ketika adikku beranjak remaja



“Kak..nonton filmnya Dewi Persik, yuk,” kata adik laki-laki saya beberapa waktu yang lalu. Ajakan yang membuat saya cukup heran, mengingat biasanya dia lebih bersemangat untuk menonton Spider Man atau Harry Potter. Waktu itu saya tak terlalu menganggap perkataannya. Mungkin karena saya merasa dia hanya main-main bercanda tanpa tahu maksud dari apa yang dia katakan. Secara dia baru berusia 13 tahun.


Tak lama, sebuah televisi swasta menayangkan sebuah film Dewi Persik dan yang terjadi adalah adik saya menontonnya dengan serius. Ok, saya mulai berpikir, mengingat kembali beberapa sinyal yang diberikan beberapa waktu sebelumnya. Laptop yang volume-nya diturunkan sampai ke posisi terendah dan juga keinginannnya untuk menonton film Dewi Persik. Iseng saya mengecek history di browser yang saya gunakan dan tadaaa…saya menemukan dia mencari gambar-gambar dewasa. Mengejutkan, dan juga menakutkan.

Sejak mengetahui hal ini, muncul banyak pertanyaan di kepala saya. Sejak kapan dia mulai tertarik dengan hal seperti itu? Siapa yang mengenalkan hal itu padanya? Dan bagaimana saya harus menghadapi hal seperti ini?

Any suggestion?

38 pemikiran pada “ketika adikku beranjak remaja

  1. waduuuh..lagi pubertas kayaknya, Mbak.Mungkin lingkungan pertemanannya bisa mempengaruhi. Bisa juga dari media yang sebenernya nggak berisi begituan lho.Namanya penasaran, mana jaman internet begini…..Kalo dilarang dengan keras, malah takutnya semakin sembunyi-sembunyi…

  2. konsultasi sama ortu juga mba Aya.Gimana kalo secara teknis mba Aya buat penyaring agar gambar dewasa tidak bisa disearching. Klo secara pendekatannya untuk efek jangka panjang, mba Aya ajakin adik mba Aya ke kegiatan2 positif. Misalnya, saya ke adik ABG saya selalu mendukung dan memotivasi dia ke eskul2 di sekolah. Kalau perlu ditambah eskul di luar sekolah. Alhamdulillah, ketika sampai di rumah dia lebih memilih istirahat atau bercengkrama dng ortu. Kalaupun selancar di internet dia hanya cari buat tugas sekolah.Kalau menurutku mau anak2 atau dewasa cara mencegah mencari situs dewasa ya sama aja. Perbanyak aktivitas dan kegiatan, agar pikiran tidak selalu terfokus ke situ. 🙂 🙂

  3. Sebaiknya anak seusia itu banyak kesibukan, bisa disarankan ikut pelatihan bela diri atau olah raga lain. Kl banyak nganggur dan banyak di depan internet takutnya mengakses hal2 yg spt itu mbak 🙂

  4. Nah kaTugas pyn sekarang memberikan pendidikan sex yg benar dan sesuai porsinyaBukan dilarang tp diatasi, soal na klo dilarang dia bakal nyari jalan lain buat nyalurin apa yg dia pengen. Maaf ulun cuma beri masukan dr sudut pandang anak laki

  5. usia 13 tahun itu sudah cukup dewasa kayaknya, Mbak. Anak-anak laki-laki sekarang lazim bila baligh di usia segitu. Idealnya, anak-anak disiapkan mental dan wawasannya sebelum tanda baligh itu datang, kalau di Jepang mulai dari kelas empat, kalau di sekolah anak saya, agaknya mulai kelas enam. Di sinilah pentingnya pendidikan sejak dini tentang batasan pergaulan laki-laki dan perempuan, apa-apa yang boleh dilihat dan apa apa yang tidak baik dilihat, dan lingkungan rumah sangat besar peranannya untuk ini. Seorang teman juga mengalami yang sama, anak laki-lakinya di usia kelas dua, mulai suka berlama-lama di kamar mandi. Bapaknya yang turun tangan, ngajak dia bicara sesama laki-laki, yang sama-sama pernah merasakan gejolak yang sama. Tontonan TV, akses ke internet, memang sangat berbahaya dan riskan bila mereka tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari. Semoga ada jalan keluar dan dijaga Allah.

