beroleh pelajaran dari perjalanan

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat tugas luar kota. Menghadiri Aanwijzing sebuah lelang di Kabupaten Balangan, sekaligus mendampingi 2 orang teman lainnya mengurus pencairan proyek di Kabupaten Tabalong. Rencana awal, saya hanya pergi selama 2 hari. Namun nyatanya, karena urusan pencairan kadang tak diduga, jatah 2 hari itu molor menjadi 3 hari 2 malam. Tiga hari yang menyenangkan, karena selain menjadi ajang refreshing bagi saya, perjalanan ini juga membuat saya bisa bertemu dengan beberapa teman, baik teman kuliah, teman dunia maya, hingga dijamu dengan sangat baik di rumah seorang adik tingkat semasa kuliah.

Bertahun sebelumnya, saya menganggap perjalanan sebagai sebuah hal yang tidak menyenangkan. Membayangkan kerepotan yang harus saya alami selama menempuh sebuah perjalanan cukup menjadi alasan saya untuk tak mencantumkan jalan-jalan sebagai salah satu minat dalam biodata diri. Mengepak pakaian, luntang-lantung tak karuan, plus mabuk perjalanan, semuanya bagi saya cukup merepotkan. Tambahan lagi saya bukan orang yang biasa jauh dari rumah. Semakin lengkaplah daftar alasan saya untuk tidak menyukai acara perjalanan jauh.

Tapi itu cerita lalu. Beberapa pengalaman telah membuka pikiran saya. Kini perjalanan jauh bukan lagi hal yang menyebalkan bagi saya. Malah mulai berubah menjadi ketertarikan dan impian tersendiri bagi saya. Jadi, pengalaman apa sajakah yang pada akhirnya membuka pikiran saya?

Pengalaman pertama, saat umroh di pertengahan Agustus tahun lalu. Jujur, kepergian saya umroh saat itu bukan murni karena kerinduan pada Baitullah. Melainkan lebih kepada mengikuti keinginan ibu yang ingin memberangkatkan anaknya umroh. Saya sendiri secara pribadi pengennya umroh itu dilaksanakan bareng suami ntar. Tapi sepertinya kondisi saat itu memang mengharuskan saya untuk berhenti sejenak dari rutinitas sehari-hari dan menyerahkan seluruh masalah saya hanya pada Allah. Jadi mungkin saat itu umroh adalah jawaban yang paling tepat untuk segala pertanyaan saya waktu itu. Toh namanya juga rezeki, ga baik juga ditolak. So, berangkatlah saya ke rumah Allah bersama adik perempuan dan kedua orang tua saya.

Perjalanan selama 14 hari di rumah Allah tersebut sepertinya menjadi titik balik tersendiri bagi saya. Saya yang biasanya tak pernah menikmati berada jauh dari rumah mulai belajar untuk menikmati perjalanan tersebut. Ziarah ke berbagai tempat penting, mencoba makanan khas Timur Tengah, juga berbelanja menjadi kegiatan yang tak boleh terlewatkan. Dengan lokasi di luar negeri, makanan yang sudah terrjamin, dan guide yang siap menemani, siapa yang tak merasa nyaman? Tapi mungkin jika kondisinya tidak senyaman itu pun mungkin hasilnya tak akan berbeda. Karena seperti yang lain yang juga pernah merasakannya, kerinduan untuk kembali menginjakkan kaki ke Baitullah akan selalu muncul sekembali kita dari sana.

Sepulang dari umroh, saya pun mulai berkenalan dengan Multiply. Kebiasaan menulis di notes Facebook mulai dialihkan ke tempat yang lebih sesuai, yakni blog. Di MP, saya mulai berkenalan dengan berbagai macam teman yang tinggal di berbagai tempat dan profesi. Jakarta, Surabaya, Samarinda, hingga Hongkong. Pekerja kantoran seperti saya, backpacker yang sudah berkeliling ke berbagai negara, hingga buruh migran dengan segudang prestasi. Semuanya mulai membuka mata saya tentang betapa sedikitnya yang saya ketahui. Betapa selama ini saya begitu nyaman berada di balik “tempurung” saya sehingga melupakan ada begitu banyak tempat yang belum saya datangi.

