tetap bertahan

Awal bulan maret yang lalu, saya mendapat telpon dari seorang kenalan pada waktu menjadi pengawas lapangan di tahun 2006. Kakak ini menawari saya untuk bergabung di tempatnya bekerja. Kebetulan tempat kerjanya itu bergerak di bidang kontruksi. Sedang saya sendiri bekerja di bidang konsultansi. Waktu itu dengan tegas saya mengatakan kalau saya belum berminat untuk pindah dari pekerjaan yang sekarang. Pembicaraan pun ditutup.

Lalu selang beberapa hari, ketika sedang asik berbicara dengan 2 rekan kantor seusai jam kerja, saya mengetahui kalau mereka dalam waktu dekat akan mengundurkan diri dari perusahaan. Mereka juga bertanya apakah saya akan mengikuti jejak mereka mengingat kondisi perusahaan memang sudah tidak senyaman dulu lagi. Mendengar itu tiba-tiba otak saya ikut berpikir. Apakah saya akan tetap bertahan di perusahaan ini? Lalu, tanpa pikir panjang saya menghubungi kembali Kakak yang menawari saya pekerjaan untuk menanyakan apakah tawaran itu masih berlaku untuk saya.

Pertanyaan saya disambut dengan baik. Kakak itu mengatakan memang saya sejak dulu diharapkan bisa bergabung di tempatnya bekerja. Saya pun meminta waktu satu bulan untuk membereskan pekerjaan di konsultan.

Lalu, setelah sebulan terlewati saya akhirnya benar-benar pindah? Ternyata yang terjadi saya malah tetap bertahan di kantor sekarang.

Saya juga tak tahu kenapa di detik-detik terakhir saya malah memutuskan untuk tetap bertahan. Padahal saya sudah bernegosiasi dengan Kakak itu dan menanyakan Job Description saya di sana. Dan nyatanya waktu itu saya sangat antusias sekali dengan gambaran yang beliau berikan. Bahkan bisa dikatakan waktu itu 90% saya sudah setuju untuk bergabung di kantornya.

Hari-hari pun berjalan seperti biasa. Secara logika, seharusnya semakin bertambah hari saya semakin yakin dengan keputusan saya. Namun nyatanya, semakin mendekati deadline pengambilan keputusan, saya semakin berat untuk meninggalkan kantor yang sekarang. Setiap kali ditanya mengenai kepastian kepindahan saya, saya hanya bisa berkata, “Liat ntar aja,” Bahkan saking ragunya saya memutuskan hanya akan mengundurkan diri setelah benar-benar pindah.

Puncaknya, tanggal 7 kemarin, setelah 30 hari berpikir keras. Berdoa memohon petunjuk kepada Allah. Saya pun mengambil keputusan. Saya akan bertahan di sini. Di kantor ini. Kembali ke meja kerja saya. Melanjutkan pekerjaan yang awalnya akan saya tinggalkan.

Jikalau ada yang bertanya kenapa saya memilih tetap bertahan, padahal saya sendiri sebenarnya sudah tidak nyaman berada di kantor ini, maka saya pun tak bisa memberikan jawaban pasti. Yang saya bisa katakan hanyalah hati saya berkata untuk bertahan. Karena itulah saya bertahan. Sampai kapan? Entahlah…