bulan mengenangnya…

entah mengapa bulan ini banyak saya habiskan dengan mengenangnya.
mengenang dia yang pernah singgah di hati saya untuk waktu yang lama..
bukan tanpa alasan saya mengenangnya

dia yang telah memberi warna dalam hidup saya
memberi kebahagiaan…menambah rona ceria di wajah saya
namun juga memberi luka…membuat kelenjar air mata saya seolah tak pernah kering dengan air mata
dia yang sempat saya anggap menyempurnakan hidup saya…
namun pada akhirnya membuat hati saya tak sempurna lagi

bulan ini saya lewatkan dengan banyak mengenangnya
karena bulan ini adalah bulan miliknya
bulan kelahirannya…

selamat hari lahir untukmu..
semoga Allah memberkahi sisa umurmu…

Anak kecil jaman sekarang…

Gita sedang berdiri di balik kaca rumahnya. Pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang sedang makan di belakangku. Sesekali kami menggodanya dengan memanggil-manggil nama Deny, cowok yang sedang dipandanginya dengan tatapan penuh cinta. Kalau sudah begitu, Gita pun akan menjerit karena malu. Dan hal itu dilakukan oleh anak berusia kurang dari 4 tahun.

Sebelumnya sang kakak, Anya, juga pernah melakukan hal yang sama. Anya, yang usianya juga belum genap 5 tahun pernah mengekori seorang arsitek Jakarta yang datang ke kantor kami. Dengan lugunya dia berkata kalau dia jatuh cinta pada sang arsitek. Dan jangan salah. Sang arsitek yang dikejar-kejarnya ini memang benar-benar gagah dan keren. Bahkan di mata kami yang notebene sudah jauh lebih besar dari Anya.

Itulah sebagian kisah mengenai Gita dan Anya, putri-putri dari salah satu pemilik saham perusahaan, mereka berdua bisa dibilang sebagai anak impian para ibu-ibu. Terlebih untuk Gina. Wajahnya cantik bak boneka, kulitnya putih bersih, dan bicaranya pun fasih bak anak usia 4 tahun. Seandainya tidak tinggal di Banjarmasin, mungkin Gita bisa menyaingi Baim untuk kategori balita paling menggemaskan.

Tapi yang membuat kami semua tak habis pikir adalah, darimana anak sekecil mereka mengenal kata-kata cinta? Darimana mereka belajar “filrting” pada cowok? Dan darimana mereke belajar menilai kekerenan seorang cowok? Perasaan saya dulu waktu masih seumur mereka cuma ngerti main-main deh. Apakah itu karena pengaruh lingkungannya? Yang mana dikelilingi oleh kami, perempuan-perempuan 20-sekian yang sedang mencari belahan jiwanya? Secara kantor kami memang terletak di samping rumah pribadi keluarga bos. Atau memang anak kecil jaman sekarang sudah lebih cepat dewasa sebelum umurnya?

Dan ketika kami kembali memandang Gita dan Anya, kami pun mulai membayangkan bagaimana repotnya orang tua mereka nantinya. Dua putri cantik yang terlahir bak permata, dan sudah tertarik pada lawan jenis di usia kurang dari 5 tahun. Bagaimana cara menjaganya?

tak lekang oleh waktu

Seputih cinta ini ingin kulukiskan di dasar hatiku
Kesetiaan janjiku untuk pertahankan kasihku padamu
Bukalah mata hati
Ku masih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi
Yang mungkin tak kan pernah membawamu di genggamku

Reff :

Dirimu di hatiku, tak lekang oleh waktu
Meski kau bukan milikku
Intan permata yang tak pudar,
Tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku

Ku coba memahami,
Bimbangnya nurani tuk pastikan semua
Tak akan ku ingkari,
Terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi
Namun tak pernah bisa,
Lenyapkanmu di benakku…

**********

Saya sebenarnya bukan penggemar berat Kerispatih. Antusiasme saya pada lagu-lagu mereka juga biasa-biasa saja. Bahkan saat dulu orang-orang kantor rebutan memakai “Demi Cinta” sebagai RBT maupun ringtone hp mereka, saya adem ayem saja.