Kesempatan berikutnya datang di awal November tahun lalu. Sebuah proyek pengawasan membuat saya harus berangkat ke Jakarta untuk membantu urusan pencairan kontraktor, termasuk pencairan pihak konsultan pengawas, yakni perusahaan tempat saya bekerja. Saya berangkat sendiri dan seumur-umur, itu adalah pertama kalinya saya melakukan perjalanan jauh seorang diri. Selama 25 tahun usia saya waktu itu, tak pernah sekalipun saya melakukan perjalanan jauh seorang diri. Kalau tidak dengan orang tua, bersama teman yang menemani. Dan saat itu, dengan “teganya” pihak kantor melempar saya yang tak tahu kota Jakarta, untuk mengurus pencairan proyek, seorang diri.

Untungnya, meskipun harus berangkat seorang diri, saya sudah mendapat jaminan dari pihak Kontraktor akan akomodasi selama di Jakarta. Setidaknya selama di Jakarta saya tidak perlu khawatir bakalan terlantar. Jadi singkatnya, saya berangkat dari Banjarmasin menuju Jakarta, dijemput di bandara, dibawa ke kantor kontraktor, dan numpang kerja di sana selama 4 hari.

Dan lagi-lagi perjalanan 4 hari 5 malam di Jakarta itu memberi pelajaran tersendiri buat saya. Saya yang biasanya tak pandai beradaptasi dipaksa untuk langsung bekerjasama dengan orang-orang baru, yang bagi saya memiliki ritme kerja yang jauh berbeda dengan orang-orang Banjar pada umumnya. Saya juga harus pintar-pintar membawa diri selama di sana, sebisa mungkin tidak merepotkan mereka, dan memberi kesan yang baik di mata mereka. Untuk yang terakhir, saya ragu saya berhasil. Jika mengingat betapa kacaunya pekerjaan saya selama di kantor mereka.

Selain itu, selama di Jakarta saya juga disadarkan betapa pentingnya menjalin hubungan baik dengan semua teman, termasuk di jejaring sosial. Teringat bagaimana susahnya saya mencari orang yang bisa menemani saya berbelanja sedikit oleh-oleh untuk keluarga. Mengingat saya hampir tak punya kenalan di sana. Untungnya saya masih ingat kalau anak RT di gang saya sekarang tinggal bersama suaminya di Jakarta. Pada dialah akhirnya saya meminta bantuan untuk sekedar menemani saya berjalan-jalan di Pasar Tanah Abang di hari terakhir saya di Jakarta. Padahal sebelumnya, saya sungguh tak begitu akrab dengannya. Tapi selama 3 jam, dia dengan baik hatinya menemani saya berbelanja, bersama anaknya yang masih berusia 1,5 tahun pula. Kala itu saya lagi-lagi saya mendapat pelajaran, saat jauh dari rumah, saudara sekampung bisa benar-benar menjadi malaikat penolong bagi kita.

Hari-hari selama di Jakarta benar-benar berbekas di hari saya. Hingga akhirnya, sepulang dari Jakarta, bukan hanya oleh-oleh yang saya bawa untuk kantor. Tapi juga pengalaman dan pelajaran yang begitu berharga, yang tidak mungkin saya dapatkan jika saya tidak “dipaksa” ke sana. Dan jika dulu saya merasa terbebani ketika diberangkatkan ke sana, maka sekarang saya bersyukur luar biasa karena diberi kesempatan sebesar itu saat itu.
Perjalanan jauh, berkenalan dengan berbagai hal baru, survive di kala jauh dari rumah, semuanya kini bukan lagi hal yang menakutkan bagi saya. Kali ini, dalam setiap perjalanan yang saya lalui, saya berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari perjalanan itu, dan tentunya menikmati kesempatan berkenalan dengan berbagai hal baru.

NB : Tulisan ini ditulis untuk ikut berpartisipasi dalam lombanya ivonie, berbagi cerita dengan kata

42 pemikiran pada “beroleh pelajaran dari perjalanan

  1. bundananda said: Semoga menang Yan.. Ga menang pun, ga apa. Krn sebenarnya bs menulis itu udah jd kemenanganmu.

    yup Bun. ulun kada mikir menangnya sih. yang penting ulun dah nyoba dan jadi latihan buat nulis 🙂

  2. nitafebri said: wuiih keyeen… nyetor di saat2 terakhir..Akhirnya ketemu jg inspirasinya.. 🙂

    alhamdulillah Nit..padahal udah hampir nyerah tadi. ternyata bisa selesai juga 🙂

  3. dhaimasrani said: hehehehe, berkunjung lagi. Tiba – tiba postingan ini kembali di page one inbox…ternyata ada yang baru reply malam tadi 😀

    monggo bang…lagian kemarin pian kdd komen kalo 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s