[Cerpen Fantasi] Ramon

Negeri itu benar-benar asing. Jauh berbeda dengan negeri-negeri yang mereka singgahi sebelumnya. Tanahnya berwarna keemasan, dengan bangunan-bangunan menjulang bertebaran di kanan kiri jalan. Selain itu pohon-pohon yang tumbuh di tempat itu juga memiliki ukuran di luar ukuran kebiasaan. Orang-orang yang mereka temui, tak kalah aneh. Kulit mereka berwarna putih keunguan. Mereka berbicara dengan nada yang sangat lambat. Dan yang paling menyebalkan, tak seorang pun bersedia member tahu nama negeri yang sedang mereka singgahi ini.

“Ramon, kita sebenarnya berada dimana?” Dana bertanya dengan nada khawatir pada Ramon. Hari sudah mulai gelap, dan mereka berdua bahkan tak tahu harus melangkah kemana.

“Tenang sedikit, Dana. Aku sedang mengeceknya,” jawab Ramon sambil memiring-miringkan selembar peta yang ada di tangannya. Cahaya matahari yang semakin meredup membuatnya kesulitan membaca tulisan dan gambar-gambar yang tertera pada peta tersebut.

“Aneh. Berdasarkan peta ini seharusnya saat ini kita berada di pintu gerbang negeri Ravari. Tapi kulihat tadi lambang yang ada di pintu gerbang negeri ini berbeda dengan milik negeri Ravari. Lambang itu bahkan tidak terdaftar di peta ini,” ujar Ramon setelah berhasil membaca peta miliknya. Kali ini wajahnya sama khawatirnya dengan Dana.

Ini adalah hari ketiga perjalanan pulang mereka dari negeri Popilus. Berdasarkan informasi yang diberikan Paman Arinus sebelum keberangkatan mereka, seharusnya di hari ketiga ini Ramon dan Dana sudah tiba di negeri Ravari, negerinya para pelaut. Di negeri itu rencananya Ramon dan Dana akan menginap di kediaman Tuan Bossam, salah seorang kenalan Paman Arinus. Namun anehnya mereka malah tersesat di tempat asing seperti sekarang.

“Aku curiga jangan-jangan Madam Santika yang membuat kita tersesat seperti ini. Sudah kubilang aku tak percaya dengannya. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Aleza seteleh kita meninggalkannya, Dana.”

“Aku juga berpikiran begitu, Ramon. Tapi untuk saat ini kita pun tak bisa berbuat apa-apa. Hari sudah gelap, dan kita bahkan tidak tahu sedang berada dimana. Apa yang harus kita lakukan?”

Ramon terdiam sejenak sambil memandang ke sekelilingnya. Bangunan-bangunan yang tinggi menjulang, serta pepohonan yang berjejer rapat membuatnya merasa bahwa ia dan Dana sedang dikurung dalam sebuah penjara.

“Kurasa kita tak punya jalan lain selain menginap di tempat ini, Dana. Ikuti aku. Kita akan mencari penginapan yang cukup murah untuk beristiharat hingga besok. Dan kuharap besok pagi kita sudah menemukan jalan keluar dari tempat ini.”

***

Penginapan murah itu mereka temukan setelah hampir satu jam menelusuri hampir setiap jengkal kota asing tersebut. Letaknya yang tepat berada di antara bangunan-bangunan megah di tempat itu membuat penginapan itu Ramon dan Dana sempat mengira tempat itu adalah sebuah gudang.

Seorang laki-laki paruh baya menyambut kedatangan mereka di lobby resepsionis. Berbeda dengan penduduk lain yang mereka temui, laki-laki itu terlihat lebih normal. Tingginya tak jauh berbeda dengan Ramon, kulitnya berwarna sawo matang dan wajahnya dipenuhi cambang. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat Ramon dan Dana memasuki penginapannya.

