{catatan perjalanan} bandung, aku datang!!

Akhir minggu lalu, saya dan dua orang teman melakukan perjalanan ke luar pulau. Asal muasal perjalanan singkat ini sendiri berawal dari undangan dari Kak Dini -salah satu teman perjalanan-, untuk ikut dengannya menghadiri pernikahan salah seorang temannya di Sukabumi yang akan dilangsungkan pada 26 November. Saya yang waktu itu memang lagi kangen Bandung langsung menyambut tawaran tersebut. Meski sempat diberi tahu kalau jarak Sukabumi – Bandung itu lumayan jauh, tak mengurangi antusiasme saya untuk berangkat. Dan setelah melalui berbagai diskusi, dipilihlah tanggal 24 November untuk memulai perjalanan akhir tahun saya.

Tanggal 24 November, saya, Kak Dini, Lala dan rombongan yang lain (mempelai perempuan plus keluarganya) berangkat dari bandara Syamsudin Noor. Jadwal penerbangan yang seharusnya berangkat pada pukul 15.00 Wita, molor hingga magrib. Singkat kata, saya dan rombongan tiba di bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 21.00. Dalam kondisi lelah, perjalanan pun langsung dilanjutkan menuju Sukabumi selama kira-kira 3 jam. Sesampai di Sukabumi, kami semua langsung diinapkan di salah satu rumah keluarga mempelai pria (saya dan Lala sepakat bahwa tempat kami menginap itu merupakan rumah inap).

Paginya, sesuai rencana kami bertiga bertolak menuju Bandung. Berangkat pukul setengah tujuh pagi, kami sempat dikagetkan ketika diberi tahu kalau perjalanan dari daerah tempat kami menginap menuju Bandung itu bisa memakan waktu 4 jam lebih. “Lho bukannya sebelum berangkat ke Bandung kamu sudah diberi tahu, Yan?” Mungkin ada yang bertanya begitu? Ya, memang benar saya sudah diberi tahu. Tapi waktu itu saya mendapat 2 info berbeda. Ada yang mengatakan cuma 2 jam, ada yang mengatakan 4 jam. Dan saya memilih berpatokan pada 2 jam.

Akhirnya dengan segala kesabaran kami lalui perjalanan Sukabumi – Bandung yang cukup membosankan tersebut. Sebelumnya, Kak Dini terlebih dahulu menghubungi seorang kenalannya yang katanya bersedia menjadi tour guide kami. Namanya Abrari, mahasiswa asal kalsel yang sedang menjalani semester kelimanya di ITB. Sewaktu Abrari mengetahui rencana perjalanan kami menuju Bandung, bisa dibilang dia kaget luar biasa. Bukan cuma karena jauhnya jarak yang akan kami tempuh, juga karena kenekatan kami bertiga.

Sekitar pukul 13.00, bis yang kami tumpangi tiba di stasiun Cicaheum. Segara kami hubungi kembali Abrari untuk mengetui rute selanjutnya yang harus kami tempuh. Atas petunjuknya, kami diminta untuk menumpang di angkot jurusan caheum-ledeng dan minta diturunkan di sekitar ITB. Dalam hati saya senang luar biasa, karena akhirnya kesampaian juga untuk bisa menginjakkan kaki di mesjid Salman yang terkenal itu.

Sesampai di kawasan ITB, kami disambut dengan pemandangan mahasiswa yang hilir mudik di sepanjang jalan. Satu hal yang membuat saya cukup kaget, ternyata ITB itu letaknya tak jauh dari kebun binatang Bandung, salah satu tempat yang cukup sering saya kunjungi ketika tinggal di Bandung belasan tahun yang lalu. Tapi ya wajar aja kali ya? Waktu tinggal di Bandung dulu saya masih kelas 2 dan kelas 5 SD. Belum kepikiran soal kuliah. Hihihihi.

Beberapa menit jalan kaki, sosok Abrari pun muncul. Tanpa perlu berkenalan kami semua langsung digiring menuju Mesjid Salman untuk sholat dzuhur. Kejutan kedua kembali saya dapatkan. Ternyata penampilan Mesjid Salman sungguh jauh berbeda dari yang saya bayangkan. Sebelumnya saya membayangkan mesjid Salman itu seperti mesjid pada umumnya. Ada kubah dengan tulisan besar di depannya. Ternyata bayangan saya benar-benar keliru. Tak ada kubah, tak ada tulisan Mesjid Salman dengan ukuran besar. Yang ada, saya melihat sekumpulan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang berdiskusi, ada juga yang mengerjakan tugas. Sebuah pemandangan yang jujur baru kali ini saya temui.



Usai menunaikan kewajiban, kami menyempatkan diri makan di kantin Mesjid Salman. Saat sedang mengantri makan, seorang mahasiswa tiba-tiba menegur kami dan meminta kami berpindah antrian. Kami sempat kebingungan, hingga akhirnya Lala menyadari kalau antrian makan di kantin mesjid Salman dipisahkan antara laki-laki dan perempuan./ Yah, sebagai orang yang tak pernah menginjakkan kaki di Mesjid Salman, wajar dong kalau kami tidak tahu tentang peraturan ini. Lucunya, Abrari tidak memberitahukan hal ini terlebih dahulu kepada kami. Untungnya saat makan Abrari tidak protes saat kami memilih satu meja dengannya. Meski duduknya tetap berjauhan 😀

Sholat sudah, makan siang pun sudah, maka rute selanjutnya adalah jalan-jalan. Mengingat waktu kami banyak terbuang di perjalanan Sukabumi-Bandung, maka tak banyak waktu tersisa bagi kami bertiga untuk menjelajahi kota Bandung. Karena diantara kami bertiga cuma saya yang paling lama tidak menginjakkan kaki di kota kembang tersebut, maka saya diijinkan menjadi penentu rute kami selanjutnya. Dan ketika ditanya lokasi mana yang ingin saya kunjungi, maka tanpa ragu saya menyebut Braga, sebuah jalan yang dipenuhi dengan bangunan berasitektur Belanda. Nyaris sepanjang jalan saya habiskan dengan memotret bangunan-bangunan yang ada di Braga. Sayangnya karena perbedaan kepentingan, saya harus rela foto-foto tersebut diambil seadanya. Kalau tidak, saya akan ketinggalan menuju Pasar Baru, tempat jajahan kami selanjutnya.





Menemani tiga orang perempuan berbelanja di Pasar Baru mungkin menjadi mimpi buruk bagi Abrari, guide kami hari itu. Bagaimana tidak? Masing-masing dari kami punya kepentingan masing-masing dan bisa dibilang tak ada yang mempedulikan kehadirannya saat itu. Untungnya sesi belanja hanya berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Ciwalk -tempat terakhir yang kami kunjungi hari itu-, itupun hanya untuk makan malam.

Pukul setengah delapan malam, perjalanan kami di Bandung hari itu berakhir. Dengan berat hati kami menaiki angkot yang akan mengantar kami menuju terminal, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan kembali ke Sukabumi, karena besoknya akad nikah teman kami dan calon suaminya akan dilangsungkan.