[catatan perjalanan] pulang, ending yang menyedihkan

Enjoy the trip, not only the destination – Desi Puspitasari

Keinginan yang begitu besar untuk bisa merasakan naik kereta api dari Bandung menuju Jakarta membuat saya, Kak Dini, dan Lala memutuskan mencari penginapan di dekat stasiun kereta Bandung. Dan meskipun sempat lupa bahwa di akhir minggu biasanya hotel-hotel selalu penuh, kami cukup beruntung karena tak memerlukan waktu yang lama untuk menemukan tempat menginap. Adalah Hotel Griya Indah, hotel ketiga yang kami datangi malam itu, yang secara kebetulan masih memiliki satu kamar kosong.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Abrari, kereta menuju Jakarta akan berangkat pada pukul 6 dan 7 pagi. Dengan hitung-hitungan kasar, Lala yang sudah pernah pergi ke Jakarta dengan naik kereta memperkirakan jika kami naik kereta selambat-lambatnya pukul 7 pagi, maka kami akan tiba di stasiun Gambir pada pukul 10 pagi. Dua jam sebelum penerbangan kami hari itu. Abrari sendiri, saat menemani kami berbincang di loby hotel malam itu sebenarnya tidak yakin dengan pilihan kami. Bahkan kalau boleh dibilang dia berusaha meyakinkan kami untuk berubah pikiran. Namun dasar keras kepala, kami tidak mengindahkan anjurannya sama sekali.

Kurang lebih pukul 12 tengah malam, akhirnya kami bertiga kembali ke kamar. Dengan tubuh yang sudah cukup lelah, kami langsung merebahkan diri ke tempat tidur masing-masing. Tentunya tak lupa mengeset alarm di hape supaya tak bangun kesiangan.

Pukul 4 dinihari, saya terbangun, diikuti oleh Lala dan kak Dini. Kami pun bersiap-siap. Secara tak disangka acara mandi, berkemas-kemas plus sholat subuh itu menghabiskan waktu 2 jam. Hal ini secara otomatis membuat kami kehilangan kesempatan untuk naik kereta pada pukul 6 hari itu.

Tetap dengan keyakinan yang sama, sekitar pukul 6.15 kami meninggalkan hotel dan berjalan menuju stasiun Hall. Lala dan Kak Dini segera memesan tiket, sementara saya menjaga barang-barang kami. Tak lama mereka berdua pun kembali dengan 3 lembar tiket kelas eksekutif menuju Jakarta seharga 80 ribu rupiah/orang.

Sesuai dengan jadwal, kereta berangkat tepat pukul 7. Melalui pengeras suara masinis mengatakan kalau perjalanan menuju Jakarta akan ditempuh selama kurang lebih 3,5 jam dan berhenti di beberapa stasiun. Ini berarti kurang lebih pukul 10.30 kami akan tiba di Jakarta. Satu setengah jam sebelum jadwal pesawat kami.

Tanda-tanda akan terlambatnya kereta kami tiba di Jakarta sebenarnya sudah terlihat sejak kereta berhenti di Stasiun Cimahi. Entah kenapa di stasiun tersebut kereta berhenti cukup lama. Bahkan kalau boleh dibilang hampir setengah jam lebih dihabiskan di stasiun tersebut. Saya khawatir, namun berusaha berpikiran positif bahwa memang segitu waktu yang diperlukan di Stasiun Cimahi. Tak lama kereta pun berjalan lagi. Kali ini saya bisa cukup santai sambil menikmati pemandangan dari jendela kereta sambil sesekali mengambil beberapa foto.



Tiba di Stasiun Bekasi (kalau nggak salah), kereta lagi-lagi berhenti untuk waktu yang lama. Hati saya kebat-kebit. Sebab waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas lewat. Bahkan seandainya saya tahu jalan ingin rasanya saya turun di stasiun tersebut dan langsung mengejar taksi menuju bandara. Anehnya, begitu saya melirik ke Kak Dini dan Lala yang duduk di deretan di samping saya, mereka tampak tenang. Well, mungkin sebenarnya mereka berdua sama seperti saya, namun berusaha tak menampakkannya.

