[kelas tahsin] UJIAN



Jum’at, 27 Januari yang lalu, Ma’had tempat saya dan beberapa teman menimba ilmu menghafal al qur’an mengadakan ujian. Yang namanya sekolah, wajar dong kalau ada ujiannya. Bedanya ujian kali ini bukanlah ujian yang biasa saya ikuti sebelumnya, plus ini adalah pertama kalinya saya mengikuti sebuah ujian setelah bertahun-tahun. Ujian ini sendiri diadakan untuk mengetahui apakah kami -para peserta kelas tahfiz- cukup pantas untuk melanjutkan pelajaran hafalan atau malah turun kembali ke kelas tahsin.

Layaknya orang yang akan menghadapi ujian, hari-hari menjelang ujian tersebut bisa dibilang masa-masa yang menegangkan, bagi saya dan tentunya kawan-kawan. Terlebih setelah diberitahukan kalau yang akan menguji kami nanti adalah salah satu petinggi ma’had, bisa dipastikan ketegangan yang kami hadapi bertambah 2 kali lipat. Hari-hari jelang ujian saya habiskan dengan mengulang surah-surah yang sudah pernah saya setor minggu-minggu sebelumnya. Dan seperti yang sudah diduga, banyak hafalan yang hilang. Ada yang satu dua ayat, ada yang hampir separoh surah. Kegiatan mengulang hafalan ini ini juga ditambah dengan harus mempelajari beberapa materi tajwid serta melancarkan bacaan qur’an itu sendiri.

Di hari pelaksanaan ujian, saya dan teman-teman plus Ust. Aminah yang biasanya membimbing kami berkumpul di tempat kami biasa belajar. Berhubung yang akan menguji adalah seorang pria, maka ujian dilaksanakan dengan menggunakan tirai sebagai pembatas antara kami dan penguji. Adanya tirai ini belakangan memberikan banyak keuntungan bagi kami.

Peserta pertama yang diuji hari itu adalah Nuril. Dia adalah salah satu angota baru kelompok kami. Mula-mula ia diminta membaca al qur’an, kemudian dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat gharibah. Ketika tiba waktunya ujian menghafal, Nuril ditanyai sudah sampai mana hafalannya? “Al Balad,” begitu jawab Nuril. Setelah mendengar jawaban Nuril, Ustad pun langsung melantunkan sebuah ayat. Yang membuat kami semua bingung, rasanya ayat yang beliau lantunkan tidak ada dalam surah Al Balad, melainkan dalam surah Al Bayyinah.

Belum lagi otak kami berhasil mencerna maksud dari dilantunkan ayat tersebut, Ustad yang berada di balik tirai sudah meminta Nuril untuk melanjutkan ayat yang dibacakannya tersebut. Jelaslah sudah bagaimana ujian hafalan ini dilaksanakan. Kami diminta melanjutkan potongan ayat dari surah-surah tertentu. Sebuah hal yang sebenarnya paling kami takutkan. Disnilah kami merasakan keuntungan dari adanya tirai yang membatasi kami dengan ustad penguji. Kami bisa membantu teman yang sedang diuji untuk melanjutkan ayat yang dibacakan ustad, tentunya dengan suara berbisik.

Usai Nuril, giliran saya yang diuji. Urutannya tak jauh berbeda dengan Nuril. Pertama-tama saya diminta membaca al qur’an (kalau tidak salah surah Al Imran), kemudian membaca ayat-ayat gharibah, lalu dilanjutkan dengan hafalan, yang alhamdulillah bisa saya lalui dengan lancar -dengan bantuan teman-teman tentunya-. Jikalau saat ujian tersebut saya ditanya surah apa saja yang dilontarkan ustadz kepada saya, jujur saya takkan bisa menjawabnya. Keharusan untuk meneruskan potongan ayat membuat otak saya harus berpikir cepat. Bukan untuk memikirkan surah apa yang sedang dibacakan, melainkan apa kelanjutan dari potongan ayat tersebut. Dan katanya sih, memang begitulah cara yang paling pas untuk menguji hafalan seseorang. Saya sendiri cukup beruntung hari itu bisa mendapat potongan ayat dari surah-surah yang sangat sering saya ulang hafalannya, yakni Al Fajr, Al Ghasiyah, dan At Thoriq.

