(FF) Lamaran

Yah, kayaknya saya mulai ketagihan bikin Flash Fiction deh. Padahal pengennya bikin tulisan yang panjang. Tapi yang muncul di otak malah ide buat FF. Kali ini sudah berhasil bikin yang sedikit lebih banyak dari 100 kata. Duh moga-moga aja yang mampir ga bosan aja bacanya πŸ™‚

Oya kalo mau ngasih kritik boleh banget….

*********************

Aku duduk bersama Damar di taman ini. Di sebuah kursi kecil yang tersedia di seklitar taman. Menikmati pemandangan yang dihamparkan di depan kami. Anak kecil yang bermain ditemani orang tuanya. Pasangan muda-mudi yang menikmati kebersamaan mereka. Pedagang asongan yang menawarkan barang dagangan mereka.

Rasanya seperti bertahun-tahun yang lalu ketika terakhir kali aku dan Damar menghabiskan kebersamaan di taman ini. Satu hal yang kuingat dari pertemuan terakhir kami adalah air mataku yang tumpah di hadapannya.

β€œaku sudah berpisah darinya Ra,” Damar membuka pembicaraan.

β€œLalu?” tanyaku singkat.

β€œAku ingin melamarmu.” Katanya lagi.

Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataan Damar, sembari mataku tertuju pada sebentuk cincin yang melekat di jari manisku.

38 pemikiran pada “(FF) Lamaran

  1. Gemetar di jemariku tak lagi kurasakan. Cuaca sejukpun terasa memanaskan alur parasku. Lunglai rasanya lututku. Bahkan denyut jantungku makin tak terpoles melodi, tak sabar ingin menenangkannya segera.Aheiii so sweet mbak.. ^^

  2. puritama said: Gemetar di jemariku tak lagi kurasakan. Cuaca sejukpun terasa memanaskan alur parasku. Lunglai rasanya lututku. Bahkan denyut jantungku makin tak terpoles melodi, tak sabar ingin menenangkannya segera.Aheiii so sweet mbak.. ^^

    wah wah makasih buat sambungan ceritanya ya ^_^

  3. Gemetar di jemariku tak lagi kurasakan. Cuaca sejukpun terasa memanaskan alur parasku. Lunglai rasanya lututku. Bahkan denyut jantungku makin tak terpoles melodi, tak sabar ingin menenangkannya segera.Aheiii so sweet mbak.. ^^

  4. puritama said: Gemetar di jemariku tak lagi kurasakan. Cuaca sejukpun terasa memanaskan alur parasku. Lunglai rasanya lututku. Bahkan denyut jantungku makin tak terpoles melodi, tak sabar ingin menenangkannya segera.Aheiii so sweet mbak.. ^^

    wah wah makasih buat sambungan ceritanya ya ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s