menjadi abu-abu

Salah satu yang saya sukai dari drama Korea adalah, tokohnya yang tidak melulu hitam putih. Yang baik tak selamanya berhati malaikat, sebaliknya yang jahat sepertinya memiliki alasan yang logis untuk menjadi jahat. Walaupun tetap saja, kita akan dibuat sebal setengah mati dengan tokoh “penjahat” itu, akan tetapi, lagi-lagi kita akan maklum kenapa orang itu bisa menjadi jahat.

Zona abu-abu, begitu biasanya kita menyebutnya. Dan kali ini saya sedang tidak ingin membahas tentang drama Korea itu, melainkan tentang si Abu-abu ini.

Menjadi jahat, tentunya bukan sebuah pilihan yang baik. Walaupun mungkin katanya ada yang memang sifat bawaannya untuk berpotensi menjadi jahat, tetap saja itu bukan pilihan yang baik. Bagi saya sendiri, menjadi jahat adalah sebuah pilihan di saat saya sudah merasa tidak bisa lagi menjadi baik. Dan di sinilah saya merasa menjadi seorang yang Abu-abu.

Selama 26 tahun masa hidup saya ini, seingat saya baru 2 kali saya berkata sangat tidak menyukai seseorang, dan memutuskan untuk menghindari interaksi dengan orang itu. Pertama pas masih kuliah, dan kedua, sekarang. Sebenarnya ini bukan pilihan yang menguntungkan. Mengingat saya bukan orang yang pandai bergaul, dan lingkup pertemanan saya yang terbatas. Memusuhi orang sama artinya dengan mengurangi jumlah teman saya yang memang sudah sedikit. Dan seperti yang saya sebutkan di atas, saya mempunyai alasan untuk menjadi si Abu-abu yang memusuhi orang.

Jika pada saat masih kuliah dulu saya memusuhi orang karena sakit hati belaka, maka sekarang ini keputusan saya memusuhi orang adalah karena sifat orang itu yang benar-benar tidak bisa saya kompromikan. Pada awalnya, saya merasa terganggu dengan sifatnya yang suka meremehkan saya, membuat saya terintimidasi. Keputusan pertama saya adalah, sebisa mungkin berinteraksi dengannya. Kenapa? Karena saya tidak mau terpengaruh oleh intimidasi yang dia lakukan. Lalu dalam perkembangannya muncul lagi penyebab baru yang pada akhirnya membuat saya memutuskan benar-benar memutus interaksi dengan orang ini. Dan untuk penyebab kedua ini lagi-lagi saya harus menyalahkan “rumah sebelah”. Haha.

Entah kenapa saya tidak suka pada mereka yang terlalu mengumbar emosinya di facebook. Dan lebih tidak suka lagi jika ada yang menyindir orang lain di facebook. Dengan maksud agar orang yang disindir merasa, dan mungkin tersulut emosinya. Bagi saya tindakan seperti itu menggambarkan betapa tak bisa dipercayanya orang itu. Hanya untuk mengingatkan kawannya, dia menyebarkannya ke seluruh dunia. Sigh. Jika maksudnya ingin mengingatkan, kenapa tidak berbicara langsung saja? Bicara empat mata. Tak perlulah orang lain tahu.

Memang bukan saya yang disindir. Tapi entah kenapa prinsip hidup saya terganggu menghadapi kondisi seperti ini. Orang yang hanya berani mengumbar kata-kata di facebook, dan bersikap seolah-olah kata-katanya tak membawa pengaruh apapun pada yang membaca. Lalu setelah dia menyindir temannya sendiri di facebook, dengan tak tahu malunya dia minta tolong pada si kawan itu. Benar-benar bermuka dua. Huh.

Ketidaksukaan secara pribadi, dan rasa setia kawan. Dua hal yang membuat saya menjadi si abu-abu selama berminggu-minggu ini. Semoga si Abu-abu ini dapat segera menemukan kembali pemutih hatinya. Karena kalau tidak, hati saya akan semakin rusak karenanya ๐Ÿ™‚


NB : Lagi-lagi harus menumpahkan kekesalan dengan cara seperti ini. Tapi mungkin ini lebih baik ketimbang saya balas menyindir orang di fesbuk.