Sesudah saya, empat orang teman lain juga menjalankan tesnya masing-masing. Dua orang yang tersisa, Kak Dini dan Atul sedang berhalangan hari itu, sehingga ujian untuk mereka harus diundur ke minggu berikutnya. Pengumuman hasil ujian sendiri dilaksanakan satu minggu sesudah ujian tersebut, yakni tanggal 4 Februari 2011.

Gambar pinjam dari sini.


my sister’s funny stories


1

Beberapa waktu yang lalu adik saya pergi ke Duta Mall bersama teman-teman kuliahnya. Salah satu tempat yang mereka singgahi kala itu adalah counter Body S***. Saat teman-temannya sibuk melihat-lihat produk yang dipajang di counter tersebut, perhatian adik saya tertuju pada bagian tester yang ada disana. Ada beberapa pilihan produk yang bisa dicoba, dan adik saya pun mencoba salah satu lipgloss yang disediakan. Dioleskannya lipglos tersebut ke bibirnya untuk kemudian menyadari bahwa lipgloss tersebut “rasanya” sangat aneh.

“Uh, merk mahal kok rasanya aneh begini, sih,” mungkin begitu umpatnya dalam hati.

Segera ia letakkan kembali lipgloss tester tersebut ke tempatnya. Saat mengembalikan lipsglos tersebut tanpa sengaja matanya tertumbuk pada label jenis produk yang telah ia coba sebelumnya. EYE SHIMMERY, begitu yang tertulis disana.


2

Saat SMA, adik memiliki seorang sahabat laki-laki yang kerap dipanggil Black. Satu hari Black mengajak adik saya pergi ke sebuah toko alat tulis.

“Disini ada double tape, nggak, Sa?” begitu tanyanya.

“Double tape? Itu buat ngerekam suara, ya?” jawab adik saya dengan lugunya


3

Adik saya saat ini bekerja sebagai teller di sebuah bank syariah. Suatu hari seorang nasabah datang kepadanya dengan menyerahkan lembaran slip setoran.

“Uangnya sepuluh juta ya, Pak,” kata adik saya setelah membaca nominal yang tertulis pada slip setoran tersebut.

“Iya, Mba. Sebentar saya ambil dulu uangnya.”

Si Bapak kemudian membuka resleting celananya dan mengeluarkan segepok uang yang tersimpan dengan aman di dalamnya. Sementara adik saya hanya bisa bengong sambil menerima uang yang masih terasa panas tersebut.


Gambar dipinjam dari sini.

saat kita lanjut usia


Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri pernikahan seorang sepupu jauh, putra bungsu dari sepupu ibu saya. Namanya acara keluarga, yang namanya bertemu dengan kerabat jelas tidak bisa dihindarkan. Saat sedang menemani nenek saya di salah satu rumah tempat mempersiapkan makanan untuk para tamu, seseorang mendekati kami. Tubuhnya ringkih dan jalannya menunduk-nunduk. Beliau adalah Nini Galuh, perempuan berusia senja yang juga merupakan istri kedua almarhum kakek saya.

Begitu melihat keberadaan nenek, nini Galuh langsung menyapa dan menyalami nenek saya. Beliau langsung meletakkan tubuhnya di hadapan nenek saya, dan mulai berbagi cerita. Singkatnya, nini Galuh bercerita bahwa beliau kesiangan datang ke acara pernikahan tersebut karena beliau harus terlebih dahulu mengurus dua saudara yang tinggal satu rumah dengan beliau.

Mendengar cerita nini Galuh tersebut, sontak pikiran saya berputar ke saat terakhir kali saya mengunjungi nenek Galuh sebelum lebaran tahun lalu. Di rumah yang masih bergaya khas banjar itu tinggal 3 orang wanita yang sedang menjalani usia senja mereka. Dulunya rumah tersebut juga tinggal almarhum kakek. Namun setelah meninggalnya beliau, otomatis hanya mereka bertiga yang menempati rumah besar itu.

Mungkin akan ada bertanya kemana putra-putri dari nenek galuh dan kedua saudaranya tersebut. Jujur saya sendiri pun tidak mengetahuinya. Ibu tak pernah bercerita, dan saya pun tak pernah bertanya. Yang saya tahu, nini Galuh menikah dengan almarhum kakek saya saat mereka berdua sudah sama-sama berumur. Almarhum kakek tak memiliki anak kandung (abah adalah anak angkat beliau), sedang beliau sendiri adalah kakak dari nenek saya dari pihak ibu. Untuk nini Galuh sendiri, tak banyak hal yang saya ketahui, bahkan hingga sekarang.

