Amigurumi dan Flash Fiction yang membuat ketagihan

Beberapa minggu terakhir ini ada 2 hal yang cukup membuat saya, yah katakanlah ketagihan dan lupa waktu juga menelantarkan pekerjaan. Pertama amigurumi, kedua Flash Fiction.

Tentang amigurumi, asal muasal saya berkenalan dengannya adalah ketika saya memulai kembali hobi lama yang sempat terlupakan, yakni merajut. berbekal bantuan dari si mesin pencari, saya yang mulanya hanya berniat mencari pola-pola baru untuk rajutan crochet malah bertemu dengan boneka-boneka mungil nan lucu dan menggemaskan ini. Karena penasaran, akhirnya saya membeli sebuah buku tentang amigurumi ini, lengkap dengan pola untuk membuat beberapa boneka.

Amigurumi sendiri berasal dari jepang. Ami berarti crochet atau knit, dan Nuigurumi berarti boneka. Jadi amigurumi artinya adalah boneka crochet/knitting. Awal membuatnya saya sempat merasa tidak yakin akan berhasil. Maklum amigurumi ini dibuat hanya dengan menggunakan single crochet dan ukurannya ternyata tak seperti yang saya bayangkan. Kecil dan seolah tak sebanding dengan kerumitan yang saya hadapi ketika membuatnya. Tapi nyatanya, setelah berhasil menyelesaikan satu boneka amigurumi, saya malah jadi ketagihan. Padahal untuk menyelesaikan 1 boneka saja saya memerlukan waktu tak kurang dari 4 jam. Jadilah jam tidur saya berkurang karena penasaran ingin mencoba berbagai pola yang saya dapat dari buku maupun internet. Tambahan lagi saya jadi melalaikan beberapa pekerjaan utama saya karena keasyikan bermain benang 🙂

Tapi nyatanya usaha saya ga sia-sia. Yah walaupun hasilnya tak secantik di buku-buku. seenggaknya ketahuan kalo yang saya bikin itu apa..hehehe

Beralih ke ketagihan kedua, yakni Flash Fiction, atau biar gampang saya singkat jadi FF saja. Saya lupa awalnya darimana tau tentang FF ini. Kalo ga salah sih dari sini. Nah sejak saat itu saya mulai tertarik sama FF ini. Cerita singkat yang penggunaan kata-katanya di bawah 500. Kebetulan kemampuan membuat cerpen saya (sok bisa, padahal masih gitu-gitu aja nulisnya.he) sedang benar-benar turun. Padahal saya punya banyak ide yang berseliweran di kepala. Jadi ya daripada idenya menguap kenapa ga saya coba bikin FF saja? pikir saya.

Dan ketika akhirnya FF pertama saya berhasil dituangkan, saya malah jadi ketagihan buat bikin FF. Berbagai macam ide cerita satu per satu mampir di kepala saya. Dan lagi-lagi ini mempengaruhi efektifitas kerja saya di kantor. Soalnya saya lebih banyak mikirin ending buat FF ketimbang ngetik kerjaan saya..he.

Heran juga, kenapa pas giliran mau nulis cerpen idenya ga sebanyak ini ya? Apa karena FF merupakan cerita yang benar-benar singkat sehingga saya tak perlu mengeluarkan banyak energi untuk penggunaan kata-kata dan penyusunan plot? Sehingga ketika 1 FF selesai dibuat, muncul lagi ide untuk FF selanjutnya? entahlah.

yang jelas saya mendapatkan keasyikan tersendiri dalam FF ini. Rasanya ada tantangan tersendiri ketika saya harus menulis sebuah cerita dengan keterbatasan kalimat. Dalam menulisnya juga harus benar-benar diperhatikan agar hasilnya benar-benar berbentuk cerita. Belum lagi dari beberapa FF yang saya rata-rata punya ciri khas ending yang mengejutkan dan tak tertebak. Sulit, tapi menyenangkan. Bahkan sekarang saya sudah ada ide baru buat FF ketiga saya 🙂