Kejar target akhir tahun

Libur lebaran selama satu minggu kemarin, saya berusaha mengisinya dengan dua hal.

Membaca dan menulis.

Membaca karena begitu banyaknya buku yang saya stok di kamar namun hanya sedikit yang terbaca. Alasan lain juga karena saya mengikuti sebuah tantangan di Goodreads untuk menghabiskan sekian banyak buku dalam setahun. Saya sendiri waktu itu menuliskan angka 50 untuk target saya. Angka yang sepertinya terlalu tinggi mengingat sampai lewat pertengahan tahun ini saya baru berhasil menyelesaikan 21 buku.

Lalu bagaimana hasilnya?

Alhamdulillah selama 2 minggu terakhir saya sudah berhasil menyelesaikan 3 buku. Padahal untuk bulan-bulan sebelumnya, satu buku bisa saya habiskan dalam waktu nyaris satu bulan. Kalau pola membaca seperti ini bisa saya pertahankan sampai beberapa bulan ke depan, maka kemungkinan target 50 buku setahun itu bisa tercapai atau paling tidak mendekati. Yah semoga saja begitu.

Itu tentang membaca. Lalu bagaimana dengan menulis?

Jadi ceritanya libur lebaran lalu saya berniat menulis sebuah cerpen berdasarkan sedikit pengalaman pribadi saya. Dua halaman saya selesaikan dalam waktu dua hari. Memasuki halaman ketiga, saya dilanda kegalauan.

Apakah tulisan ini tidak terlalu pribadi? Kalau teman-teman dekat membaca pasti bakal tau.
Kok bahasanya itu-itu melulu sih?
Kok alurnya jadi ngaco begini? Kayaknya nggak logis banget deh

Begitulah. Berbagai pertanyaan muncul di benak saya sampai pada akhirnya tulisan itu tak mengalami perkembangan lagi. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa calon tulisan yang terlantar di salah satu folder di flashdisk saya. Awalnya saya mendapatkan ide yang begitu brilian, entah itu ketika mendengarkan lagu, berkendara di jalan atau bahkan dari proses bertapa di kamar mandi. Saya sudah menyiapkan kalimat pembuka yang bagus serta penutup dari cerita tersebut. Jeleknya, saya bukan tipe yang dengan rajin menuliskan ide-ide yang muncul di kepala saya. Jadilah ketika saya sudah siap menulis di depan keyboard, semua kalimat yang saya siapkan itu hilang. Bisa sih saya menulis kembali dengan kalimat-kalimat baru. Tapi tetap saja saya tidak puas dengan kalimat baru tersebut. Hingga akhirnya saya pun menyerah dan meninggalkan tulisan tersebut.

Anehnya, hal ini tidak berlaku ketika saya menulis lanjutan dari kisah yang saya tulis bersama dengan seorang teman di Facebook. Meski awalnya cuma iseng-iseng menerima tawarannya, saya sungguh tak menyangka sampai hari ini draft novel tersebut sudah mencapai lebih dari seratus halaman, dengan pembagian porsi menulis yang nyaris seimbang.

Memang proses menulisnya masih dilalui dengan pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya tulis di atas. Namun pada akhirnya saya selalu berhasil menyelesaikan 4 halaman bagian saya untuk dikirim ke email partner duet saya itu. Padahal kalau dibaca-baca lagi draft novel tersebut masih penuh dengan kekurangan di sana sini. Entah itu di karakter, deskripsi, hingga ke logika cerita. Namun tetap saja jika melihat jumlah halaman yang sudah dicapai, ada rasa bangga terselip di hati saya. Dan kalau proses menulis novel itu tidak ada hambatan, maka insya Allah akhir tahun novel duet itu sudah selesai atau paling tidak hampir selesai. Masalah mau dikirim ke penerbit atau tidak, urusan belakangan. Hehe.

Lalu bagaimana dengan cerpen yang tak terselesaikan di folder flashdisk saya? Seandainya memungkinkan saya ingin menyelesaikannya. Dan pengennya sih, memamerkannya di media. Semoga dengan ditulisnya keinginan ini membuat saya lebih terpacu untuk melaksanakannya. Amiiin

29 pemikiran pada “Kejar target akhir tahun

  1. Tentang membaca; Aku suka sama quote ini, aku terapin baik-baik di kehidupan quote mengenai membaca ini:Banyak membaca banyak lupaSedikit membaca sedikit lupaTidak pernah membaca tidak pernah lupa(Anonymous)Karena itu aku nggak suka baca biar nggak pernah lupa (buku, tulisan atau apapun itu baiknya memang didalami, bukan dibaca) Tentang menulisAku punya banyak temen penulis juga editor. Sampe aku nemuin tulisan bagus dari Thomas Stearns Eliot, sastrawan Amerika peraih hadiah nobel kesusasteraan 1948 atas karyanya Burnt Norton (1936), East Coker (1940), The Dry Salvages (1941) & Little Gidding (1942). Ia menggambarkan karakter penulis dan editor seperti ini; Kebanyakan editor adalah penulis yang gagalbegitu juga sebaliknya, kebanyakan penulis adalah editor yang gagal Thomas Stearns Eliot (1888-1965)Pilihan yang dilematis, mau jadi penulis, atau editor… * edited sebab skrip italic-nya berantakan…

  2. Tentang membaca; Aku suka sama quote ini, aku terapin baik-baik di kehidupan quote mengenai membaca ini:Banyak membaca banyak lupaSedikit membaca sedikit lupaTidak pernah membaca tidak pernah lupa(Anonymous)Karena itu aku nggak suka baca biar nggak pernah lupa (buku, tulisan atau apapun itu baiknya memang didalami, bukan dibaca) Tentang menulisAku punya banyak temen penulis juga editor. Sampe aku nemuin tulisan bagus dari Thomas Stearns Eliot, sastrawan Amerika peraih hadiah nobel kesusasteraan 1948 atas karyanya Burnt Norton (1936), East Coker (1940), The Dry Salvages (1941) & Little Gidding (1942). Ia menggambarkan karakter penulis dan editor seperti ini; Kebanyakan editor adalah penulis yang gagalbegitu juga sebaliknya, kebanyakan penulis adalah editor yang gagal Thomas Stearns Eliot (1888-1965)Pilihan yang dilematis, mau jadi penulis, atau editor… * edited sebab skrip italic-nya berantakan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s