  6. darnia said: waduuuh..lagi pubertas kayaknya, Mbak.Mungkin lingkungan pertemanannya bisa mempengaruhi. Bisa juga dari media yang sebenernya nggak berisi begituan lho.Namanya penasaran, mana jaman internet begini…..Kalo dilarang dengan keras, malah takutnya semakin sembunyi-sembunyi…

    iya dan. kemarin kan bela2in pasang speedy di rmah biar dia ga sering ke warnet buat main game. taunya ga ngaruh krn jadi sering rebutan lepi. ujung2nya dia tetep aja ke warnet. ga tau ya apa dari warnet itu dia tahu gambar2 begitu 😦

  7. diskusi lawan mama abah pian ka. Atau lawan ading pian, tapi jangan sampai ketahuan inya dulu. Duh, bingung jua ka lah. Mudahan ada solusi ka. Tapi kawan dasar mempengaruhi banar pang tentang ini… bagus jua ka masang inet di rumah, kalau di warnet bahaya lagi.

  8. mungkin si adik perlu diajak terbuka tentang ‘feeling’nya, kenapa mulai melihat hal2 seperti itu, Yan (tanyanya sambil santai aja, kalo menghakimi nanti malah lari, hehe). trus diajak ngobrol aja, bahwa perasaan ‘tertarik’ itu wajar, tapi harus dikendalikan sesuai umurnya. Kalau saya ke anak-anak, kami baca buku ttg anatomi tubuh manusia (yang sudah kita saring dulu isinya, gambarnya aman dsb. ada kok yang utk semi remaja).Intinya buku ini utk mengenalkan kalau organ-organ tubuh manusia itu amazing, anugrah Tuhan, fungsinya luar biasa, harus dijaga, dsb dsb.Nah dari sini kita masukkan ke mereka, bahwa hal2 ‘tidak senonoh’ itu ya kurang pantas, kurang mensyukuri, dll. (jadi nasihatinnya ngga langsung metode benar-salah). Diajak sharing gitu, hehe..Selain itu memang harus diisi kegiatannya sesibuk mungkin, untuk mengalihkan perhatian dia, ketertarikan dia akan hal2 itu.Kalau hubungan dgn keluarga dekat, insya Allah lebih mudah merangkul adik …Dan kalau bisa, yana dan keluarga tahu teman2nya siapa, ajak mereka main ke rumah, justru kalau didekati biasanya mereka ‘segan’, dan akan mengurangi perilaku kurang baiknya, mnrt pengalaman saya.Maaf kalau ada yg kurang berkenan ya 🙂

  9. hdk ae mberi masukkan tapi bingung. Heekalo ulun.. Secara sadar ato kd pasti mama ulun tau sapa aja kwn dekat ulun. Heekyny mengetahui pergaulannya perlu lah ka.Soal merasa ‘dikekang’ ato kd mun trlalu di cari tau..Mun ulun kd sadar sdh d cari tau, xixi tau2 sidin kenal minimal tau kwn ulun dr SD mpe kul. Kwn bgawi ni ja kyny yg sidin kd tau. Dah dianggap ‘tua’ kyny. 😀

  10. waduuuh..lagi pubertas kayaknya, Mbak.Mungkin lingkungan pertemanannya bisa mempengaruhi. Bisa juga dari media yang sebenernya nggak berisi begituan lho.Namanya penasaran, mana jaman internet begini…..Kalo dilarang dengan keras, malah takutnya semakin sembunyi-sembunyi…

