat pribadi, saya tidak menggunakan kata-kata formal semacam review untuk menyampaikan catatan saya tersebut. Namun rupanya disinilah masalah bermula. Awalnya beliau menbalas dengan cukup baik, walaupun saya sudah bisa menangkap nada defensif dalam pesan balasannya.

Puncaknya, ketika saya menanyakan “apakah mungkin kode area handphone masih tetap sama ketika kita berada di luar negeri?“, sang penulis itu langsung meledak. Mengatakan bahwa saya sama saja seperti penulis-penulis kalsel lainnya (ini apa maksudnya saya tidak mengerti). Sang penulis bahkan menantang saya untuk membuat esai tentang kritikan saya atas novelnya. Jujur saya shock berat ketika membaca pesannya yang menggunakan capslock itu.

Permasalahan ini kemudian saya tanyakan pada beberapa teman di twitter. Tentang bagaimanakah sebaiknya menyampaikan kritik kita atas sebuah buku? Apakah melalui sebuah review atau disampaikan langsung pada penulisnya. Nah, dari jawaban yang diberikan, terutama dari Desi, saya jadi tahu bahwa menyampaikan kritik kita langsung kepada penulis bersangkutan itu bisa membuat si penulis merasa dirinya diserang. Beda dengan jika kita membuat review yang mungkin lebih bersifat umum dan bahasanya mungkin lebih tertata.

Maksud saya menyampaikan kritikan langsung kepada si penulis, adalah agar saya bisa memberikan masukan tanpa membuat orang berpikir ulang untuk membeli bukunya. Hal itu juga mengingat buku itu masih dalam tahap promosi. Nggak mungkin kan saya nulis review yang isinya berbagai keluhan saya tentang novel itu? Bisa-bisa orang nggak jadi beli. Saya juga memberi masukan sebagai dukungan saya sebagai sesama orang Banjar. Namun nyatanya reaksi yang saya dapatkan luar biasa.

Perkembangan terakhir, sang penulis itu membuat status di akun facebooknya. Katanya kalau mau kritik tulisan itu ada adabnya, nggak bisa langsung nyerocos. Dia bahkan menyebut sebuah buku yang tentang tata cara kritik sastra. Saya angkat tangan. Saya bukan penulis sastra, bukan pula pengkritik sastra. Saya hanya pembaca yang ingin menyampaikan kesannya setelah membaca sebuah novel.

Ada apa dengan antrian BBM di Banjarmasin?

Jelang tanggal 1 April lalu, pemerintah gembar-gembor dengan keinginannya untuk menaikkan harga BBM dari 4500 menjadi 6000 rupiah. Reaksi keras bermunculan seiring dengan rencana kenaikan tersebut. Ada yang demo, ada yang aksi damai. Semuanya sepakat untuk menolak naiknya BBM. Tak terkecuali tentunya di Banjarmasin.

Selain terjadinya berbagai aksi penolakan, isu kenaikan BBM juga berimbas pada panjangnya antrian di SPBU. Masyarakat yang keburu panik berbondong-bondong mendatangi SPBU untuk memenuhi tangki bensin mereka. Antrian mengular, harga bensin eceran pun melonjak. Mereka yang sudah putus asa dengan antrian, mau tak mau membeli bensin eceran seharga 7000 rupiah.

Untungnya, ketika hari penentuan tiba, rencana tersebut tidak jadi di-eksekusi. Alhamdulillah, berarti bensin udah nggak ngantri lagi, begitu pikir saya waktu itu. Sayangnya tebakan saya salah. Meski bensin tidak (atau belum) jadi dinaikkan, antrian bensin di SPBU di Banjarmasin tetap panjang. Bahkan, untuk satu minggu terakhir, antrian itu semakin menjadi-jadi saja rasanya. Hampir di setiap SPBU di kota Banjarmasin terlihat antrian yang mungkin sampai ratusan meter. Saking langkanya, bahkan harga bensin di eceran pun naik hingga mencapai 8000 rupiah. Berikut adalah gambar-gambar antrian BBM di SPBU Banjarmasin dan Banjarbaru.

Antrian di SPBU km. 5 Banjarmasin

Antrian di SPBU Loktabat Banjarbaru

Antrian di SPBU Loktabat Banjarbaru


Sungguh, ya, saya benar-benar nggak ngerti kenapa bisa jadi langka begini. Katanya sih jatah untuk di Banjarmasin dikurangi. Kalau kasusnya begini sih, nggak ada bedanya kali, ya BBM dinaikkan atau nggak




[kelas tahsin] ketika mulai malas



Ketika materi hafalan semakin banyak, ustadzah Ihsan memutuskan mengurangi jadwal pertemuan kami dari 3 kali seminggu menjadi 2 kali seminggu. Pertimbangan beliau, jika dipaksakan untuk menyetor hafalan 3 kali seminggu, kami akan keteteran dan lebih banyak mangkirnya. Dengan mengurangi pertemuan menjadi hanya 2 kali seminggu, diharapkan kami memiliki waktu yang cukup untuk menambah hafalan, sehingga tidak ada kejadian tidak hadir karena belum hafal.


