meningkatkan kualitas diri melalui karya-karya Salim A. Fillah

Kalo ada yang menanyakan siapa penulis fiksi favorit saya, jujur saya pasti akan bingung sendiri menjawabnya. Selama ini saya jarang sekali mengelompokkan buku koleksi saya ke dalam “deret” penulis favorit. Yang biasanya saya lakukan adalah, mengelompokkan buku-buku tersebut ke jajaran buku-buku favorit, dengan kelebihannya masing-masing. Dan setelah saya perhatikan memang tak ada nama yang dominan untuk novel-novel koleksi saya. Semuanya bercampur antara chiklit, metropop, hingga novel islami.

Lain halnya jika yang ditanyakan adalah penulis non fiksi favorit. Maka akan ada satu nama yang benar-benar mengusai rak buku saya. Dia adalah Salim A. Fillah.

Pertama kali saya “berkenalan” dengan ustad Salim adalah lewat bukunya yang berjudul Agar Bidadari Cemburu Padamu. Sebenarnya tidak ada kesan mendalam ketika saya membaca buku ini. Bahkan waktu itu saya menganggap buku ini agak “keras” untuk ukuran saya. Nyatanya walaupun tidak memberikan kesan yang mendalam saya tidak kapok untuk membaca karya Salim A. Fillah yang lain. Kebetulan waktu itu seorang sahabat berkenan meminjamkan buku Salim yang lain, yakni Gue Never Die. Nah, sejak saat itulah saya mulai jatuh cinta pada gaya menulis ustad Salim, dan mulai berburu buku-bukunya.

Salah satu kelebihan dari buku-buku Salim A. Fillah terletak pada bahasanya. Dengan gaya bertuturnya ustad Salim berhasil menyederhanakan kejadian-kejadian di Sirah Nabawiyah yang terasa sulit dicerna otak saya. Dengan gaya bahasanya pula saya dibuat berkenalan sekaligus penasaran dengan kisah hidup para sahabat Rasul. Kalau beberapa tahun yang lalu saya hanya mengenal 4 khalifah ditambah beberapa nama sahabat yang memang sudah “terkenal”. maka setelah membaca buku-buku Salim A. Fillah saya mulai dikenalkan kepada Mushab bin Umair, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Rawalah, dan beberapa nama lainnya yang cukup sering disebutkan di beberapa buku Ustad Salim. Hal yang kemudian membuat saya ingin “berkenalan” lebih dekat dengan pribadi sahabat-sahabat Rasulullah.

Memang kalo dilihat dari judul-judulnya, buku-buku karya Salim A. Fillah banyak yang terfokus pada masalah pernikahan. Mulai dari Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, hingga Bahagianya Merayakan Cinta. Bahkan di buku Gue Never Die pun tersemat sub judul Kerenkan Dini Trus Nikah Dini. Namun bukan berarti isinya melulu tentang pernikahan. Kalau menurut saya sih, inti dari buku-buku Salim A. Fillah adalah mengenai peningkatan kualitas diri. Mulai dari peningkatan kualitas diri seorang muslimah seperti yang ada di Agar Bidadari Cemburu Padamu, ada juga peningkatan kualitas diri bagi yang jatuh cinta di Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, ppeningkatan kualitas dir bagi yang baru menikah di Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta, hingga peningkatan kualitas diri bagi para pejuang di Jalan Cinta Para Pejuang.

Selain manfaat dan ilmu yang saya peroleh dari karya-karya Salim A. Fillah, saya juga harus mengakui kalau buku-buku karya beliau tak pernah membosankan untuk dinikmati. Bahkan walaupun ada beberapa cerita yang berulang kali dikisahkan di beberapa buku, saya tetap tak pernah bosan membacanya lagi. Dan di tahun 2010 ini Ustad Salim telah menelurkan karyanya kembali yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah. Saya sendiri telah mendaftarkan diri sebagai salah satu yang bisa mendapatkan buku tersebut di awal peredaran 🙂

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka ikut meramaikan kuis dari mba gita lovusa

14 hari di rumahNya

Foto di samping diambil saat saya dan keluarga – minus adik bungsu berangkat umroh pertengahan agustus tahun lalu. Kami berempat terlihat berbeda dengan seragam batik berwarna coklat diantara jamaah yang lain memakai sasirangan biru. Kenapa bisa begitu? Karena kami adalah rombongan yang harus berangkat belakangan karena permasalahan visa.