66 pemikiran pada “menjadi abu-abu

  1. karena itu, kalo nonton film, gw lebih suka sama penjahatnya (apalagi kalok gantengman :>)they have so many reasons for being “a bad guy”dulu sempat bikin perkumpulan “Bad Guys United” dan gw jadi presidennya hahahhah — parah —

  2. ayanapunya said: Entah kenapa saya tidak suka pada mereka yang terlalu mengumbar emosinya di facebook. Dan lebih tidak suka lagi jika ada yang menyindir orang lain di facebook. Dengan maksud agar orang yang disindir merasa, dan mungkin tersulut emosinya. Bagi saya tindakan seperti itu menggambarkan betapa tak bisa dipercayanya orang itu. Hanya untuk mengingatkan kawannya, dia menyebarkannya ke seluruh dunia. Sigh. Jika maksudnya ingin mengingatkan, kenapa tidak berbicara langsung saja? Bicara empat mata. Tak perlulah orang lain tahu.

    setuju bangeeet.. byk niy yg model begini (ikut tunjuk tangan jg hihiii aku pernah sekali posting tentang teman yg menyebalkan, tp ga bermaksud menyindir lho.. kan dia ga ada di MP. Dan ga bermaksud cari dukungan org lain jg, habis waktu itu sebeeeel bgt, pengen negor tp takut hubungan kerja terganggu, malah akan merepotkan teman2 yg lain. Klo gitu gimana doooong..

  3. ciee penggemar drama korea :Dklo saya sukanya yang gak di dubbingkebiasaan baca gerak mulut, aneh ajah rasanya liat mulut ama suara gak pas.. :Psatu lagi lg dmene ama drama tentang cinta Kasih Sesama yang dari Taiwan..

  4. Makannya makin lama makin males main fb, ttp active hanya sbatas agar gmpang dihubungi sm temen2 yg pada jauh aja, rsanya udh bkn waktunya mngaktualisasi diri atau mengumbar-umbar emosi lwt fb, malu sma umur ah hahay;p

  5. Gue setuju Tiap orang ga ada yang sempurna…ada kelebihan…ada kekurangandan mengumbar mengumbar amarah atau perasaan negatif terhadap seseorang ga pantas dilakukan di media apapun krn apapun yang kita tulis itu cermin diri kita … lebih baik face to face bukan lewat “muka buku”

  6. ayanapunya said: aih terima kasih sudah membela saya ^_^tapi, jangan-jangan ini termasuk sindiran ? haduh

    just saying kok..ga nyindir ato ngebela siapa2..hihi

  7. karena itu, kalo nonton film, gw lebih suka sama penjahatnya (apalagi kalok gantengman :>)they have so many reasons for being “a bad guy”dulu sempat bikin perkumpulan “Bad Guys United” dan gw jadi presidennya hahahhah — parah —

  8. dewayanie said: haiya Antung, ibu kira tadi mau posting ttg masa2 msh menjd putih abu2 ๐Ÿ™‚ kt orang bijak, c’est la vie!

    hihihi…ketipu ya Bu? maaf maaf :)c’est la vie kalo ga salah artinya hidup ini indah ya? ๐Ÿ˜€

  9. ayanapunya said: Entah kenapa saya tidak suka pada mereka yang terlalu mengumbar emosinya di facebook. Dan lebih tidak suka lagi jika ada yang menyindir orang lain di facebook. Dengan maksud agar orang yang disindir merasa, dan mungkin tersulut emosinya. Bagi saya tindakan seperti itu menggambarkan betapa tak bisa dipercayanya orang itu. Hanya untuk mengingatkan kawannya, dia menyebarkannya ke seluruh dunia. Sigh. Jika maksudnya ingin mengingatkan, kenapa tidak berbicara langsung saja? Bicara empat mata. Tak perlulah orang lain tahu.

    setuju bangeeet.. byk niy yg model begini (ikut tunjuk tangan jg hihiii aku pernah sekali posting tentang teman yg menyebalkan, tp ga bermaksud menyindir lho.. kan dia ga ada di MP. Dan ga bermaksud cari dukungan org lain jg, habis waktu itu sebeeeel bgt, pengen negor tp takut hubungan kerja terganggu, malah akan merepotkan teman2 yg lain. Klo gitu gimana doooong..