Namun sepertinya bagi saya, pengurangan jadwal pertemuan ini berimbas pada ketekunan saya dalam menghafal. Saya lebih banyak santai. Benar dengan jadwal sebelumnya saya sempat merasa ketetaran, namun setidaknya saya lebih giat dalam menghafal. Alhasil, dalam sekali pertemuan saya paling banyak hanya bisa menyetor 5-7 ayat.

Namun ini semua masih perkiraan. Bisa jadi juga kekurangtekunan saya dalam menghafal ini disebabkan oleh pergantian juz dan ayat yang panjang-panjang dan tidak familiar di telinga saya.

Kota Besar itu Mempesona



Beberapa waktu yang lalu, seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya berkesempatan menikmati liburan di Jakarta. Sebagai orang daerah yang sangat jarang ke ibukota, banyak sekali perbedaan yang saya rasakan antara kota saya, Banjarmasin dan Jakarta.


Masalah transportasi misalnya, di Banjarmasin, saya terbiasa kemana-mana naik motor. Faktor jurusan angkutan yang terbatas penggunaan sepeda motor terasa lebih efektif dan efisien ketimbang angkot. Karena itu tak heran jika bisnis angkutan umum di kota Banjarmasin semakin hari semakin sepi saja. Kemudian ketika di Jakarta, saya dihadapkan pada kenyataan bernama macet, naik turun angkot kesana kemari. Berdesak-desakan dengan penumpang busway. Sungguh pengalaman yang luar biasa.

Lalu bagaimana dengan orang-orangnya? Sejauh ini mereka yang saya temui semuanya baik-baik. Hanya saja mungkin sedikit lebih cuek. Pengaruh kota besar kali, ya? Dan yang cukup bikin kaget, ternyata mereka tak seglamor yang ditampilkan di televisi. Semula saya sempat mengira bakal sering ketemu gadis-gadis hijaber yang blog-nya sering dikunjungi adik saya. Nyatanya, tidak sekalipun saya bertemu dengan mereka. Atau itu karena saya mengunjungi tempat-tempat yang salah? 😛

Tiga hari tinggal di Jakarta, bagaimana kesan saya? Kota itu mempesona, dan penuh dengan mimpi.

#Terkena sindrom Jakarta

kenangan sepotong flashdisk

Flashdisk berwarna ungu seperti model di atas saya beli sekitar 4 tahun yang lalu, bersama seorang yang pernah mengisi hati saya. Kapasitasnya 2 giga, dengan harga kurang lebih seratus ribu rupiah. Dengan harga yang sama, saat ini kita mungkin sudah bisa mendapatkan flashdisk dengan kapasitas 4 kali lipat dari milik saya tersebut.

Dengan penampilannya yang mungil tersebut, plus penutup yang tidak tersambung dengan badannya, maka sangat wajar jika flashdisk saya gampang tercecer atau hilang. Untuk itu, sebuah tali bertuliskan sonyericsson berwarna abu-abu saya gantungkan padanya agar ia tak mudah hilang dari pandangan saya. Dan alhamdulillah, cara itu cukup berhasil.

Selain karena bentuk dan warnanya, salah satu hal yang membuat saya sangat menyayangi flashdisk tersebut adalah karena keawetannya. Empat tahun. Sebuah masa yang cukup panjang untuk sebuah alat penyimpan data. Karena itulah meski orang yang menemani saya membeli flashdisk ini sudah meninggalkan saya, saya tetap mempertahankan flashdisk ini. Dan rupanya, dengan mempertahankan flashdisk ini, saya tanpa sadar mempertahankan kenangan saya bersama orang itu.

Dan sekarang, flashdisk kesayangan saya mengirimkan pesan kepada saya.

It’s been 4 years. Sudah waktunya aku meninggalkanmu, berikut kenanganmu bersamanya,” begitu mungkin katanya saat memutuskan menghilang dari tas saya dalam perjalanan Banjarmasin-Jakarta.

Dan saya, memutuskan merelakan kepergian flashdisk itu, berikut seluruh data pekerjaan yang tak sempat ter-backcup. Sudah saatnya membeli flashdisk baru. Dan semoga itu juga pertanda sudah saatnya saya menemukan kenangan baru.