Jadi ceritanya saya sekeluarga beserta rombongan dari travel akan berangkat dari Banjarmasin pada tanggal 1 Agustus 2009. Namun tepat sehari sebelum keberangkatan kami mendapat kabar kalau ada masalah pada visa adik perempuan saya (yang pake kerudung item). Katanya foto adik saya tidak bisa muncul di dokumen visa. Waktu itu kami diberi 2 pilihan. Kami tetap berangkat bersama rombongan sementara adik perempuan saya berangkat belakangan, atau kami berempat berangkat belakangan. Tentu saja kami memilih opsi ke-2. Mana mungkin kami membiarkan Nisa (nama adik saya) berangkat sendiri. So, setelah memberikan jawaban atas pilihan yang diberikan, akhirnya kami mendapat kepastian akan tanggal keberangkatan kami, 08 Agustus.

Awalnya saya sempat berprasangka buruk dengan ditundanya keberangkatan kami ini. Berbagai ketakutan sempat muncul di benak saya dalam menanti hari keberangkatan itu. Takut ditelantarkan, takut tidak ada yang membimbing, dan berbagai ketakutan lain yang muncul di kepala saya. Tambahan lagi, waktu itu kami dititipkan pada travel lain yang jumlah jamaahnya mencapai 200 orang. Apa iya kami masih bisa keurus dengan jumlah jamaah sebanyak ini? Pikir saya kala itu.

Tapi nyatanya ketakutan saya tak terbukti. Sesampai di bandara King Abdul Aziz kami langsung disambut oleh beberapa orang dari travel. Tanpa harus menunggu lama kami bisa langsung meninggalkan bandara, sementara jamaah lain masih mengantri di bandara. Dan ketika kami terbangun untuk melaksanakan shalat subuh perdana di Masjid Nabawi, ternyata rombongan yang berjumlah 200 orang itu baru tiba di hotel.

Dan untungnya lagi kami juga dipilihkan pembimbing yang sangat baik, yang bernama Pak Wahyu. Kalau rombongan lain 1 pembimbing untuk 20 orang. Maka kami serasa menjadi jamaah eksklusif dengan 1 pembimbing khusus untuk kami berempat. Satu hal yang paling menyenangkan dari Pak Wahyu adalah, beliau dengan senang hati bersedia menemani kami berbelanja oleh-oleh. Baik ketika di Madinah maupun di Mekkah. Hal yang mungkin takkan kami dapatkan jika berangkat bersama rombongan.

Selain berbagai kemudahan yang kami peroleh selama 14 hari berada di tanah suci. Saya juga menyimpan beberapa peristiwa yang benar-benar berkesan di hati saya.

Misalnya ketika saya harus berjalan tanpa alas kaki dari Masjid Nabawi menuju hotel karena sandal jepit yang saya gunakan menghilang entah kemana. Dan ternyata besoknya sandal itu sudah saya temukan kembali.

Lalu ketika kami mengambil Miqat di Tan’im, yang ternyata hari itu dilaksanakan hukuman pancung tepat di lapangan di samping mesjid. Sayangnya (atau untungnya) saya tidak melihat langsung prosesi pemenggalan kepala itu. Padahal waktu itu orang-orang beramai-ramai mendatangi lokasi kejadian.

Ada juga adik saya, yang dilamar oleh salah seorang india ketika berbelanja di salah satu toko kain di sekitar Masjidil Haram.

Dan satu pengalaman tak terlupakan yang merupakan akibat dari lisan saya yang tak terjaga ketika berada di Masjidil Haram, yang tak mungkin saya sebutkan di sini.

Semua yang tertulis di atas adalah pengalaman tak terlupakan saya selama melaksanakan tibadah umroh. Namun Tentunya semua pengalaman itu tak bisa mengalahkan indahnya perasaan saya ketika menunaikan ibadah umroh. Ketika memandang Ka’bah. Ketika melaksanakan tawaf. Ketika air zam-zam membazahi kerongkongan saya. Ketika merasakan bagaimana ibunda Hajar berlari-lari di antara Safa dan Marwah.

