self controlling

Tadi malam saya baru saja menyelesaikan sebuah novel karangan Nora Umres berjudul Metamorfo(r)love. Sebuah novel yang bercerita tentang Restu -seorang redaktur tabloid hiburan- yang memiliki kecenderungan menyukai laki-laki yang jauh lebih tua darinya. Dalam novel ini diceritakan Restu terlibat hubungan asmara dengan Damar Alam, seorang artis ibukota berstatus duda yang kebetulan memenuhi persyaratan sebagai laki-laki idamannya.

Ada sebuah bagian dari cerita tentang Damar Alam yang menarik perhatian saya. Bagian ketika ia menceritakan latar belakang perceraiannya dengan Kania, mantan istrinya. Di situ diceritakan Kania adalah seorang wanita yang kasar dan tak bisa mengontrol emosinya. Dia tak tahan ketika mendengar anaknya menangis, yang kemudian berakibat terjadinya kekerasan pada buah cintanya sendiri. Dan semua itu dilatarbelakangi oleh bagaimana ia dibesarkan semasa kecil.

Sepanjang masa hidup saya, cukup sering saya mendengar cerita tentang bagaimana anak-anak jaman saya dibesarkan dengan “kekerasan” yang kadang tidak disadari oleh orang tua mereka sendiri. Saya sendiri adalah bagian dari produk pendidikan dengan kekerasan tersebut. Dan karena pada jaman saya tidak mengenal yang namanya Komisi Perlindungan Anak ataupun Kekerasan terhadap anak, maka pada masa itu saya menganggap wajar saja jika orang tua saya menghukum saya dengan hal yang mungkin saat ini sudah bisa dijadikan sebuah kasus.

Kala itu saya tak pernah terpikir kalau proses pendidikan saya di masa kecil tersebut bisa berpengaruh pada kepribadian saya di masa depan. Entah ini pengaruh faktor genetis atau bukan, saya tumbuh menjadi seseorang yang agak sulit mengontrol emosi dan tidak telaten dalam mengajari seseorang. Itu semua mungkin bukan masalah besar jika yang saya hadapi adalah orang yang seusia dengan saya. Karena biasanya saya malah lebih bisa menahan diri pada mereka yang seusia dengan saya. Yang paling saya takutkan adalah ketika ledakan emosi dan ketidaktelatenan itu terjadi pada anak dan orang tua saya nanti.

Saya takut dengan emosi yang saya miliki sekarang ini akan membuat saya bisa dengan mudah melayangkan tangan pada anak saya nanti atau memarahinya dengan kata-kata kasar hanya karena mereka melakukan sedikit kesalahan. Saya juga takut dengan tipisnya kesabaran yang saya miliki akan membuat orang tua saya tersakiti. Saya takut tak cukup telaten ketika waktunya saya merawat mereka nanti. Membentak mereka hanya karena mereka tak cukup mengerti penjelasan saya.

Ah kadang jika membayangkan semua itu membuat saya takut pada diri saya sendiri. Lalu pertanyaannya adalah adakah cara yang bisa membuat saya sedikit lebih sabar dan lebih pandai mengontrol emosi?