Kalau kata orang banjar, saya ini anak yang “kada tahu di kula“, tidak mengenal keluarga sendiri. Dari sekian banyak kerabat, saya hanya akrab dengan sepupu-sepupu yang datang langsung dari saudara kandung ibu saya. Sedang yang namanya sepupu dua kali, tiga kali, keponakan dari sepupu, paman dari saudara nenek, dan sebutan lain yang berhubungan dengan saudara jauh, saya bisa dibilang hanya tahu wajah mereka dan begitu juga sebaliknya. Frekuensi pertemuan yang terbilang jarang, serta karakter saya yang pendiam bisa dibilang menjadi penyebabnya. Jauh berbeda dengan ibu saya yang selalu bisa cepat akrab dengan orang lain. Jadi tidaklah mengherankan ketika Nenek Galuh menghampiri nenek saya di hari itu, beliau tidak mengenali saya, meski beberapa bulan sebelumnya saya bertamu ke rumah beliau.

Balik lagi ke cerita tentang kondisi Nini Galuh tadi, sungguh saya merasa miris dibuatnya. Tiga wanita senja tinggal bersama, dan dua diantaranya nyaris tak bisa meninggalkan tempat tidur mereka lagi. Sebuah kondisi yang mungkin tak hanya saya, namun nini Galuh pun pasti tak menginginkannya. Seperti juga saya, nini Galuh pastinya memimpikan masa tuanya dikelilingi anak cucunya. Tak harus kaya raya, namun setidaknya tak sendiri.

Gambar pinjam dari sini.

menghafal al qur’an itu, susahkah?



Tak terasa kajian belajar al qur’an yang saya ikuti sudah memasuki tingkat tahfiz/menghafal Al Qur’an. Secara resmi, program tahfiz ini sudah berlangsung sejak bulan Nopember lalu. Dimulai dari surah An-Naas dan terus berlanjut ke surah sebelumnya. Target yang diberikan adalah satu halaman setiap pertemuan, dan diharapkan pada akhir Januari ini kami bisa secara fasih menghafalkan juz 30.

Awalnya saya sempat ragu untuk meneruskan kelas menghafal ini. Maklumlah, sejak dulu saya bukan tipe orang yang suka menghafal, bahkan kalau boleh dibilang lemah dalam hafalan. Namun begitu melihat teman-teman satu kelompok yang seolah tak gentar dengan tantangan yang diberikan, saya pun akhirnya menyanggupi untuk meneruskan pelajaran.

Sepuluh surah pertama bisa saya lalui tanpa kesulitan berarti. Wajar, sebab kesepuluh surah tersebut merupakan surah-surah pendek yang sering dibaca dalam sholat. Memasuki surah Al-Humazah, saya mulai mendapat masalah. Meski hanya 9 ayat, namun surah ini bukanlah surah yang sering saya dengar ataupun saya baca. Mau tak mau saya harus benar-benar menghafalkannya. Bisa dibilang inilah tantangan pertama yang harus saya hadapi dalam program menghafal al Qur’an ini.

Surah Al Humazah berhasil terlewati, bertambah lagi tantangan saya, terutama pada surah-surah setelah surah At-Takasur. Jumlah ayat yang bertambah banyak, ayat-ayat yang tak terlalu familiar di lidah. Semuanya memerlukan usaha ekstra dalam menghafalnya. Kadang jika saya cukup beruntung, saya bisa menghafalkan satu surah dalam sehari. Namun ada kalanya rasa malas yang begitu besar, ayat yang mulai tertukar-tukar antara surah satu dengan yang lainnya, serta semakin panjangnya surah yang dihafal membuat saya memerlukan waktu yang begitu lama hanya untuk menghafalkan sebuah surat, Al Lail, misalnya. Namun untungnya, segala halangan itu belum menggoyahkan saya untuk tetap melanjutkan usaha menghafal al qur’an.