Setelah perhentian beberapa belas menit yang rasanya seperti satu jam itu, akhirnya kereta berjalan kembali. Setiap perhentian sebelum stasiun Gambir rasanya belasan menit bagi saya. Hingga akhirnya tepat pukul 11 kereta benar-benar berhenti di stasiun Gambir.

Dengan setengah berlari, kami keluar dari stasiun dan langsung men-carter taksi menuju bandara. Kepada pak supir kami minta agar bersedia mempercepat laju mobil yang dikemudikannya tersebut. Untungnya hari itu tak terlalu macet, jadi mobil bisa melaju dengan maksimal. Dengan gugup Kak Dini berusaha menghubungi keluarga Rahmi yang sudah berada di bandara. Dan untuk sesaat kami bisa bernafas lega ketika mengetahui mereka masih berada di ruang tunggu.

Tepat pukul 12, taksi yang kami tumpangi tiba di terminal C bandara Soekarno-Hatta. Mungkin karena saking gugupnya kami bahkan tak sempat mengecek tempat kami turun. Alhasil setelah membayar ongkos taksi, kami harus kembali menyeret kaki dan barang kami menuju terminal keberangkatan, sebab ternyata tempat kami diturunkan tadi adalah terminal kedatangan.

Setelah berhasil masuk ke bandara, kami segera menuju loket Citilink, maskapai yang akan mengantar kami pulang. Kami tunjukkan tiket kami dengan wajah memelas, berharap kami masih diberi kesempatan untuk chek-in. Namun kali ini keberuntungan rupanya tidak berpihak kepada kami lagi. Petugas mengatakan bahwa boarding sudah diproses, dan kami tidak bisa lagi melakukan check-in. Kami lemas.

Dalam keadaan lapar dan lemas (karena tiket yang hangus tentunya), kami memutuskan mengisi perut di salah satu restoran fastfood di bandara. Sambil makan kami memikirkan langkah selanjutnya yang akan kami ambil. Bertahan di jakarta satu malam lagi, membeli tiket hari itu juga atau pilihan ketiga, menelpon pihak Citilink dan meminta penerbangan pengganti. Oya, sebenarnya ketika masih berada di kereta beberapa jam sebelumnya, Lala sempat mendapat telepon dari suami Rahmi yang mengabarkan kalau ada beberapa anggota keluarga Rahmi yang akan dipindahkan penerbangannya ke hari Senin. Nah, awalnya kami berupaya untuk bisa mendapatkan penerbangan pengganti itu. Namun rupanya karena tawaran itu sudah ditolak sebelumnya, maka pihak penerbangan akhirnya membatalkan tawaran tersebut.

Akhirnya kami pun tidak punya pilihan. Kami harus membeli tiket baru. Dan rupanya hari itu memang hari dimana kami harus banyak-banyak bersedekah. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya kami mendapatkan tiket pulang ke Banjarmasin untuk hari itu. Sebuah maskapai bernama Batavia Air menawarkan 3 lembar tiket penerbangan pada pukul 6 sore seharga 1,5 juta rupiah. Nyaris lima kali lipat harga tiket kami yang hangus sebelumnya. Kami pasrah.

Setelah “kehilangan” uang, rupanya kesabaran kami masih harus diuji. Apalagi kalau bukan masalah delay. Ironis sekali bukan? Beberapa jam sebelumnya kami sangat berharap kalau pesawat yang akan kami tumpangi di-delay. Dan rupanya keinginan kami dikabulkan Allah Swt, namun untuk pesawat yang lain. Dan akhirnya, setelah berada di bandara selama kurang lebih 8 jam, kami pun bisa melepaskan penat di bangku pesawat. Masing-masing menyimpan perasaannya masing-masing. Kami marah, kami lelah. Tapi satu yang pasti, kami pulang.