  11. konsultasi sama ortu juga mba Aya.Gimana kalo secara teknis mba Aya buat penyaring agar gambar dewasa tidak bisa disearching. Klo secara pendekatannya untuk efek jangka panjang, mba Aya ajakin adik mba Aya ke kegiatan2 positif. Misalnya, saya ke adik ABG saya selalu mendukung dan memotivasi dia ke eskul2 di sekolah. Kalau perlu ditambah eskul di luar sekolah. Alhamdulillah, ketika sampai di rumah dia lebih memilih istirahat atau bercengkrama dng ortu. Kalaupun selancar di internet dia hanya cari buat tugas sekolah.Kalau menurutku mau anak2 atau dewasa cara mencegah mencari situs dewasa ya sama aja. Perbanyak aktivitas dan kegiatan, agar pikiran tidak selalu terfokus ke situ. 🙂 🙂

  12. Sebaiknya anak seusia itu banyak kesibukan, bisa disarankan ikut pelatihan bela diri atau olah raga lain. Kl banyak nganggur dan banyak di depan internet takutnya mengakses hal2 yg spt itu mbak 🙂

  13. Nah kaTugas pyn sekarang memberikan pendidikan sex yg benar dan sesuai porsinyaBukan dilarang tp diatasi, soal na klo dilarang dia bakal nyari jalan lain buat nyalurin apa yg dia pengen. Maaf ulun cuma beri masukan dr sudut pandang anak laki

  14. usia 13 tahun itu sudah cukup dewasa kayaknya, Mbak. Anak-anak laki-laki sekarang lazim bila baligh di usia segitu. Idealnya, anak-anak disiapkan mental dan wawasannya sebelum tanda baligh itu datang, kalau di Jepang mulai dari kelas empat, kalau di sekolah anak saya, agaknya mulai kelas enam. Di sinilah pentingnya pendidikan sejak dini tentang batasan pergaulan laki-laki dan perempuan, apa-apa yang boleh dilihat dan apa apa yang tidak baik dilihat, dan lingkungan rumah sangat besar peranannya untuk ini. Seorang teman juga mengalami yang sama, anak laki-lakinya di usia kelas dua, mulai suka berlama-lama di kamar mandi. Bapaknya yang turun tangan, ngajak dia bicara sesama laki-laki, yang sama-sama pernah merasakan gejolak yang sama. Tontonan TV, akses ke internet, memang sangat berbahaya dan riskan bila mereka tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari. Semoga ada jalan keluar dan dijaga Allah.

  15. oh ya, tambahan, karena tadi nyebut jepang, kalo di sana, tujuannya adalah agar terhindar dari kehamilan dini, terjangkit penyakit tertentu, bukan dari sisi agamanya…

  16. darnia said: waduuuh..lagi pubertas kayaknya, Mbak.Mungkin lingkungan pertemanannya bisa mempengaruhi. Bisa juga dari media yang sebenernya nggak berisi begituan lho.Namanya penasaran, mana jaman internet begini…..Kalo dilarang dengan keras, malah takutnya semakin sembunyi-sembunyi…

    iya dan. kemarin kan bela2in pasang speedy di rmah biar dia ga sering ke warnet buat main game. taunya ga ngaruh krn jadi sering rebutan lepi. ujung2nya dia tetep aja ke warnet. ga tau ya apa dari warnet itu dia tahu gambar2 begitu 😦

  17. pondokkata said: konsultasi sama ortu juga mba Aya.Gimana kalo secara teknis mba Aya buat penyaring agar gambar dewasa tidak bisa disearching. Klo secara pendekatannya untuk efek jangka panjang, mba Aya ajakin adik mba Aya ke kegiatan2 positif. Misalnya, saya ke adik ABG saya selalu mendukung dan memotivasi dia ke eskul2 di sekolah. Kalau perlu ditambah eskul di luar sekolah. Alhamdulillah, ketika sampai di rumah dia lebih memilih istirahat atau bercengkrama dng ortu. Kalaupun selancar di internet dia hanya cari buat tugas sekolah.Kalau menurutku mau anak2 atau dewasa cara mencegah mencari situs dewasa ya sama aja. Perbanyak aktivitas dan kegiatan, agar pikiran tidak selalu terfokus ke situ. 🙂 🙂

    dulu itu sempat ikut pramuka Anda. cuma sekrang udah ga lagi. sekrang dia lebih sering ke warnet. kyknya salah kami juga terlalu longgar sama dia

  18. zaffara said: Sebaiknya anak seusia itu banyak kesibukan, bisa disarankan ikut pelatihan bela diri atau olah raga lain. Kl banyak nganggur dan banyak di depan internet takutnya mengakses hal2 yg spt itu mbak 🙂

    iya sih kyknya mesti dicariin kegiatan baru ya mba. cuma bingungnya gimana cara bikin dia tertarik sama kegiatan itu? dulu sempat ikut pramuka tapi sekarang udah ga lagi.