Semuanya benar-benar berbekas di hati saya. Menerbitkan kerinduan yang tak terkira untuk kembali ke sana.

(FF) Dipecat

“Wan, kamu disuruh menghadap Pak Sapto tuh,” kata Mirna pada Erwan yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja.

“Ada apa Mir?”, Tanya erwan dengan nada sedikit terkejut.

“Ya mana gue tau. Cepet gih. Kayaknya penting,” Jawab Mirna sembari meninggalkan Erwan di mejanya.

Setelah menyesap kopi yang sudah disediakan Mas Pur di mejanya Erwan pun bergegas menuju ruangan Pak Sapto, bosnya. Dilihatnya beberapa rekan sekantornya berbisik-bisik ketika ia melewatinya. Pemandangan yang membuatnya mulai berprasangka buruk.

“Kenapa bos manggil gue ya?”
“Apa dapat SP karena telat masuk kantor?”
“Perasaan peraturannya setelah 3 kali telat berturut-turut baru dapat SP”
“Lah ini kan gue baru telat hari ini”

Berbagai pikiran buruk mulai menyergapi Erwan. Hingga akhirnya dia sampai di depan ruangan Pak Sapto.

Pelan diketuknya pintu.

“Masuk” terdengar suara dari dalam ruangan.

“Pagi Pak,” Erwan memberikan salam kepada bosnya itu.

Pria berusia 40 tahun itu mendongak dan mempersilakan Erwan duduk dengan isyarat tangannya.

“Erwan, tolong kamu serahkan surat ini sama Slamet dan sekalian kamu ambil gaji kamu sama dia,” tanpa basa-basi Pak Sapto menyerahkan selembar surat yang baru saja ditandatanginya lengkap dengan stempel perusahaan,

“Maksud Bapak?” Dengan kebingungan Erwan menerima surat yang diserahkan padanya.

“Kamu saya pecat.”

“Tapi Pak….apa salah saya?”

“Saya tidak menerima pertanyaan. Sebaiknya kamu segera menemui Slamet dan membereskan meja kamu. “ Serta merta Pak Sapto berdiri, berjalan menuju pintu dan membuka pintunya untuk Erwan.

Dengan lunglai Erwan beranjak dari kursinya. Tepat ketika dia akan membalikkan badannya tanpa sengaja matanya tertuju pada monitor yang terletak di meja kerja Pak Sapto. Dilihatnya layar monitor sedang menampilkan profil dirinya di Facebook. Tanpa membaca pun Erwan tahu tulisan yang sedang ditampilkan di hadapannya.

“seorang pimpinan yang tidak mampu menjadi teladan anak buahnya, masih pantaskah kita bekerja padanya?”

Statusnya 2 hari yang lalu.

Amigurumi dan Flash Fiction yang membuat ketagihan

Beberapa minggu terakhir ini ada 2 hal yang cukup membuat saya, yah katakanlah ketagihan dan lupa waktu juga menelantarkan pekerjaan. Pertama amigurumi, kedua Flash Fiction.

Tentang amigurumi, asal muasal saya berkenalan dengannya adalah ketika saya memulai kembali hobi lama yang sempat terlupakan, yakni merajut. berbekal bantuan dari si mesin pencari, saya yang mulanya hanya berniat mencari pola-pola baru untuk rajutan crochet malah bertemu dengan boneka-boneka mungil nan lucu dan menggemaskan ini. Karena penasaran, akhirnya saya membeli sebuah buku tentang amigurumi ini, lengkap dengan pola untuk membuat beberapa boneka.