Cinta, bersabarlah

Sore itu, satu lagi undangan pernikahan mampir di inbox hape saya. Kali ini berasal dari seorang teman yang katakanlah “saya pernah naksir dia, dan dia mengetahuinya”. Lucunya, undangan tersebut datang ketika beberapa jam sebelumnya saya memikirkan dirinya. Maklumlah, saya dan dia sudah cukup lama tidak saling kontak. Bahkan waktu itu saya sempat berkata pada diri saya sendiri, “jikalau dia nikah, pasti ngasih kabar, kok.” Dan benar saja, tak sampai satu hari saya mengucapkan kalimat tersebut, undangan itu tiba. Entah ini hal tersebut dinamakan pertanda atau cuma kebetulan, yang jelas Ini adalah kesekian kalinya orang yang pernah mampir di hati saya mendahului saya melangsungkan pernikahan. Apakah saya sedih? Sedikit. Itupun lebih karena saya lagi-lagi dilangkahi, dan bukan karena saya masih menaruh harapan padanya .

Bicara soal acara pernikahan, kurun waktu sesudah idul adha hingga akhir bulan muharram memang bisa dibilang masa-masa panen undangan. Selalu saja ada undangan setiap minggunya, dan jujur saja, hal ini sempat membuat saya merasa bosan. Seperti kemarin misalnya, ketika ibu minta ditemani untuk menghadiri acara pernikahan salah satu keluarga, dengan lirih saya berkata, “Bosan, Ma, ke kawinan melulu.” Yah, meski ujung-ujungnya tetap saya juga yang diseret ke acara tersebut.

Mungkin karena umur yang sudah sangat pantas untuk menikah, namun sang Pangeran tak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya yang membuat saya mulai kehilangan antusiasme atas berita pernikahan. Yang ada, saya lebih sering dilanda rasa sebal ketika tiba-tiba ada teman yang mengumumkan tanggal pernikahannya. Apalagi jika teman yang menikah itu tak memberikan tanda-tanda apapun sebelumnya. Kok rasanya mereka gampang banget ya ketemu jodohnya? Apakah saya iri? Tentu saja.

Di saat seperti itulah kata-kata seperti “Indah pada waktunya,” seolah menjadi penghibur yang mujarab bagi saya. Seperti juga lagu Letto selama sebulan terakhir saya dengar lewat sinetron Dewa, “Cinta, bersabarlah”. Semoga saya juga bisa tetap sabar hingga masa yang indah itu tiba.

Cinta bersabarlah

walau sehari ku tak berhenti
untuk mencari bunga hati

reff:
oh rasa cinta bersabarlah menantinya
oh rasa cinta bersabarlah menantinya

begitu lama aku mencoba
dan sampai kini tak berdaya

repeat reff

walau tak ku punya
tapi ku percaya cinta itu indah
walau tak terlihat
tapi ku percaya cinta itu indah

repeat reff [2x]

walau tak ku punya
tapi ku percaya cinta itu indah




[MV] IU “You and I”

Sampai pertengahan 2010, mungkin hanya segelintir pecinta K-Pop yang “ngeh” dengan keberadaan gadis kelahiran 1993 yang satu ini. Posisinya sebagai solois perempuan di tengah-tengah gempuran boy band dan girl band mungkin menjadi salah satu alasan kenapa sosoknya seolah terpingirkan. Padahal selain memiliki suara yang merdu, IU juga memiliki musikalitas yang tinggi. Ini bisa dilihat dari bagaimana dia berhasil meng-cover GEE dengan begitu indah diiringi dengan permainan gitar akustiknya. Salah satu hal yang jarang dimiliki idol K-Pop saat ini. Selain itu IU juga kerap menjadi langganan pengisi soundtrack drama-drama Korea.

Baca lebih lanjut

[catatan perjalanan] malam terakhir di Bandung, Trans Studio

Usai menghadiri pernikahan Rahmi, saya, Kak Dini, dan Lala pun pamit untuk kembali ke Bandung. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang ketika kami tiba di terminal. Itu berarti kami akan tiba di Bandung paling cepat pukul 6 sore. Dan karena sudah cukup “berpengalaman” dalam perjalanan sebelumnya, maka perjalanan kali ini lebih banyak saya isi dengan tidur.