  10. keluargakecilkhansa said: setuju bangeeet.. byk niy yg model begini (ikut tunjuk tangan jg hihiii aku pernah sekali posting tentang teman yg menyebalkan, tp ga bermaksud menyindir lho.. kan dia ga ada di MP. Dan ga bermaksud cari dukungan org lain jg, habis waktu itu sebeeeel bgt, pengen negor tp takut hubungan kerja terganggu, malah akan merepotkan teman2 yg lain. Klo gitu gimana doooong..

    saya udah males negur orang ini mba. Ga cuma sekali yang begini kejadian. Bahkan pernah sampe ada yang ngamuk gara-gara sindiran ini. Tapi ga nyadar-nyadar juga. dan saya agak ekstrem orangnya mba…sekali ga negur, bisa tahan berminggu-minggu. hehehe

  11. Yan, kuncinya biar hati tetap putih adalah direndam bayclin eh bukan… Belajar membenci dgn engga benci2 banget dan belajar suka dgn tdk suka2 amat.Tawwazun gt loch.. Tetap seimbang Yana..

  12. ciee penggemar drama korea :Dklo saya sukanya yang gak di dubbingkebiasaan baca gerak mulut, aneh ajah rasanya liat mulut ama suara gak pas.. :Psatu lagi lg dmene ama drama tentang cinta Kasih Sesama yang dari Taiwan..

  13. Makannya makin lama makin males main fb, ttp active hanya sbatas agar gmpang dihubungi sm temen2 yg pada jauh aja, rsanya udh bkn waktunya mngaktualisasi diri atau mengumbar-umbar emosi lwt fb, malu sma umur ah hahay;p

  14. bundananda said: Yan, kuncinya biar hati tetap putih adalah direndam bayclin eh bukan… Belajar membenci dgn engga benci2 banget dan belajar suka dgn tdk suka2 amat.Tawwazun gt loch.. Tetap seimbang Yana..

    kada tau jua bun lah…ulun kok lawan orang ini kayaknya kada bakalan kawa cocok ๐Ÿ˜€

  15. nitafebri said: ciee penggemar drama korea :Dklo saya sukanya yang gak di dubbingkebiasaan baca gerak mulut, aneh ajah rasanya liat mulut ama suara gak pas.. :Psatu lagi lg dmene ama drama tentang cinta Kasih Sesama yang dari Taiwan..

    saya juga lebih suka yang ga pake dubbing Nitkalo drama Taiwan agak kurang suka..soalnya mereka ngomong cepet banget…hehehe

  16. sofiyasaja said: Makannya makin lama makin males main fb, ttp active hanya sbatas agar gmpang dihubungi sm temen2 yg pada jauh aja, rsanya udh bkn waktunya mngaktualisasi diri atau mengumbar-umbar emosi lwt fb, malu sma umur ah hahay;p

    setuju mba…saya juga fesbukan cuma buat liat kabar temen-temen aja. update status aja udah jarang ๐Ÿ˜€

  17. Gue setuju Tiap orang ga ada yang sempurna…ada kelebihan…ada kekurangandan mengumbar mengumbar amarah atau perasaan negatif terhadap seseorang ga pantas dilakukan di media apapun krn apapun yang kita tulis itu cermin diri kita … lebih baik face to face bukan lewat “muka buku”

  18. astridchocolate said: Gue setuju Tiap orang ga ada yang sempurna…ada kelebihan…ada kekurangandan mengumbar mengumbar amarah atau perasaan negatif terhadap seseorang ga pantas dilakukan di media apapun krn apapun yang kita tulis itu cermin diri kita … lebih baik face to face bukan lewat “muka buku”

    kemarin dah ngobrol sama orangnya langsung mba, udah clear sekarang ๐Ÿ™‚

  19. ayanapunya said: kemarin dah ngobrol sama orangnya langsung mba, udah clear sekarang ๐Ÿ™‚

    good ! ga ada yang ga bisa diselesaikan dengan baik selama masih mau bicara baik-baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s