Salah satu hal yang membuat saya, dan mungkin teman-teman yang lain tetap bertahan dengan niat kami adalah karena keberadaan teman-teman itu sendiri. Semacam ada sebuah kompetisi tak tertulis antara kami semua. Saat ada satu teman yang berhasil melampaui kami, maka yang lain seolah terpacu untuk berjuang lebih keras dalam menghafal. Bahkan setiap kali bertemu di chat facebook, pertanyaan yang diajukan tak jauh-jauh dari, “udah sampai mana hafalan?” 😀

Mengikuti program menghafal al qur’an mau tak mau berpengaruh pada keseharian saya. Waktu-waktu yang biasanya saya isi dengan melamun tak berguna sekarang lebih banyak diisi dengan mengulang hafalan. Apalagi dengan semakin banyaknya surah yang harus dihafal, berarti harus semakin sering juga saya mengulang hafalan yang sebelumnya. Karena kalau tidak, bisa dipastikan hafalan yang terdahulu itu akan terkikis dan terganti dengan hafalan yang baru. Yah, katakanlah itu adalah resiko yang harus saya ambil ketika memutuskan untuk mencoba menghafal al qur’an.

Saat ini, tenggang waktu yang diberikan untuk menghafal juz 30 tinggal beberapa minggu. Saya sendiri baru mencapai surah Al-Fajr, yang artinya masih ada 11 surah lagi yang harus saya kejar hingga akhir Januari nanti. Untungnya saya tak sendiri, beberapa teman juga masih berkutat di seputar surah itu. Dan semoga saja semangat yang kami semua miliki tak luruh dengan semakin panjangnya surah yang harus dihafal.

Buku yang terbaca tahun 2011



Sekitar awal tahun 2011 kemarin, saya ikut tantangan membaca di Goodreads. Waktu itu dengan pedenya saya mencantumkan angka 50 di kolom jumlah target buku yang bisa saya selesaikan di tahun 2011. Namun rupanya kecepatan membaca saya masih sangatlah standar. Hingga detik terakhir di tahun 2011 kemarin total hanya 35 buku yang bisa benar-benar saya selesaikan. Tapi tak apalah. Setidaknya dalam sebulan saya rata-rata bisa menyelesaikan 3 buah buku. Berikut buku-buku yang berhasil saya baca di tahun 2011


1. Deluxe, Anna Godbersen ***
2. Arsene Lupin, Maurice Leblanc ***
3. Antologi Rasa, Ika Natassa **
4. Sebastian Darke : Prince of Fool, Philip Caveney ***1/2
5. KDRT : Kekonyolan Dalam Rumah Tangga, Boim Lebon dkk ***
6. Hati Baru, Dahlan Iskan ***1/2
7. Celebrity Wedding, Alia Zalea *
8. The Thief, Sang Pencuri dari Eddis, Megan Whalen Turner ***
9. Vandaria Saga : Harta Vaeran, Pratama Wirya Atmaja ****
10. Journal of Muslim Traveller, Heru Susetyo ****
11. Infinitely Yours, Orizuka **
12. Forever Yours, Kayla Nashar ***
13. Empat Musim Cinta, Adhitya Mulya, dkk ***
14. Anak Bajang Menggiring Angin, Sindhunata *****
15. Menentukan Hati, Zara Zettira ZR ***
16. Poconggg juga Pocong, @poconggg **
17. Remember When, Winna Effendie ***1/2
18. Miss Jinjing #4, Amelia Masniari **
19. Kabul Beauty School, Deborah Rodriguez ***
20. Mawar Merah : Mozaik, Luna Torashyngu *
21. Desirable Daughters, Bharati Mukherjee **
22. The Journeys, Adhitya Mulya dkk ***
23. Metamorforlove, Nora Umres ***
24. Senja Bersama Rosie, Darwis Darwis aka Tere Liye **1/2 (seharusnya bisa dapat 3 atau 3,5 tapi endingnya merusak segalanya)
25. Sketsa, Ari Nur Utami **1/2
26. Dwilogi Padang Bulan-Cinta dalam Gelas, Andrea Hirata ****
27. Writer vs Editor, Ria N. Badaria *
28. A Little Princess, Francess Hodgson Burnet ***
29. The Remains of the Day, Kazuo Ishiguro **
30. Tembang Ilalang, M. D. Aminuddin ***
31. Mini Sophaholic, Sophie Kinsella ***
32. The Wedding Games, Fanny Hartanti **1/2
33. Kuliah ke Lua Neger 2, Mau? Imazahra dkk ***
34. The Kite Runner, Khaled Hosseini ****1/2
35. Nibiru dan Ksatria Atlantis, Tasaro GK ***

Untuk tahun 2012 ini, lagi-lagi saya hanya berani menaruh angka 50 di kolom chalenge Goodreads. Semoga untuk tahun ini angka tersebut bisa terlewati.