Cincin

Apakah arti sebuah cincin dalam sebuah hubungan?
Apakah sebagai bentuk keterikatan kita terhadap seseorang?

Aku memandang benda kecil yang melingkar di jari manisku. Sebuah cincin terbuat dari perak dengan sebuah batu mungil di bagian tengahnya. Jika aku melepas cincin itu, maka akan terlihat dua buah nama terukir di bagian dalam cincin itu, Rivan & Anggi.

“Nggi, ingat ya kamu harus selalu pakai cincin ini,” kata Rivan setelah memasangkan cincin itu di jari manisku tepat dua tahun yang lalu.

“So pastilah. Cincin ini kan dibeli buat memperingati satu tahun kita jadian. Kamu tuh. Awas ya kalo sampe aku ngeliat kamu nggak pake cincinnya.” Kali ini giliran aku yang mengingatkannya, sambil mataku menatap cincin serupa yang juga telah melingkar di jari manisnya.

“Percaya deh sama aku. Aku akan terus pake cincin ini kemana pun aku pergi. Ke kamar mandi, ke dapur, kalo perlu aku akan memakainya sampai mati. Swear deh…”

***

“Anggi? Are you still there?”

Aku tersentak dari lamunanku. Bayangan kenangan yang sempat menguasai otakku beberapa menit yang lalu seketika memudar. Digantikan oleh sosok seorang laki-laki yang menatapku dengan khawatir dari balik kemudinya.

“Ah iya. Ada apa, Kak? Maaf tadi saya sempat melamun. Jadi nggak merhatiin omongan Kakak deh.”

Kuharap pria di sebelahku ini tidak tersinggung dengan keterusteranganku kali ini.

“Ah nggak apa-apa kok. Mungkin aku-nya kali ya yang emang membosankan.” Laki-laki itu tersenyum lebar ke arahku. Membuatku semakin merasa bersalah.

Hening sesaat sebelum akhirnya laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.

“Anggi…”

“Ya?”

“Apakah cincin itu sangat berharga bagimu?”

Spontan aku menolehkan pandanganku ke arahnya. Apakah dia sudah tahu? Tanyaku dalam hati.

“Sejak pertemuan kita yang pertama kali, aku sering melihatmu memandang cincin itu. Kurasa itu bukan sekadar cincin biasa seperti yang kau katakan padaku sewaktu aku menanyakannya pertama kali,” katanya lagi.

Aku terdiam sejenak. Memikirkan jawaban apa yang sebaiknya kuberikan atas pertanyaannya. Apakah tetap dengan jawaban yang kuberikan padanya dahulu, saat akhirnya memutuskan menerima cintanya? Atau haruskan aku mengatakan jawaban yang sebenarnya?

Tanpa sadar pikiranku kembali lagi ke masa lalu, beberapa bulan setelah cincin itu terpasang di jari manisku.

“Kalau aku pergi nanti, berjanjilah kamu akan melepaskan cincin itu. Aku tak mau kamu terikat dengan masa lalumu.” Kalimat terakhir yang diucapkan Rivan sebelum malaikat maut menjemputnya. Hampir dua tahun berlalu, dan aku masih belum sanggup melepaskan cincin itu dari jari manisku.

“Cincin ini,,,adalah sebuah kenangan, Kak.”

Akhirnya jawaban itulah yang keluar dari bibirku.

64 pemikiran pada “Cincin

  1. ayanapunya said: actually? NO ide cerita ini separo diambil dari My Sassy Girl dan separo lagi dari reality show We Got Married 🙂

    Then u are a good writer!Coz i can feel the story b^^d

  2. darnia said: jadi inget dulu ada temen yang calonnya meninggal sehari sebelum nikah soalnya sakit jantungkalo kayak gitu pagimana yah?

    huaaa….jangan sampe deh Daaann…pasti sakit luar biasaeh kamu belum pulang ya?

  3. bundananda said: Yana, kam ganti nama kyk si menantu bakri tu kah? Lucu namanya, mengingatkanku pada buah Ramania…

    ramadania bakrie-kah namanya wahini? mun ramania nyamannya gasan nyambal bun 😀

  4. puritama said: kok engga dilepas…*aku siap menampung :))

    hehehe…penuh kenangan soalnya. tapi kalo ada yang mau gantiin pake cincin berlian mungkin si Anggi mau ngelepas tuh 😛

  5. katerinas said: Cincin ya? hanya sebuah benda. Ketika benda itu hilang dan saya buang, kenangan itu tetap ada.

    tapi mungkin dengan membuangnya bisa mengurangi beban yang kita rasakan dibanding ketika masih memakainya 🙂

  6. ayanapunya said: tapi mungkin dengan membuangnya bisa mengurangi beban yang kita rasakan dibanding ketika masih memakainya 🙂

    Tidak juga. Dibuangpun masih sama. Masalahnya bukan pada benda, tapi pada pikiran/hati. Ketika berhasil membuang semua hal ttg seseorang dari hati/pikiran, otomatis sebuah benda tentangnya tak akan mempengaruhi apapun. *Maaf ini menurut pikiran sederhanaku berdasarkan pengalaman pribadi. Tidak menggenarilisir 🙂

  7. katerinas said: Tidak juga. Dibuangpun masih sama. Masalahnya bukan pada benda, tapi pada pikiran/hati. Ketika berhasil membuang semua hal ttg seseorang dari hati/pikiran, otomatis sebuah benda tentangnya tak akan mempengaruhi apapun. *Maaf ini menurut pikiran sederhanaku berdasarkan pengalaman pribadi. Tidak menggenarilisir 🙂

    hmmm…mungkin pengalaman mba Rien agak beda dengan saya 🙂

  8. ayanapunya said: huaaa….jangan sampe deh Daaann…pasti sakit luar biasaeh kamu belum pulang ya?

    sudah, Mbak Yan :)ini udah BALIK ke Jakarta setelah PULANG ke Malang :D@Bunda: hahahhaha mungkin udah medical checkup, tapi nggak nyangka dipanggilnya H-1 gitu, Bun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s