“Aha. Ada tamu rupanya. Kemalaman di jalan, eh?” Ujar laki-laki tersebut sembari menyiapkan buku tamunya.

“Kami ingin memesan satu kamar dengan dua tempat tidur, Paman. Apakah masih ada?” Tanya Ramon pada laki-laki tersebut.

“Satu kamar dengan dua tempat tidur? Tentu saja ada. Kalian ingin makan malam diantarkan ke kamar?” Laki-laki tersebut bertanya lagi.

“Sepertinya tidak, Paman. Kami membawa bekal sendiri,” jawab Ramon spontan.

“Baiklah. Ini kunci kamar kalian. Semuanya 5 keping perak,” balas laki-laki tersebut sambil mengangsurkan sebuah kunci kepada Ramon.

Ramon merogoh uang dari kantong celananya. Lima keeping uang logam diangsurkannya kepada pemilik penginapan.

“Ikuti aku,” kata pemilik penginapan begitu menerima uang logam dari Ramon.

***

Tak ada orang lain selain mereka di penginapan tersebut. Itulah yang Ramon sadari ketika dirinya dan Dana memutuskan keluar dari kamar setelah menikmati makan malam seadanya dari cadangan makanan yang mereka bawa dari negeri Asfaris. Ramon memang sengaja menolak tawaran makan malam yang diberikan pemilik hotel ketika mereka memesan kamar beberapa jam sebelumnya. Firasatnya mengatakan kalau tersesatnya dirinya dan Dana di negeri tersebut disebabkan oleh makanan yang mereka santap di kedai Madam Santika.

Suasana malam yang sepi membuat Ramon dan Dana memutuskan duduk di bangku pada teras penginapan tersebut. Awalnya, hanya mereka berdua yang duduk di tempat itu, berdiskusi tentang langkah apa yang harus mereka lakukan esok hari, hingga tiba-tiba laki-laki pemilik penginapan itu datang. Membawa nampan berisi tiga gelas minuman hangat, pemilik penginapan tersebut menawarkan diri untuk bergabung dalam percakapan mereka.

“Kuharap aku tak mengganggu. Tak ada tamu lain hari ini, dan aku perlu teman bicara,” begitu katanya ketika meminta ijin untuk bergabung. Merasa tak enak, Ramon dan Dana akhirnya mempersilakan pemilik penginapan tersebut bergabung dengan mereka.

“Jadi, kalian ini berasal dari mana?” Tanya pemilik penginapan tersebut kemudian.

“Saya dan saudara saya baru kembali dari negeri Popilus, Paman. Dalam perjalanan pulang, badai pasir melanda perjalanan kami. Ketika badai reda, tiba-tiba kami sudah berada di negeri ini,” cerita Ramon kemudian.

“Jadi kalian tersesat?”

“Sepertinya begitu.”

“Bukan hal aneh. Negeri Magi memang diperuntukkan untuk orang-orang yang tersesat.”

“Apa maksud, Paman?” Tanya Ramon dengan nada terkejut.

Pemilik penginapan tersebut kemudian bercerita tentang kemudian menceritakan tentang sejarah negeri Magi. Negeri Magi merupakan sebuah negeri yang tak terlihat. Orang-orang yang tinggal di negeri Magi berasal dari pendatang yang tak sengaja menginjakkan kakinya di negeri tersebut. Beberapa berhasil keluar, namun kebanyakan gagal dan akhirnya menetap. Warna keunguan yang dimiliki para penduduk tersebut adalah akibat dari terkurungnya mereka di negeri Magi.

“Lalu kenapa kulitmu tidak berwarna keunguan, Paman?” Tanya Dana usai mendengar kisah dari pemilik penginapan.

“Itu karena aku adalah penjaga negeri ini. Madam Santika yang menunjukku untuk menjaga negeri ini.”

“Jadi Paman tahu tentang Madam Santika?”