Amigurumi sendiri berasal dari jepang. Ami berarti crochet atau knit, dan Nuigurumi berarti boneka. Jadi amigurumi artinya adalah boneka crochet/knitting. Awal membuatnya saya sempat merasa tidak yakin akan berhasil. Maklum amigurumi ini dibuat hanya dengan menggunakan single crochet dan ukurannya ternyata tak seperti yang saya bayangkan. Kecil dan seolah tak sebanding dengan kerumitan yang saya hadapi ketika membuatnya. Tapi nyatanya, setelah berhasil menyelesaikan satu boneka amigurumi, saya malah jadi ketagihan. Padahal untuk menyelesaikan 1 boneka saja saya memerlukan waktu tak kurang dari 4 jam. Jadilah jam tidur saya berkurang karena penasaran ingin mencoba berbagai pola yang saya dapat dari buku maupun internet. Tambahan lagi saya jadi melalaikan beberapa pekerjaan utama saya karena keasyikan bermain benang 🙂

Tapi nyatanya usaha saya ga sia-sia. Yah walaupun hasilnya tak secantik di buku-buku. seenggaknya ketahuan kalo yang saya bikin itu apa..hehehe

Beralih ke ketagihan kedua, yakni Flash Fiction, atau biar gampang saya singkat jadi FF saja. Saya lupa awalnya darimana tau tentang FF ini. Kalo ga salah sih dari sini. Nah sejak saat itu saya mulai tertarik sama FF ini. Cerita singkat yang penggunaan kata-katanya di bawah 500. Kebetulan kemampuan membuat cerpen saya (sok bisa, padahal masih gitu-gitu aja nulisnya.he) sedang benar-benar turun. Padahal saya punya banyak ide yang berseliweran di kepala. Jadi ya daripada idenya menguap kenapa ga saya coba bikin FF saja? pikir saya.

Dan ketika akhirnya FF pertama saya berhasil dituangkan, saya malah jadi ketagihan buat bikin FF. Berbagai macam ide cerita satu per satu mampir di kepala saya. Dan lagi-lagi ini mempengaruhi efektifitas kerja saya di kantor. Soalnya saya lebih banyak mikirin ending buat FF ketimbang ngetik kerjaan saya..he.

Heran juga, kenapa pas giliran mau nulis cerpen idenya ga sebanyak ini ya? Apa karena FF merupakan cerita yang benar-benar singkat sehingga saya tak perlu mengeluarkan banyak energi untuk penggunaan kata-kata dan penyusunan plot? Sehingga ketika 1 FF selesai dibuat, muncul lagi ide untuk FF selanjutnya? entahlah.

yang jelas saya mendapatkan keasyikan tersendiri dalam FF ini. Rasanya ada tantangan tersendiri ketika saya harus menulis sebuah cerita dengan keterbatasan kalimat. Dalam menulisnya juga harus benar-benar diperhatikan agar hasilnya benar-benar berbentuk cerita. Belum lagi dari beberapa FF yang saya rata-rata punya ciri khas ending yang mengejutkan dan tak tertebak. Sulit, tapi menyenangkan. Bahkan sekarang saya sudah ada ide baru buat FF ketiga saya 🙂

(FF) Lamaran

Yah, kayaknya saya mulai ketagihan bikin Flash Fiction deh. Padahal pengennya bikin tulisan yang panjang. Tapi yang muncul di otak malah ide buat FF. Kali ini sudah berhasil bikin yang sedikit lebih banyak dari 100 kata. Duh moga-moga aja yang mampir ga bosan aja bacanya 🙂

Oya kalo mau ngasih kritik boleh banget….

*********************

Aku duduk bersama Damar di taman ini. Di sebuah kursi kecil yang tersedia di seklitar taman. Menikmati pemandangan yang dihamparkan di depan kami. Anak kecil yang bermain ditemani orang tuanya. Pasangan muda-mudi yang menikmati kebersamaan mereka. Pedagang asongan yang menawarkan barang dagangan mereka.

Rasanya seperti bertahun-tahun yang lalu ketika terakhir kali aku dan Damar menghabiskan kebersamaan di taman ini. Satu hal yang kuingat dari pertemuan terakhir kami adalah air mataku yang tumpah di hadapannya.

“aku sudah berpisah darinya Ra,” Damar membuka pembicaraan.

“Lalu?” tanyaku singkat.

“Aku ingin melamarmu.” Katanya lagi.

Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataan Damar, sembari mataku tertuju pada sebentuk cincin yang melekat di jari manisku.