sesuatu tentang hati (repost dari fb)

ada satu bagian dalam diri kita
bagian yang tanpanya kita takkan hidup
bagian yang dengannya kita menyimpan rasa

ada satu bagian dari diri kita
dia akan bergetar bila kita jatuh cinta
dia akan terbakar bila kita dilanda cemburu
dan dia akan terluka jika kita disakiti

ada satu bagian dari diri kita
padanya kadang ke bertanya
jika ingin mencari jawaban
padanya kita percaya
jika kita sedang bimbang
karena kadang
Tuhan mengirimkan petunjuk melalui dia

ada satu bagian dari diri kita
jika ia baik maka akan baiklah kita
dan jika ia buruk maka akan buruk jua kita

ada satu bagian dari diri kita
yang sepatutnya selalu kita jaga
dari segala hal yang bisa mengotorinya

ada satu bagian dari diri kita
bagian itu bernama…hati

201009

terjebak dalam konflik orang lain

Terlibat secara tidak langsung dalam konflik orang lain bukanlah hal yang menyenangkan bagi saya. Apalagi jika keterlibatan itu mempengaruhi saya secara emosional.

Sebelum aktif menuliskan isi kepala saya di MP, saya terlebih dahulu mengakrabi sebuah jejaring sosial bernama facebook. Dan mungkin sama seperti yang lainnya, saya benar-benar terbius di dalamnya. Update status tiap 1 jam sekali, cek notifikasi setiap 5 menit sekali, ngasih komen dimana-mana, kesemuanya cukup membuat saya disebut sebagai pecandu facebook.

Harus diakui, kehadiran facebook bisa dikatakan sebagai sebuah fenomena. Dimana lagi tempat kita bisa menemukan sahabat yang sudah puluhan tahun tidak bertemu selain di facebook? Bahkan kadang lewat facebook hubungan pertemanan yang di dunia nyata adem ayem saja bisa berubah menjadi berwarna. Dengan fasiitas update statusnya facebook bahkan kadang lebih cepat menyampaikan informasi ketimbang televisi. Lalu dengan fasilitas wall to wall dan sharing comment facebook berhasil mengalahkan komunikasi lewat handphone.

Namun sayangnya dengan berbagai keterbukaannya itu membuat facebook menjadi “rumah” yang tanpa privasi di dalamnya. Apapun yang kita tulis di beranda facebook bisa dengan mudah dibaca oleh semua orang. Jika ada pasangan yang sedang kasmaran, maka saya harus menahan diri untuk tidak muntah ketika membaca status-status mereka. Dan sebaliknya ketika ada 2 orang yang sedang bermasalah, maka saya harus banyak-banyak mengurut dada ketika membaca status atau note luapan kekesalan mereka.

Jika mereka yang berkonflik itu tidak saya terlalu saya kenal, maka dengan mudah saya dapat mengabaikan status dan note itu. Yang jadi masalah adalah jika mereka yang berkonflik adalah orang yang saya kenal. Maka mau tak mau saya harus ikut terlibat dalam permasalahan yang seharusnya antara mereka saja. Kenapa bisa begitu? Karena ketika mereka yang bermasalah ini menuangkan kemarahan mereka, baik dalam bentuk status ataupun note, maka saya yang membaca akan mulai bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Pada siapa ini ditujukan? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang membuat otak saya tak bisa berhenti berpikir dan menganalisa, baik lewat komen-komen yang masuk maupun dengan membongkar-bongkar “rumah” si empunya Facebook. Sungguh suatu hal yang tidak sopan. Tapi untuk itu saya hanya bisa membela diri dengan berkata, “Hei ini facebook. Semua orang bisa membaca apa yang kalian tuliskan. Seharusnya kalian lebih bijaksana dalam menggunakannya.”

Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah, ketika saya pada akhirnya benar-benar terjebak dalam sebuah penilaian subjektif sebagai akibat dari ketidaksopanan saya mencari tahu masalah yang di luar wilayah saya. Ketika saya pada akhirnya memilih MENJUGDE seseorang hanya berdasar hasil pencarian saya, tanpa melakukan cross check pada yang bersangkutan. Sungguh satu hal yang tidak adil bagi orang tersebut. Dan lagi-lagi saya hanya bisa membela diri, dengan berkata “tak seharusnya kalian mengumbar masalah pribadi di facebook”

Terjebak secara tidak langsung dalam konflik seseorang memang sungguh tak menyenangkan. Ibarat tamu yang tak diundang, yang tak tahu harus berbuat apa di rumah orang. Ingin ikut membantu di sana, tapi tak diundang. Ingin pergi dan menjauh, apa daya diri sudah terlanjur masuk ke dalamnya.


NB: Saya juga sering menuliskan catatan bernada emosional di sini, dengan alasan tak ada yang tahu pada siapa catatan itu ditujukan. Saya hanya bisa berharap mereka yang membaca tulisan saya di sini tidak merasa dijebak untuk mengetahui masalah saya.

(FF) insomnia

Pukul 23.30

“Selesai,” aku bergumam dalam hati ketika akhirnya memasukkan lipatan terakhir baju ke dalam lemari pakaian. Sekilas aku menoleh ke jam yang menempel di dinding kamarku. Pukul 11.30 malam. Ngapain lagi ya? Pikirku dalam hati.

Pukul 02.00

“Win, udahan dulu ya. Aku ngantuk nih”
“Iya Fer. Duluan aja. Aku masih ada yang dikerjakan nih.”
“Hmm…kayaknya ga ada yang bisa diajak chatting lagi,” kataku setelah memeriksa daftar teman yang online di jendela facebook dan yahoo messengerku.
“nonton film aja deh,” kataku lagi sambil membuka-buka folder film yang ada di laptopku.

Pukul 05.00

Monitor di hadapanku menampilkan adegan penutup dari film yang kutonton 3 jam yang lalu. Samar-samar aku mendengar suara azan dari mesjid dekat rumahku. Aku pun beranjak dari tempatku. Melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kuharap setelah sholat subuh aku bisa memejamkan mata barang sejenak. Setelah 3 malam kulalui dengan mata terjaga.

pelajaran tentang cinta

Jaman saya masih polos dulu,
saya memandang cinta dengan sangat sederhana..
Dua orang bertemu, saling jatuh cinta, menikah, dan bahagia.
Namun dalam perjalanannya, ternyata tak semulus itu.

Kadang kita akan mendapati cinta yang tak kesampaian,
Kadang ia berubah menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan
Bahkan kadang ia menjelma menjadi cinta yang disakiti

Dalam pencarian saya juga menemukan
Bahwa cinta itu laksana tanaman
Tumbuh subur jika disirami dengan baik
Dan akan meranggas jika kekurangan air

Lalu pada akhirnya saya menemukan
Untuk bahagia tak harus dengan menikah dengan yang kita cintai
Karena cinta bisa ditumbuhkan seiring perjalanan

Dan saya pun mulai belajar untuk tidak memandang
cinta sebagai satu-satunya landasan pernikahan
Melainkan menjadikan pernikahan sebagai awal mula
hadirnya cinta….

(FF) Kangen

Sudah hampir satu jam Maya membolak-balikkan tubuhnya. Miring ke kiri, miring ke kanan, hingga telentang. Semuanya tak mampu membuat matanya terpejam. Buku yang direncanakan menjadi pengantar tidurnya pun kini tergeletak di sampingnya. Maya melirik jam weker di samping tempat tidurnya. Pukul 02.30 pagi.

“Uuuhh sial sial sial!! Kenapa dari tadi aku kepikiran dia terus sih!” Maya merutuki dirinya dalam hati. Tanpa sadar dia mengetok-ngetok kepalanya sendiri.

Akhirnya Maya menyerah. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju meja di sudut kamarnya, menyalakan komputer, membuka sebuah file berekstensi doc dalam sebuah folder, dan menuliskan sebuah kata di halaman terakhir….


KANGEN….