“Tentu saja aku tahu. Siapa yang tak kenal dengannya? Penyihir yang gemar merubah
para gadis menjadi pohon pisang untuk menjaga kecantikannya. Teman kalian saat ini pasti sudah menjadi salah satu koleksinya.”

Spontan Ramon dan Dana keduanya berdiri menjauhi pemilik penginapan. Kecurigaan mereka terbukti. Madam Santika memang seorang yang berbahaya. Dan setelah Aleza, mungkin sekarang giliran mereka yang menjadi korban kejahatan Madam Santika melalui tangan pemilik penginapan.

“Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apapun pada kalian. Tugasku hanyalah menjamu kalian. Tidak lebih.” Pemilik penginapan berusaha menenangkan Ramon dan Dana.

“Duduklah kembali. Apa kalian tidak ingin tahu cara keluar dari negeri ini?” katanya lagi.

***

“Astagaa..berat sekali tubuhmu, Dana!! Bagaimana mungkin badan sekecil dirimu bisa seberat ini?!!” kata Ramon dengan setengah berteriak, sementara kakinya bergerak perlahan menyusuri menyusuri jalan di negeri Magi.

Hari masih gelap, di punggungnya tampak tubuh Dana yang berayun-ayun seiring langkah kakinya. Matanya terpejam, kepala dan kedua tangan terkulai lemas di pundak Ramon. Sia-sia saja Ramon berusaha membangunkan sahabatnya itu sejak berjam-jam sebelumnya. Bahkan jika gempa bumi melanda, Dana mungkin takkan bangun dari tidurnya. Karena itulah ia tak punya pilihan selain menggendong Dana di pagi buta seperti sekarang. Ramon hanya berharap dirinya cukup cepat untuk bisa mencapai pintu gerbang negeri Magi sebelum cahaya matahari terlihat.

Malam sebelumnya, pemilik penginapan telah memberi tahu cara untuk keluar dari negeri Magi.

“Besok pagi, akan ada kereta yang menunggu di pintu gerbang. Naiklah ke kereta itu sebelum cahaya matahari terlihat. Jangan terlambat. Terlambat satu detik saja, kesempatan kalian untuk keluar dari negeri ini akan hilang selamanya,” begitu kata pemilik penginapan pada mereka tadi malam.

Awalnya Ramon dan Dana menganggap enteng saja peringatan yang diberikan pemilik penginapan. Bangun sebelum matahari terbit sudah menjadi kebiasaan penduduk negeri Asfaris sejak masa kecilnya. Jadi tentunya tidak akan ada masalah. Sayangnya mereka salah.

“Ini pasti karena minuman itu. Paman pemilik penginapan pasti telah mencampurkan obat tidur di dalamnya,” gerutu Ramon di sela-sela langkahnya. Sehabis menyelesaikan pembicaraan dengan pemilik penginapan tadi malam, entah mengapa mereka diserang kantuk yang teramat sangat. Dana bahkan langsung mendengkur begitu kepalanya menyentuh bantal dan tidak bisa dibangunkan hingga sekarang. Ramon sendiri harus susah payah menahan dirinya agar tetap terjaga sepanjang malam. Alhasil, ia harus kerepotan membereskan barang-barang mereka, memilih barang yang penting, menyingkirkan barang-barang tak penting, dan menyatukannya dalam satu tas. Jelas tak mungkin ia membawa kembali seluruh barang mereka sementara dirinya sendiri harus menggendong Dana yang tertidur pulas.

“Yah, setidaknya aku tidak meminum semuanya. Kalau tidak mungkin nasib kita akan sama seperti orang lain yang tersesat di negeri ini, Dana,” Ramon berkata lagi, pada dirinya sendiri.