Tapi kemudian, ada satu peristiwa yang memaksa saya menyukai beberapa lagu Kerispatih. Dan ternyata setelah didengarkan dengan seksama lagu-lagu mereka memang mempunyai makna yang dalam. terutama untuk Demi Cinta dan Tak Lekang Oleh Waktu ini.

so inilah lagu kedua yang masuk dalam daftar “Gue banget” 🙂

gimana kalo kami beli gambarnya saja?

beberapa waktu yang lalu, kantor kami dapat “job” menyusun perencanan atas pembangunan sebuah kantor milik swasta. Karena pekerjaan ini bukan didapat dari lelang, melainkan dari perusahaan yang dimiliki oleh seorang pimpinan partai, dimana atasan kami adalah anggotanya, maka sistemnya tentu tidak seperti mendapatkan proyek di pemerintahan kan?

nah karena yang memberi tugas ini adalah orang penting, maka demi kepuasan konsumen bergeraklah tim perencana. tim survey dipanggil, setelah survey langsung disambung dengan pekerjaan gambar, dan tentunya perhitungan RAB. padahal kontrak dari pekerjaan ini masih berbentuk draft. dan bos kami adalah orang yang jika berkata, “saya mau kerjaan ini selesai sekarang” itu berarti pekerjaan itu harus selesai hari itu juga, dan dijamin orang yang mengerjakan pekerjaan itu akan diteror habis-habisan dengan pertanyaan, “sudah selesai belum?”

Bu Hani, sebagai estimator dari pekerjaan ini tentunya sudah sangat mengenal sifat bos ini, secara pimpinan kami adalah teman kuliahnya. karena itu beliau untuk menyelesaikan perhitungan RAB pekerjaan ini terpaksa megorbankan waktu istirahatnya. bahkan beberapa hari yang lalu, seharian beliau benar-benar diteror dengan pertanyaan, “sudah selesai bu? rabnya mau dikirim sama gambarnya?” kalau saya kerja begitu bisa ga konsen lagi deh. he

akhirnya perhitungan RAB berikut gambarnya pun dapat diselesaikan hari itu, gambar dan RAB pun di-copy untuk diserahkan kepada owner. RAB senilai hampir 4 M berikut gambar pun diserahkan, berikut biaya atas perencanaan yang telah dikerjakan kantor.

ketika melihat nilai perencanaan yang bernilai di atas 100 juta, maka owner pun berkata, “Pak, gimana kalau kami beli gambarnya saja?”

toeng?

mengapa kita berubah?

beberapa hari yang, lalu saya bertemu dengan salah seorang teman kuliah saya di kantor PU Propinsi. Sebut saja namanya Hadi. Saya sedang menunggu panitia lelang, dan dia tercatat sebagai CPNS di sana.

satu hal yang paling melekat di ingatan saya,dan mungkin juga bagi semua teman-teman kuliah adalah, Hadi merupakan salah satu mahasiswa di angkatan yang paling “dodol.” kelakuannya di masa kuliah cukup membuat orang geleng-geleng kepala. tak pernah serius, dan omongannya kadang sulit dipercaya, walaupun tidak semua hal buruk yang melekat padanya, namun mungkin karena image yang sudah terlanjur melekat membuat orang yang mendengar nama Hadi akan berpikiran sama tentangnya.

namun entah mengapa, ketika bertemu dengannya hari itu saya merasa ada yang berubah dari Hadi. dia tidak lagi urakan, tidak lagi bicara sembarangan dan terlhat lebih dewasa. saya sampai berpikir apakah ini benar-benar Hadi teman saya kuliah dulu?

people change, dan mungkin itulah yang terjadi pada Hadi. dan semua itu tidak terjadi secara instan. berita terakhir yang saya dengar dari Hadi sebelum berita dia lulus PNS adalah berita tentang kelahiran putri pertamanya.

ya, Hadi yang urakan itu menikah tak lama setelah meraih gelar sarjana 2 tahun lalu. Menikah dan punya anak, 2 peristiwa besar itu mungkin menjadi titik tolak perubahan seorang Hadi. walaupun sisa-sisa kegilaan itu masih terlihat dalam pembicaraan kami semalam, tapi sudah ada tanggung jawab di pundaknya. dan itulah yang membuat Hadi menjadi lebih dewasa.