terjebak dalam konflik orang lain

Terlibat secara tidak langsung dalam konflik orang lain bukanlah hal yang menyenangkan bagi saya. Apalagi jika keterlibatan itu mempengaruhi saya secara emosional.

Sebelum aktif menuliskan isi kepala saya di MP, saya terlebih dahulu mengakrabi sebuah jejaring sosial bernama facebook. Dan mungkin sama seperti yang lainnya, saya benar-benar terbius di dalamnya. Update status tiap 1 jam sekali, cek notifikasi setiap 5 menit sekali, ngasih komen dimana-mana, kesemuanya cukup membuat saya disebut sebagai pecandu facebook.

Harus diakui, kehadiran facebook bisa dikatakan sebagai sebuah fenomena. Dimana lagi tempat kita bisa menemukan sahabat yang sudah puluhan tahun tidak bertemu selain di facebook? Bahkan kadang lewat facebook hubungan pertemanan yang di dunia nyata adem ayem saja bisa berubah menjadi berwarna. Dengan fasiitas update statusnya facebook bahkan kadang lebih cepat menyampaikan informasi ketimbang televisi. Lalu dengan fasilitas wall to wall dan sharing comment facebook berhasil mengalahkan komunikasi lewat handphone.

Namun sayangnya dengan berbagai keterbukaannya itu membuat facebook menjadi “rumah” yang tanpa privasi di dalamnya. Apapun yang kita tulis di beranda facebook bisa dengan mudah dibaca oleh semua orang. Jika ada pasangan yang sedang kasmaran, maka saya harus menahan diri untuk tidak muntah ketika membaca status-status mereka. Dan sebaliknya ketika ada 2 orang yang sedang bermasalah, maka saya harus banyak-banyak mengurut dada ketika membaca status atau note luapan kekesalan mereka.

Jika mereka yang berkonflik itu tidak saya terlalu saya kenal, maka dengan mudah saya dapat mengabaikan status dan note itu. Yang jadi masalah adalah jika mereka yang berkonflik adalah orang yang saya kenal. Maka mau tak mau saya harus ikut terlibat dalam permasalahan yang seharusnya antara mereka saja. Kenapa bisa begitu? Karena ketika mereka yang bermasalah ini menuangkan kemarahan mereka, baik dalam bentuk status ataupun note, maka saya yang membaca akan mulai bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Pada siapa ini ditujukan? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang membuat otak saya tak bisa berhenti berpikir dan menganalisa, baik lewat komen-komen yang masuk maupun dengan membongkar-bongkar “rumah” si empunya Facebook. Sungguh suatu hal yang tidak sopan. Tapi untuk itu saya hanya bisa membela diri dengan berkata, “Hei ini facebook. Semua orang bisa membaca apa yang kalian tuliskan. Seharusnya kalian lebih bijaksana dalam menggunakannya.”

Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah, ketika saya pada akhirnya benar-benar terjebak dalam sebuah penilaian subjektif sebagai akibat dari ketidaksopanan saya mencari tahu masalah yang di luar wilayah saya. Ketika saya pada akhirnya memilih MENJUGDE seseorang hanya berdasar hasil pencarian saya, tanpa melakukan cross check pada yang bersangkutan. Sungguh satu hal yang tidak adil bagi orang tersebut. Dan lagi-lagi saya hanya bisa membela diri, dengan berkata “tak seharusnya kalian mengumbar masalah pribadi di facebook”

Terjebak secara tidak langsung dalam konflik seseorang memang sungguh tak menyenangkan. Ibarat tamu yang tak diundang, yang tak tahu harus berbuat apa di rumah orang. Ingin ikut membantu di sana, tapi tak diundang. Ingin pergi dan menjauh, apa daya diri sudah terlanjur masuk ke dalamnya.


NB: Saya juga sering menuliskan catatan bernada emosional di sini, dengan alasan tak ada yang tahu pada siapa catatan itu ditujukan. Saya hanya bisa berharap mereka yang membaca tulisan saya di sini tidak merasa dijebak untuk mengetahui masalah saya.