Tepat setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ramon menghentikan langkahnya. Ia kini berada kurang lebih lima puluh langkah dari pintu gerbang. Di sana, tampak sebuah kereta mungil dengan seekor kuda keemasan sedang tertambat, seolah-olah sedang menanti dirinya dan Dana. Ramon kemudian memperhatikan langit di atasnya. Warna gelap yang tadi menaunginya sudah mulai berubah menjadi biru. Jika ia tak bergegas, kemungkinan besar mereka berdua takkan bisa mencapai kereta itu tepat waktu.

“Sial. Sepertinya aku harus berlari agar tak terlambat,” ujarnya ketika menyadari hal tersebut.

Ramon kemudian membetulkan posisi Dana di punggungnya. Sejak awal perjalanannya, entah sudah berapa kali tubuh gadis itu melorot dari gendongannya. Ramon sendiri tak yakin bisa benar-benar berlari dengan menggendong Dana di punggungnya. Beban yang ditanggungnya seolah-olah semakin berat setiap kali ia melangkah.

“Baiklah. Mari kita mulai. Kereta kuda, kami datang!!” serunya sambil mengambil ancang-ancang. Kemudian, dengan sekuatnya Ramon melangkahkan kakinya kembali menuju pintu gerbang negeri Magi. Warna langit semakin memudar seiring dengan langkahnya. Tepat sesaat sebelum cahaya keemasan muncul, Ramon menginjakkan kakinya di dalam kereta. Kereta pun menghilang.

***

Ini adalah kelanjutan kisah Aleza. Agak kacau. Haha

 

[kelas tahsin] Ayat-ayat yang Mirip



Kelas menghafal yang saya ikuti di Ma’had Umar bin Khattab telah memasuki bulan ke dua. Jika dihitung dari bulan pertama saya bergabung di Ma’had, ini adalah bulan keempat saya belajar di situ. Alhamdulillah selama periode tersebut, dari 37 surah yang ada di juz 30, saya berhasil melewati setengahnya. Lebih senangnya lagi, dalam 3 pertemuan terakhir, ustadzah Ihsan dengan ringan hati memberikan angka 8 untuk setoran hafalan saya. Itu artinya pelafalan huruf hijaiyah saya Insya Allah sudah pas.

Bicara soal menghafal, mendekati awal-awal juz 30, beban hafalan yang dirasa tentunya semakin berat (saya menghafal dari surah An Naas). Bukan hanya karena selain harus menghafal surah yang baru, saya juga wajib menjaga hafalan surah terdahulu. Namun juga semakin seringnya saya menemui ayat-ayat yang mirip di beberapa surah. Dan inilah yang kadang membuat hafalan saya melantur.

Saat sedang asyik mengulang Al Lail, eh kok tau-tau ujungnya nyasar ke Al Fajr. Kadang surah Al Lail juga mirip dengan surah Al A’la. Yang terbaru, saya harus bolak balik keseleo lidah untuk 13 ayat pertama surah At Takwir yang belakangnya ats semua itu.

Jika didaftar, beberapa ayat yang mirip untuk juz 30 adalah sebagai berikut:

Ayat 17 surah Al Lail dengan ayat 11 Surah Al ‘Ala
Ayat 19-20 di surah Al Buruj dengan ayat 21-22 surah Al Insyiqaq
Ayat 6 surah At Tiin dengan ayat terakhir surah Al Insyiqaq
Ayat 22 surah Al Muthaffifin dengan ayat 13 surah Al Infithar
Ayat 21 surah Al Ghasiyah dengan ayat 9 surah Al A’la

Untuk sementara baru ayat-ayat ini yang bisa saya data. Kata Ustadzah Ihsan, memasuki juz 29 nanti kami akan semakin banyak menemukan ayat-ayat yang mirip ini, plus jumlah ayat dalam 1 surah tentunya juga akan semakin banyak. Semoga saya bisa tetap istiqomah dalam usaha menghafal al qur’an ini. Untuk saat ini, target terdekat saya adalah bisa menuntaskan juz 30 sebelum tanggal 1 nanti. Semoga Allah memudahkan jalannya.