I miss the old days

Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan sebuah cerpen yang saya tulis saat masih kuliah dulu. Ceritanya sederhana saja, tak banyak perubahan berarti dari tulisan saya di masa sekarang. Dan untuk standar saya pribadi cerpen itu sudah termasuk lumayan. Namun rupanya menemukan kembali cerpen tersebut mau tak mau membuat saya merasa miris dengan kondisi saya sekarang ini.

Jika diingat-ingat kembali, awal-awal saya mulai aktif di Multiply nyaris 2 tahun yang lalu diwarnai dengan banyaknya aneka ragam jurnal. Bahkan kalau boleh dibilang tidak ada hari tanpa jurnal. Berbagai macam hal bisa saya jadikan bahan tulisan, meski mungkin kebanyakan isinya adalah kenangan saya tentang seseorang. Tetap saja itu adalah tulisan yang berharga, bukan?

Bulan berlalu, saya pun mulai merasakan yang namanya pasang surut dalam menulis. Jurnal yang ditulis nyaris tiap hari kemudian berubah menjadi seminggu tiga kali, lalu seminggu sekali, bahkan pernah saya tak menulis selama satu bulan lamanya. Alasannya? Mati ide. Sebuah alasan yang sangat tipis jika mengingat bagaimana para teman-teman yang lain bisa menulis hanya dengan sebuah ide kecil. Namun kenyataannya, begitulah yang terjadi. Dan itu adalah hal yang menyedihkan.

Setelah menemukan kembali cerpen lama saya tersebut, saya pun mencoba menganalisa kembali kenapa saat ini saya terlalu sering mengalami yang namanya writer’s block itu. Seingat saya cerpen yang saya temukan itu ditulis tak lebih dari seminggu. Lalu waktu kemarin lagi ramai-ramainya bikin FF, saya bisa membuatnya dalam waktu yang cukup singkat. Lalu bagaimana dengan sekarang?

Sekarang,
Saya memerlukan waktu hampir sebulan untuk menulis cerita sepanjang 6 halaman..
Saya kadang cuma bisa bengong selama berjam-jam di depan layar hingga akhirnya batal menulis jurnal..
Saya memiliki banyak ide namun selalu gagal menuangkannya dalam tulisan..

Lalu analisanya?
Saya terlalu banyak berpikir..
Saya takut tulisan saya akan terkesan seperti sebuah keluhan panjang tanpa arti,
hal yang selama ini saya katakan bukanlah hal yang saya sukai..

Atau seperti kata desi dalam jawabannya atas pertanyaan saya?

Saya menulis bukan untuk kepuasan hati saya lagi..
Saya menulis dengan memikirkan orang akan membaca tulisan saya..
Saya jadi terbebani untuk membuat tulisan yang enak dibaca..
yang pada akhirnya membuat saya kehilangan kebebasan dalam menulis itu sendiri.

I miss the old days..