Sekitar pukul 6 sore, bis MGI yang kami tumpangi tiba di terminal Leuwi Pajang. Segera kami turun untuk kemudian menumpangi angkot dengan jurusan ke Cihampelas. Sepanjang perjalanan yang kami pikirkan hanyalah dimana kami menginap malam itu. Awalnya Kak Dini menyarankan untuk menginap di hotel yang pernah ia tempati saat ke Bandung beberapa waktu sebelumnya, yang berlokasi tepat di depan Ciwalk. Namun berhubung tarifnya yang selangit, maka nama hotel tersebut dicoret dari daftar kami. Nama berikutnya diajukan oleh Lala. Ia menawarkan hotel yang pernah ditempati seorang temannya saat berada di Bandung juga. Namun karena kami tidak mengetahui lokasi hotel tersebut, plus kami bermaksud mencari penginapan dekat stasiun kereta, akhirnya perdebatan mengalami kebuntuan. Saya sendiri karena merasa sebagai “minoritas” tak berani memberikan saran apapun.

Saat sedang sibuk berdebat untuk menentukan tempat menginap, tiba-tiba Mas-mas yang duduk di depan kami nyelutuk. “Mba, kalo hotel yang dimaksud itu letaknya lumayan jauh dari stasiun,” begitu katanya. Perhatian kami pun teralih kepada Mas tersebut, hingga akhirnya perjalanan kami berujung dengan pindahnya kami dari angkot tersebut menuju angkot jurusan Stasiun.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika akhirnya kami tiba di stasiun Bandung. Satu hal yang tak menjadi perhitungan kami adalah, hari itu weekend, dan weekend berarti hotel-hotel penuh. Dan benarlah, dua hotel pertama yang kami datangi fullbooked. Beruntung ketika mendatangi hotel ke tiga, terdapat sebuah kamar yang tak sudah dibooking namun tak jadi ditempati. Jadilah malam itu kami bermalam di hotel tersebut.

Setelah meletakkan semua barang, kami langsung bergegas kembali ke lobi hotel untuk menunggu kedatangan Abrari. Yup, lagi-lagi kami “menculik”-nya untuk menghabiskan malam minggu di kota Bandung. Tujuan kami kali ini adalah Trans Studio yang terletak di Bandung Super Mal. Tak lama Abrari pun tiba di lobi, kami berempat pun melangkahkan kaki menuju jalan raya.

Ibarat orang kampung yang baru masuk kota, jujur saya terkagum-kagum sendiri ketika memandangi Bandung malam itu. Satu hal yang baru saya sadari malam itu adalah, bangunan-bangunan di kota Bandung rata-rata masih memakai arsitektur Belanda. Mulai dari hotel hingga bangunan pemerintahan. Sebuah hal yang tak saya temukan di Banjarmasin. Bahkan kalau dilihat-lihat lagi, kayaknya replika-replika bangunan di Trans studio di Bandung juga memakai arsitektur Belanda (CMIIW yaaa).


Sesampai di Trans Studio, kami langsung melakukan registrasi. Karena saat itu adalah malam minggu, maka harga tiket masuknya sebesar Rp. 200.000/orang. Lumayan mahal sih sebenarnya. Namun kalau dipikir-pikir, toh saya tidak setiap waktu bisa ke Bandung lagi jadi nggak apa-apalah mahal sedikit, hehe.


Wahana pertama yang kami coba di Trans Studio tak lain dan tak bukan adalah roller coaster. Kali pertama mencoba roller coaster, membuat saya agak lebay dengan sistem keamanan yang ada. Beberapa kali saya meminta tolong mba penjaga di tempat tersebut agar memeriksa tempat duduk saya. Sebenarnya wajar aja kali ya, mengingat ini berkaitan dengan hidup dan mati saya.

Roller coaster pun dijalankan. Anak laki-laki yang duduk di samping saya terus-menerus berteriak “YASIIIIN..YASIIINN,” sementara saya sendiri hanya bisa berteriak, “AAAAAA,” selama 30 detik yang mendebarkan tersebut. Satu momen yang tidak akan bisa saya lupakan saat mengendarai roller coaster itu adalah ketika kami berada di puncak, memandang langit malam kota Bandung selama sepersekian detik, lalu tiba-tiba kami meluncur kembali ke bawah, dengan kecepatan penuh. Sebuah momen yang kalau boleh saya bilang seperti menghadapi detik-detik terakhir hidup kita.


