(FF) Dipecat

“Wan, kamu disuruh menghadap Pak Sapto tuh,” kata Mirna pada Erwan yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja.

“Ada apa Mir?”, Tanya erwan dengan nada sedikit terkejut.

“Ya mana gue tau. Cepet gih. Kayaknya penting,” Jawab Mirna sembari meninggalkan Erwan di mejanya.

Setelah menyesap kopi yang sudah disediakan Mas Pur di mejanya Erwan pun bergegas menuju ruangan Pak Sapto, bosnya. Dilihatnya beberapa rekan sekantornya berbisik-bisik ketika ia melewatinya. Pemandangan yang membuatnya mulai berprasangka buruk.

“Kenapa bos manggil gue ya?”
“Apa dapat SP karena telat masuk kantor?”
“Perasaan peraturannya setelah 3 kali telat berturut-turut baru dapat SP”
“Lah ini kan gue baru telat hari ini”

Berbagai pikiran buruk mulai menyergapi Erwan. Hingga akhirnya dia sampai di depan ruangan Pak Sapto.

Pelan diketuknya pintu.

“Masuk” terdengar suara dari dalam ruangan.

“Pagi Pak,” Erwan memberikan salam kepada bosnya itu.

Pria berusia 40 tahun itu mendongak dan mempersilakan Erwan duduk dengan isyarat tangannya.

“Erwan, tolong kamu serahkan surat ini sama Slamet dan sekalian kamu ambil gaji kamu sama dia,” tanpa basa-basi Pak Sapto menyerahkan selembar surat yang baru saja ditandatanginya lengkap dengan stempel perusahaan,

“Maksud Bapak?” Dengan kebingungan Erwan menerima surat yang diserahkan padanya.

“Kamu saya pecat.”

“Tapi Pak….apa salah saya?”

“Saya tidak menerima pertanyaan. Sebaiknya kamu segera menemui Slamet dan membereskan meja kamu. “ Serta merta Pak Sapto berdiri, berjalan menuju pintu dan membuka pintunya untuk Erwan.

Dengan lunglai Erwan beranjak dari kursinya. Tepat ketika dia akan membalikkan badannya tanpa sengaja matanya tertuju pada monitor yang terletak di meja kerja Pak Sapto. Dilihatnya layar monitor sedang menampilkan profil dirinya di Facebook. Tanpa membaca pun Erwan tahu tulisan yang sedang ditampilkan di hadapannya.

“seorang pimpinan yang tidak mampu menjadi teladan anak buahnya, masih pantaskah kita bekerja padanya?”

Statusnya 2 hari yang lalu.