  19. utuhspeedy said: Nah kaTugas pyn sekarang memberikan pendidikan sex yg benar dan sesuai porsinyaBukan dilarang tp diatasi, soal na klo dilarang dia bakal nyari jalan lain buat nyalurin apa yg dia pengen. Maaf ulun cuma beri masukan dr sudut pandang anak laki

    nah kyp caranya itu bud?

  20. nesiari said: usia 13 tahun itu sudah cukup dewasa kayaknya, Mbak. Anak-anak laki-laki sekarang lazim bila baligh di usia segitu. Idealnya, anak-anak disiapkan mental dan wawasannya sebelum tanda baligh itu datang, kalau di Jepang mulai dari kelas empat, kalau di sekolah anak saya, agaknya mulai kelas enam. Di sinilah pentingnya pendidikan sejak dini tentang batasan pergaulan laki-laki dan perempuan, apa-apa yang boleh dilihat dan apa apa yang tidak baik dilihat, dan lingkungan rumah sangat besar peranannya untuk ini. Seorang teman juga mengalami yang sama, anak laki-lakinya di usia kelas dua, mulai suka berlama-lama di kamar mandi. Bapaknya yang turun tangan, ngajak dia bicara sesama laki-laki, yang sama-sama pernah merasakan gejolak yang sama. Tontonan TV, akses ke internet, memang sangat berbahaya dan riskan bila mereka tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari. Semoga ada jalan keluar dan dijaga Allah.

    kyknya orang tua saya ga terlalu update sama hal-hal begini mba. jadi gimana ya?

  21. diskusi lawan mama abah pian ka. Atau lawan ading pian, tapi jangan sampai ketahuan inya dulu. Duh, bingung jua ka lah. Mudahan ada solusi ka. Tapi kawan dasar mempengaruhi banar pang tentang ini… bagus jua ka masang inet di rumah, kalau di warnet bahaya lagi.

  22. Cara pertama tanya soal teman dekat dia, cari tau jenis pergaulan dia gimana. Paksa dia buat jujur tentang pergaulan dia. Abis tau ruang gerang pergaulan dia, edukasi dia soal imbas dan cara bergaul sehat. Bisa ditakut takutin sedikit dengan cerita cerita yang masuk akan dan membuat dia berpikir ulang.Bahasa yang dipakai bahasa yang bisa dia terima and jangan pakai otoritas pyn sebagai kakak yang lebih tua dan lebih tau. Buat seolah olah pyn yang sedang berada diposisi dia. Ah ngawur, lebih jelas na bisa pyn takun akan langsung ja kenaHahahahahahahahahaha

  23. ada mentoring, gak? macam rohis. kalau ada pembina sebulan dua kali, mungkin bisa membantu. banyak olahraga juga bisa jadi alternatif. main futsal, tenis, atau pecinta alam. ada juga orangtua yang berprinsip, lebih baik buat anak itu sibuk dengan berbagai kursus/kegiatan ekskul, sehingga waktunya sudah habis untuk yang sudah jelas tujuannya, gak sempat lagi terperosok ke hal-hal yang negatif. kalau lagi ada waktu luangnya, diusahakan ada keluarga inti yang lebih dewasa yang bisa mendampingi. atau gimana kalau banyak baca buku? tapi cinta buku juga bukan sesuatu yang ujug-ujug bisa ditanamkan, mesti bertahap sejak kecil.

