[kelas tahsin] pertemuan pertama kelas tahfidz

Kelas pertama tahfidz untuk kelompok ke dua Ma’had Umar bi Khattab dimulai Rabu, 8 Februari 2012 lalu. Sebenarnya pada pengumuman ujian hari Sabtu sebelumnya 13 orang dinyatakan berhak mengikuti kelas tahfidz. Namun mengingat waktu 2 jam diperhitungakan tidak cukup bagi ke-13 orang ini untuk menyetorkan hafalannya, maka diputuskan untuk membagi 2 kelompok, dengan jadwal yang berbeda tentunya. Saya sendiri beserta 4 teman lain tergabung dalam kelompok ke dua, yang dijadwalkan menyetor setiap Rabu/Juma’t-Sabtu-Minggu.

Memasuki kelas tahfidz, bukan berarti kegiatan yang dilakukan adalah melulu setor hafalan. Di kelas sebelumnya, sebelum menyetor hafalan saya dan teman-teman terlebih dahulu melakukan tadarus bersama, baru kemudian masing-masing santri menyetorkan hafalannya. Berhubung ini adalah kelas baru (meski mukanya muka lama) dan guru yang dititipi amanah juga baru, maka otomatis sistem yang dijalankan pun baru.

Pada pertemuan pertama kemarin, Ustadzah Ihsaan, atau yang sering juga disebut Ummu Abdullah terlebih dahulu berkenalan dengan santri barunya. Setelah berbincang-bincang sejenak, barulah dimulai kelas tahfidz. Masing-masing santri diminta menyetorkan hafalannya masing-masing dimulai dari An Naas hingga Al Asr. Menariknya, setelah masing-masing santri selesai menyetorkan hafalannya, Ustzh Ihsaan memberikan koreksi atas bacaan kami masing-masing, entah itu dari segi makhrojul hurufnya, panjang pendek mad yang dibaca, hingga sedikit memberikan tafsir dari surah yang disetor. Hal yang tentunya sangat bermanfaat bagi kami yang rata-rata tidak memiliki latar belakang pesantren.

Setidaknya ada 2 hal yang dibagikan Utszh Ihsaan hati itu. Pertama beliau berbagi tentang huruf Isti’la. Apa itu huruf Isti’la? Menurut ilma95.net, Isti’la adalah terangkatnya sebagian besar lidah ketika melafalkan huruf. Ada tujuh huruf Isti’la, yakni Kalimat Isti'la'. Ustzh Ihsaan sendiri mengibaratkan huruf Isti’la adalah huruf yang “sombong”. Sombong disini dalam artian ketika menyebutkannya kita harus benar-benar memaksudkannya (ini penjelasan apa to?). Kalau kata saya sih, huruf Isti’la itu huruf yang pengucapannya benar-benar bulat. Bulat saat didengarkan, juga bulat bibir kita saat melafalkannya. Huruf-huruf Isti’la ini juga temasuk dalam huruf-huruf yang menurut saya sangat indah didengar.

Selain tentang huruf Isti’la, pelajaran penting hari itu adalah bagaimana membedakan mad wajib muttasil dengan mad jaiz munfassil. Jujur selama ini saya mengalami kesulitan untuk membedakan 2 mad tersebut. Seperti yang diketahui baik mad wajib maupun mad jaiz adalah huruf mad yang bertemu dengan huruf alif/hamzah. Bedanya untuk mad wajib muttasil huruf alif/hamzah-nya berada dalam 1 kalimat sedangkan untuk mad jaiz huruf alif/hamzah-nya tidak berada dalam 1 kalimat. Selain itu untuk mad wajib muttasil wajib dibaca 6 harokat, sedangkan untuk mad jaiz bisa dipilih antara 2,4 sampai 6 harakat, dengan syarat harus konsisten di sepanjang surah.

Pertanyaannya adalah, bagaimana mengetahui huruf alif setelah mad itu berada dalam satu kalimat atau tidak? Bagi mereka yang punya latar belakang pesantren, ini mungkin bukan hal yang sulit. Tapi bagi mereka yang tidak berlatar belakang pesantren, hal ini mungkin agak sulit dipahami. Karena itulah keberadaan al qur’an terjemah sangatlah membantu untuk mengetahui “satu kalimat” atau “tidak satu kalimat” ini.

