Menyaksikan penyembelihan hewan kurban

Sejak dulu, saya tak pernah memiliki keberanian untuk menyaksikan prosesi pemotongan hewan kurban. Membayangkan melihat para sapi dan kambing tersebut harus disembelih, plus darah yang menggenang setelah pemotongan dilakukan, semuanya cukup untuk membuat saya ngeri. Karena itulah meski dalam beberapa tahun terakhir nama saya kadang termuat sebagai salah satu dari 7 orang yang berkurban untuk seekor sapi (atas dana ortu atau dana sendiri), saya selalu memilih untuk mengirim anggota keluarga lain untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Namun untuk tahun ini, akhirnya saya memberanikan diri untuk melihat langsung prosesi tersebut. Di tempat saya sendiri prosesi pemotongan hewan kurban dilaksanakan pada hari Sabtu, 27 Oktober yang lalu. Dengan diantar oleh adik bungsu, saya pun menuju lokasi penyembelihan yang berada tepat di musholla di depan gang.

Ketika saya tiba di lokasi, sudah ada empat sapi yang disembelih. Seekor sapi tampak saya lihat masih meregang nyawanya. Sementara yang lain sedang dalam proses dikuliti dan dipotong. Sapi saya sendiri rupanya mendapat giliran paling akhir untuk disembelih. Sambil menunggu giliran, saya memperhatikan bagaimana sapi-sapi yang sudah disembelih dikuliti kemudian dipotong-potong anggota badannya. Ini benar-benar pertama kalinya bagi melihat hal tersebut secara langsung.

Tak lama, sapi terakhir pun mendapat giliran. Panitia menyebutkan nama-nama pemilik sapi tersebut. Sapi yang sebelumnya sempat berusaha melarikan diri itu pun kemudian digotong menuju tempat penyembelihan. Saya sendiri sudah sejak beberapa menit sebelumnya berdiri di dekat tempat itu. Beberapa nama yang disebutkan juga sudah berada bersama saya.

Setelah tubuh sapi direbahkan di tempat penyembelihan, maka dimulailah prosesi penyembelihan itu. Sebilah pisau dikeratkan pada bagian leher sapi tersebut. Setelahnya, darah pun mengalir dari leher sapi, dan sapi pun mulai meregang nyawanya. Jujur ini adalah bagian yang paling membuat saya ngeri dan menumbuhkan pertanyaan di kepala saya. Berapa lamakah waktu yang dimiliki sapi tersebut hingga ia benar-benar meninggal? Semoga saja tak lama.

NB: Gambar pinjam dari sini.

About these ads

17 responses

  1. Akhir-akhir ini saya juga nggak tega melihatnya.. Padahal dulu sewaktu kecil saya bahkan ikut memotong2 daging dan membantu menimbangnya

    1. di tempatku juga ada beberapa anak-anak yang ikut bantu-bantu dalam penyembelihan hewan kurban itu.. :)

  2. woah antung sudah berkorban sapi nih..
    daku sih masih patungan.. :D

    1. itu saya juga masih patungan, mba. masih belum sanggup kalo sapi sendiri :D

    2. itu saya juga masih patungan, mba. masih belum sanggup kalo sapi sendiri :D

  3. wah, butuh keberanian lebih ya Mbak…

    semoga diterima Kurbannya ya Mbak…

    1. iya, nih. akhirnya saya berani juga ngeliat langsung. amiinnn. makasih doanya :)

  4. baca judul postingan ini saja saya dah ngeri :(

    1. udah mampir. makasih buat link-nya :)

  5. menguatkan hati untuk melihat penyembelihan itu pun suatu pengorbanan. Meskipun ini sudah hari tasyrik terakhir, perkenankan saya mengucapkan Selamat Idul Adha, mbak Ayana. Boleh nengok link ini….http://drprita1.wordpress.com/2012/10/18/744/

    1. met hari raya idul adha juga, dok. segera meluncur ke link :)

  6. Orang yang lembut hatinya, memang suka tak tega menyaksikan penyembelihan tsb. Tapi hewan tersebut telah terpilih sebagai hewan istimewa

  7. ngeri ya mbak….
    saya pun awalnya begitu, tapi ketika terlibat dalam panitia, akhirnya tidak lagi, apalagi beberapa tahun terakhir ini saya yang diminta menyembelih hewan2 qurban itu, akhirnya dengan bismillah….

    salam kenal ya mbak…

    1. salam kenal juga. makasih udah mampir, ya :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sirajuddin Abraham

Karena Kunjugan Anda,Saya Berterimakasih

syauqiya

Rindu ini, Rindu itu dan Rindu dia... Madinah

tilik bjm

A topnotch WordPress.com site

Nafarin Muhammad Personal Blog

"Hikmah Dari Setiap Sandiwara Kehidupan"

RANA WIJAYA STORE

Anything ART from RanaWijayaSoe

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

The days of Yayang

When Indonesian Garuda meets Dutch Lion

JULIANDA ROSYADI

WRITING HIS-STORY

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 700 pengikut lainnya.