  24. mungkin si adik perlu diajak terbuka tentang ‘feeling’nya, kenapa mulai melihat hal2 seperti itu, Yan (tanyanya sambil santai aja, kalo menghakimi nanti malah lari, hehe). trus diajak ngobrol aja, bahwa perasaan ‘tertarik’ itu wajar, tapi harus dikendalikan sesuai umurnya. Kalau saya ke anak-anak, kami baca buku ttg anatomi tubuh manusia (yang sudah kita saring dulu isinya, gambarnya aman dsb. ada kok yang utk semi remaja).Intinya buku ini utk mengenalkan kalau organ-organ tubuh manusia itu amazing, anugrah Tuhan, fungsinya luar biasa, harus dijaga, dsb dsb.Nah dari sini kita masukkan ke mereka, bahwa hal2 ‘tidak senonoh’ itu ya kurang pantas, kurang mensyukuri, dll. (jadi nasihatinnya ngga langsung metode benar-salah). Diajak sharing gitu, hehe..Selain itu memang harus diisi kegiatannya sesibuk mungkin, untuk mengalihkan perhatian dia, ketertarikan dia akan hal2 itu.Kalau hubungan dgn keluarga dekat, insya Allah lebih mudah merangkul adik …Dan kalau bisa, yana dan keluarga tahu teman2nya siapa, ajak mereka main ke rumah, justru kalau didekati biasanya mereka ‘segan’, dan akan mengurangi perilaku kurang baiknya, mnrt pengalaman saya.Maaf kalau ada yg kurang berkenan ya 🙂

  25. duuuhh makasih banget buat semua sarannya..sangat bermanfaat buat saya. kalau boleh jujur orang tua saya bukan tipe yang aware soal begini sama anak-anaknya. Dua anak pertama mereka mungkin tidak bermasalah ketika melewati masa remajanya. selain karena waktu itu akses soal begini tidak mudah didapat, juga mungkin karena kami anak perempuan sehingga ketertarikan pada hal-hal seperti itu masih kurang saat itu. Untuk adik bungsu saya ini memang agak berbeda. Dia adalah anak laki-laki satu-satunya yang sudah ditunggu selama 10 tahun. Mungkin itu yang membuat posisinya kadang diistimewakan. Dengan alasan masih kecil dan tak mengerti apa-apa, kadang kami lemah dalam mendisiplinkan dirinya. Hal itulah yang mungkin membuat dia sekarang susah sekali dikasih tau. Dan sebagai kakak sulung, saya merasa turut bertanggung jawab atas perkembangan dirinya ini. Kadang kalau saya membandingkan adik saya dengan sepupu-sepupunya yang tinggal di tempat nenek, saya merasa malu karena tidak bisa memberi pelajaran yang baik untuk adik saya

  26. hdk ae mberi masukkan tapi bingung. Heekalo ulun.. Secara sadar ato kd pasti mama ulun tau sapa aja kwn dekat ulun. Heekyny mengetahui pergaulannya perlu lah ka.Soal merasa ‘dikekang’ ato kd mun trlalu di cari tau..Mun ulun kd sadar sdh d cari tau, xixi tau2 sidin kenal minimal tau kwn ulun dr SD mpe kul. Kwn bgawi ni ja kyny yg sidin kd tau. Dah dianggap ‘tua’ kyny. 😀

  27. fefabiola said: menyimak jawaban para pakar di atas secara ulun juga punya anak lelaki…memang beraaat mendidik anak ya?semoga Allah menjaga anak, adikk dan keturunan kita…

    saya yang belum nikah aja udah khawatir gini mba…gimana kalo saya punya anak nanti?

  28. na1803 said: hdk ae mberi masukkan tapi bingung. Heekalo ulun.. Secara sadar ato kd pasti mama ulun tau sapa aja kwn dekat ulun. Heekyny mengetahui pergaulannya perlu lah ka.Soal merasa ‘dikekang’ ato kd mun trlalu di cari tau..Mun ulun kd sadar sdh d cari tau, xixi tau2 sidin kenal minimal tau kwn ulun dr SD mpe kul. Kwn bgawi ni ja kyny yg sidin kd tau. Dah dianggap ‘tua’ kyny. 😀

    wah bagus tuh na. bisa dipraktekkan kalo dah punya anak nanti 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s