kalsel-ku

Kalimantan Selatan, mendengar nama provinsi ini apa yang pertama kali ada di benak anda?
Kota seribu sungai? Pasar Terapung? Intan? Pengusaha batu bara? Atau Ian Kasela?

Nah untuk kali ini saya mau sedikit bercerita beberapa hal yang cukup identik dengan provinsi kelahiran saya ini.

Kota Seribu Sungai. Julukan ini diberikan untuk ibukota Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Alasannya pertama mungkin karena di kota Banjarmasin terdapat banyak sekali sungai-sungai kecil. Alasan lainnya adalah karena beberapa tahun yang lalu kehidupan di kota Banjarmasin bergantung pada sungai.

Namun seiring dengan semakin meningkatnya pembangunan di kota Banjarmasin, mau tidak mau ada hal yang harus dikorbankan, dan salah satu yang harus dikorbankan itu adalah keberadaan sungai. Sungai yang dulunya lebar lama kelamaan menjadi sempit karena ditimbun untuk pelebaran jalan atau kepentingan pribadi. Sungai di belakang rumah saya dulu bisa dilewati jukung (perahu kecil). Sekarang, dapur rumah ortu dan tetangga seberang sungai cuma berjarak 1 meter. Bahkan ada beberapa sungai yang mati karena diurug. Hal ini menyebabkan kota Banjarmasin tak lagi bisa disebut sebagai Kota Seribu Sungai.

Pasar Terapung. Beberapa tahun lalu RCTI dengan setianya menayangkan kegiatan di Pasar Terapung ini sebagai pengantar logonya. Pasar yang terletak di Muara Kuin ini juga biasanya menjadi sasaran bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota Banjarmasin.

Ian Kasela dan band Radja-nya. Sempat menjadi salah satu band fenomenal di Indonesia. Ian Kasela sukses membuat nama Banjarmasin orang lebih akrab dengan kota Banjarmasin.

Intan dan kota Martapura. Orang-orang luar yang datang ke Kalimantan Selatan dapat dipastikan menyempatkan diri berbelanja batu berlian di kota ini. Bahkan kira-kira 2 tahun yang lalu Martapura dihebohkan dengan penemuan batu intan terbesar yang kemudian diberi nama Putri Malu. Intan yang kemudian dibeli oleh Lihan dengan harga yang fantastis, yang secara otomatis membuat Lihan dikenal sebagai pengusaha sukses banjarmasin. Ironisnya untuk saat ini Lihan malah harus berurusan dengan polisi karena bisnis investasinya yang bermasalah.

Tambang batu bara dan orang kaya. Entah ini berkaitan atau tidak. Namun yang saya tahu, di luar sana, orang banjar dikenal dengan image orang kaya-nya. Tidak salah juga sih kalau orang sampai berpendapat begitu. Katanya nih, pembelian mobil baru di Kalimantan Selatan lebih besar ketimbang di pulau Jawa. Pokoknya kalau ada mobil baru keluar, ga berapa lama mobil itu pasti sudah berlalu lalang di jalanan kota Banjarmasin. Trus juga untuk koleksi mobil mewah, Kalsel termasuk jawaranya juga. Kalau beberapa tahun lalu saya sempat silau banget liat Mazda RX 8 dama Hummer. Sekarang mah udah biasa liat mobil itu berseliweran di jalan.

Satu lagi hal yang membuat orang banjar mendapat image sebagai “orang kaya”. Jumlah jamaah hajinya adalah yang terbesar se-indonesia. Saya jadi ingat percakapan saya dengan seorang jamaah dari Sumatra waktu umroh kemarin. Mereka takjub dengan jumlah jamaah umroh dari Banjarmasin yang mencapai 200 orang. Sedangkan untuk daerah mereka sendiri sangat sulit mengumpulkan jumlah sebanyak itu. Waktu itu bapak itu bahkan sampai bertanya, “Kalian ini orang Banjar kerjanya apa sih? Kok bisa sebanyak ini yang berangkat umroh?” Pertanyaan yang hanya bisa saya jawab dengan senyuman.