Saya sendiri masih agak kesulitan untuk membedakan 2 mad ini. Namun jikalau bingung dengan kedua mad ini, cara paling aman dalam membacanya adalah dibaca 6 harakat saja keduanya. Contoh paling sederhana untuk Mad Wajib Muttasil adalah pada kalimat yang dimulai dengan yaaaa ayyunnabiyyu, sedangkan untuk Mad Jaiz bisa dilihat pada surah Al Kafiruun dimana kalimat Laa pada ayat 2-5 bisa dibaca 2, 4 atau 6 harakat. Hal ini menjawab keheranan saya terhadap surah al kafiruun yang kalimat Laa-nya kadang tidak dibaca terlalu panjang oleh Imam dalam sholat.

Demikianlah 2 jam pertemuan hari itu kami habiskan dengan berdiskusi dan berbagi ilmu. Sampai hari ini saya masih tak menyangka mempelajari huruf hijaiyah saja bisa begitu menyenangkan seperti ini.

Gambar pinjam dari sini.

37 pemikiran pada “[kelas tahsin] pertemuan pertama kelas tahfidz

  1. salam kenal, alhamdulillah, ikut senang untuk programnya.. Sedikit koreksi saja, afaik, mad wajib muttashil dan jaiz munfashil konteksnya apakah dalam 1 kata atau tidak, bukan kalimat. Sedangkan untuk isti’laa mengangkat bagian belakang lidah. Beberapa guru tajwid justru melarang memonyongkan/membulatkan mulut untuk tes sudah betul atau belumnya pelafalannya.Cmiiw.

  2. ikhwatiislam said: tahfidznya di pantau sma murrobi doang, tp kdg pas hrs setoran, pas udah lupa lagi, huehue

    mungkin harus ada temannya, mba. biar semangat dan bisa saling menyemangati bahkan saling iri gara2 temannya udah lebih dulu hafal dari kita. hehe.saya klo lupa pas waktu nyetor sih ya setor seadanya dulu, deh πŸ™‚

  3. ummuyusuf24 said: subhanallah mbak, sudah sampai tahfidz

    alhamdulillah kemarin setelah ujian ustadnya “meluluskan” ke kelas tahfidz, mba. padahal masih banyak juga yang nggak pas pengucapannya πŸ™‚

  4. ikhwatiislam said: jangankan satu juz mba, wong satu surah ajah udah senengnyaaaa subbhanalloh,,

    betul banget tuh, mbaa suly. saya sih senangnya karena nggak bakalan bengong lagi klo misalnya imam baca surah-surah dari juz 30 pas sholat berjamaah ^_^

  5. ummuyusuf24 said: dari dulu tahsinq belum terselesaikan krn sering pindah2 tempat aktivitas. baca postingannya mbak yana jadi pengen nyambung lagiiiiiii :)jazakillah ya mbak πŸ™‚

    alhamdulillah kalau tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya πŸ™‚

  6. salam kenal, alhamdulillah, ikut senang untuk programnya.. Sedikit koreksi saja, afaik, mad wajib muttashil dan jaiz munfashil konteksnya apakah dalam 1 kata atau tidak, bukan kalimat. Sedangkan untuk isti’laa mengangkat bagian belakang lidah. Beberapa guru tajwid justru melarang memonyongkan/membulatkan mulut untuk tes sudah betul atau belumnya pelafalannya.Cmiiw.

  7. thebimz said: memang asik belajar huruf hijaiyah atau bahasa arab.. apalagi sama temen2 dekat, jadi ceria bawaannya, hehe

    betul banget tuh. saking serunya kadang nggak ngerasa kayak pengajian πŸ˜€

  8. trewelu said: salam kenal, alhamdulillah, ikut senang untuk programnya.. Sedikit koreksi saja, afaik, mad wajib muttashil dan jaiz munfashil konteksnya apakah dalam 1 kata atau tidak, bukan kalimat. Sedangkan untuk isti’laa mengangkat bagian belakang lidah. Beberapa guru tajwid justru melarang memonyongkan/membulatkan mulut untuk tes sudah betul atau belumnya pelafalannya.Cmiiw.

    wah alhamdulillah makasih koreksinya, mba. iya saya lupa ngasih tau. kemarin itu kata ustadzahnya kata dalam bahasa indonesia dalam bahasa arab disebut kalimat. saya juga sempat komplain awalnya. trus dijelasin begitu. jadi kalau misalnya ayah itu satu kata, maka dalam bahasa arab abii disebut kalimat. kumpulan kalimat itu disebut jumlah. gitu kata ustadzahnya. saya berhubung belum belajar bahasa arab jadinya manggut-manggut aja. heheklo isti’la, saya masih belum terlalu ngerti juga praktiknya, mba. jadi makasih masukannya yaa ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s