gimana kalo kami beli gambarnya saja?

beberapa waktu yang lalu, kantor kami dapat “job” menyusun perencanan atas pembangunan sebuah kantor milik swasta. Karena pekerjaan ini bukan didapat dari lelang, melainkan dari perusahaan yang dimiliki oleh seorang pimpinan partai, dimana atasan kami adalah anggotanya, maka sistemnya tentu tidak seperti mendapatkan proyek di pemerintahan kan?

nah karena yang memberi tugas ini adalah orang penting, maka demi kepuasan konsumen bergeraklah tim perencana. tim survey dipanggil, setelah survey langsung disambung dengan pekerjaan gambar, dan tentunya perhitungan RAB. padahal kontrak dari pekerjaan ini masih berbentuk draft. dan bos kami adalah orang yang jika berkata, “saya mau kerjaan ini selesai sekarang” itu berarti pekerjaan itu harus selesai hari itu juga, dan dijamin orang yang mengerjakan pekerjaan itu akan diteror habis-habisan dengan pertanyaan, “sudah selesai belum?”

Bu Hani, sebagai estimator dari pekerjaan ini tentunya sudah sangat mengenal sifat bos ini, secara pimpinan kami adalah teman kuliahnya. karena itu beliau untuk menyelesaikan perhitungan RAB pekerjaan ini terpaksa megorbankan waktu istirahatnya. bahkan beberapa hari yang lalu, seharian beliau benar-benar diteror dengan pertanyaan, “sudah selesai bu? rabnya mau dikirim sama gambarnya?” kalau saya kerja begitu bisa ga konsen lagi deh. he

akhirnya perhitungan RAB berikut gambarnya pun dapat diselesaikan hari itu, gambar dan RAB pun di-copy untuk diserahkan kepada owner. RAB senilai hampir 4 M berikut gambar pun diserahkan, berikut biaya atas perencanaan yang telah dikerjakan kantor.

ketika melihat nilai perencanaan yang bernilai di atas 100 juta, maka owner pun berkata, “Pak, gimana kalau kami beli gambarnya saja?”

toeng?

mengapa kita berubah?

beberapa hari yang, lalu saya bertemu dengan salah seorang teman kuliah saya di kantor PU Propinsi. Sebut saja namanya Hadi. Saya sedang menunggu panitia lelang, dan dia tercatat sebagai CPNS di sana.

satu hal yang paling melekat di ingatan saya,dan mungkin juga bagi semua teman-teman kuliah adalah, Hadi merupakan salah satu mahasiswa di angkatan yang paling “dodol.” kelakuannya di masa kuliah cukup membuat orang geleng-geleng kepala. tak pernah serius, dan omongannya kadang sulit dipercaya, walaupun tidak semua hal buruk yang melekat padanya, namun mungkin karena image yang sudah terlanjur melekat membuat orang yang mendengar nama Hadi akan berpikiran sama tentangnya.

namun entah mengapa, ketika bertemu dengannya hari itu saya merasa ada yang berubah dari Hadi. dia tidak lagi urakan, tidak lagi bicara sembarangan dan terlhat lebih dewasa. saya sampai berpikir apakah ini benar-benar Hadi teman saya kuliah dulu?

people change, dan mungkin itulah yang terjadi pada Hadi. dan semua itu tidak terjadi secara instan. berita terakhir yang saya dengar dari Hadi sebelum berita dia lulus PNS adalah berita tentang kelahiran putri pertamanya.

ya, Hadi yang urakan itu menikah tak lama setelah meraih gelar sarjana 2 tahun lalu. Menikah dan punya anak, 2 peristiwa besar itu mungkin menjadi titik tolak perubahan seorang Hadi. walaupun sisa-sisa kegilaan itu masih terlihat dalam pembicaraan kami semalam, tapi sudah ada tanggung jawab di pundaknya. dan itulah yang membuat Hadi menjadi lebih dewasa.