Sesudah merasakan sensasi “mau mati” dengan roller coaster, kami bertiga mencoba beberapa wahana lain yang ada di Trans Studio. Naik perahu di Sky Pirates, Giant Shoes, Dunia Lain, Science Center, hingga mencoba ikut kuis. Sayangnya karena sudah terlebih dahulu mencoba Roller Coaster, membuat wahana-wahana lain yang kami coba tersebut menjadi terasa biasa saja. Antiklimaks kalau kata orang.

Oya, ketika menikmati wahana-wahana di tersebut, kami mendapat 3 kawan baru, Putri, Fatma dan seorang lagi yang saya lupa namanya. Mereka adalah remaja Bandung yang datang dengan ditemani tante-tante mereka. Hanya saja para tante tersebut tidak ikut ke dalam studio.

Ketika ditanya sudah berapa kali ke trans studio, mereka mengaku sudah lebih dari sekali. Bahkan kalau boleh dibilang wahana Dunia Lain sudah bukan hal yang menakutkan lagi bagi mereka. Namun lucunya, tak ada satupun dari mereka yang pernah merasakan naik roller coaster. Pun ketika kami memutuskan mencoba Giant Shoes, salah satu dari mereka menolak untuk ikut. Well, kalau saya seumuran mereka mungkin juga akan menolak wahana-wahana tersebut.

Anak-anak yang cerdas dan selalu ingin tahu. Begitulah kesan saya ketika membersamai Putri, Fatma dan temannya malam itu. Ini bisa dilihat bagaimana antusiasme mereka ketika berada di Science Center. Mereka memper
hatikan setiap penjelasan para instruktor, dan bahkan mencoba sendiri beberapa percobaan. Bahkan dengan rajinnya mereka menuliskan saran dan kritik mereka di lembar yang sudah disediakan di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 kurang. Wahana-wahana sudah mulai ditutup. Itu artinya sudah waktunya kami meninggalkan trans studio. Sebelum benar-benar meninggalkan studio, mampir sebentar ke pos Dibalik Layar, salah satu tempat dimana kita bisa mencoba menjadi bagian dari Trans TV, baik itu dengan mencoba menjadi presenter, ikut kuis, ataupun belajar dubbing. Sebuah pos yang cukup informatif, menurut saya.
Petualangan malam itu ditutup dengan late dinner di A&W restoran. Dan lagi-lagi di sana kami bertemu dengan trio Putri dan kawan-kawannya. Namun kali ini mereka tak lagi bertiga, melainkan bersama tante-tante mereka. Setelah perut terisi, kami bergegas kembali ke lantai dasar. Sambil sesekali memandang ke arah roller coaster yang kami coba beberapa waktu sebelumnya, kami mencari tumpangan untuk pulang. Karena tubuh yang sudah terlalu lelah, kami memutuskan naik taksi saja. Beruntung malam itu masih ada satu taksi tersisa di halaman BSM. Tanpa banyak basa-basi kami langsung memasuki taksi tersebut. Sebelum taksi berjalan, saya sempatkan untuk mengambil foto terakhir saya di Bandung malam itu.

NB : catatan sebelumnya

http://ayanapunya.multiply.com/journal/item/270/catatan_perjalanan_bandung_aku_datang

http://ayanapunya.multiply.com/journal/item/271/catatan_perjalanan_menjadi_pengiring_pengantin

Edited : Dapat video roller coaster Trans Studio yang di Bandung.

[review] Finding Mr. Destiny

Kita harus menutup lembaran lama sebelum memulai lembaran baru.

Setidaknya itulah pesan yang saya tangkap seusai menonton menonton Finding Mr. Destiny. Sebuah film Korea yang rilis akhir 2010 lalu. Finding Mr. Destiny sendiri bercerita tentang pencairan cinta pertama dari seorang wanita.

Dikisahkan Seo Ji Woo, seorang sutradara drama musikal yang menolak lamaran kekasihnya dengan alasan “tak bisa melupakan cinta pertamanya.” Ji Woo dan cinta pertamanya ini bertemu tanpa sengaja ketika dirinya melakukan perjalanan ke India sepuluh tahun sebelumnya. Pertemuan tanpa sengaja ini kemudian berbuah menjadi perjalanan bersama. Sayangnya ketika tiba waktunya berpisah, Ji Woo memutuskan menyerahkan kelanjutan hubungan mereka pada takdir. Baca lebih lanjut