kerja di konsultan itu banyak duitnya ya?

Beberapa orang, ketika mendengar kata “bekerja di konsultan”, pikirannya akan mengarah ke gaji besar dan banyak proyek. Yah, ga salah sih, memang di sini imej seorang konsultan teknik sipil adalah banyak duit + banyak proyek. Tapi itu hanya tampilan luarnya. Yang sebenarnya?

Secara umum, sebuah konsultan teknik sipil biasanya melingkupi pekerjaan perencanaan dan pengawasan, terutama untuk proyek-proyek pemerintah. Gampangnya, ada proyek, maka konsultan ada kerjaan. Itu pun harus berebut sama konsultan-konsultan lain. Kalo konsultan yang udah gede mah enak, gampang dapat proyek. Lah kalo yang masih setengah gede, harus sering-sering banting harga biar bisa menang lelang. Atau untuk yang masih belajar merangkak, harus rajin-rajin datang ke Dinas buat nyari-nyari proyek PL. Biar nilainya kecil tapi yang penting menghasilkan lah ya…

Trus, gimana soal gaji? Kalo kerjaan konsultan bergantung pada ada tidaknya proyek, gimana kalo proyek belum turun? Secara biasanya proyek pemerintah baru turun 3 bulan setelah tahun berganti. Atau paling parah konsultan itu untuk tahun tersebut dikit banget dapat proyeknya? Gimana cara ngasih makan karyawan?

Disinilah rumitnya bekerja di konsultan. Jika pemilik konsultan adalah orang yang pintar, maka dia tentu memiliki kas cadangan untuk menyiasati bulan-bulan tanpa kerjaan tersebut. Sehingga anak buah tidak perlu merasakan yang namanya, ‘gaji dibayar separo’, atau ‘dirumahkan sementara’, atau yang lebih parah, “uang gaji nunggu dari pencairan proyek’ dan berbagai siasat lainnya yang sering dipakai pemilik konsultan yang mulai berkembang.

Tapi nyatanya dari tidak banyak pemilik konsultan yang memiliki “cadangan kas” seperti ini. Bahkan walaupun uang hasil pencairan yang diperoleh di akhir tahun itu jumlahnya sudah cukup besar. Mereka tetap akan keteteran di 3 bulan berikutnya. Pengeluaran diperketat, anggaran dipangkas, dan gaji dibayar pas-pasan. Belum lagi jika ketemu bos yang bawaaannya marah-marah melulu ketika uang kas habis. Menuntut anak buah untuk mencairkan proyek, seolah-olah karyawan lah yang bertanggung jawab atas pendapatan perusahaan. Hei,,,bukankah tugas kami adalah bekerja, dan tugas pimpinan adalah menggaji hasil jerih payah kami? Lalu kenapa ketika uang kas habis, harus kami yang mencarikan uang gaji kami sendiri?

Trus, gimana dengan cerita bonus akhir tahun? Hmm…selama saya bekerja di konsultan baru 1 kali menerima bonus akhir tahun. Itu pun jumlahnya tak seberapa. Paling cuma bisa buat ganti HP.

So, kalau ada yang berpikiran kerja sebagai konsultan teknik sipil itu banyak duitnya, maka kali ini semoga kalian bisa tau. Kalau statusnya cuma karyawan, yang penghasilan bulanannya adalah dari gaji yang dibagikan perusahaan, yang kalau punya bos baik hati akan menerima bonus akhir tahun, itu pun tak seberapa dibandingkan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Kalaupun ada yang berkata, “Si anu, kerja di konsultan. ga sampai setahun udah bisa ganti motor dan beli laptop baru,” maka kemungkinannya ada 2, dia mengkredit 2 barang itu angsurannya dipotong dari gaji bulanannya, atau dia punya proyek luar kantor yang diusahakannya sendiri, dikerjakan sendiri, dan pada akhirnya tentunya menikmati hasil jerih payahnya sendiri bukan?